Thursday, May 27, 2010

Seni Menjual

Seorang pemilik toko di kota kecil di daerah Kudus di undang pergi ke kota Surabaya untuk mendengarkan ceramah sales manager yang termasyur tentang Seni Menjual.

Si Pembicara menceritakan kisah yang terkenal tentang seorang wanita di toko gula-gula yang punya pembeli lebih banyak dari pada karyawan toko lainnya.

"Dia memperhatikan bahwa kalau orang membeli satu pon permen dari gadis lainnya," ahli penjualan ini menjelaskan, " mereka akan menaruh permen lebih dari satu pon di atas timbangan, kemudian mengambil permen satu demi satu sampai mendapatkan timbangan tepat satu pon. Tetapi gadis ini menggunakan psikologi. Dia menaruh permen kurang dari satu pon, lalu menambah satu demi satu sampai pas satu pon. Bobot permen itu sama, tetapi besar sekali bedanya bagi pembeli."

Pemilik toko dari kota kecil ini mencamkan pelajaran tersebut dalam hati dan setelah kembali ke tokonya di Salatiga dia berkata kepada isterinya : "Sejak sekarang kalau orang membeli selusin telur, aku ingin kau yang menghitungkan, sebab telur akan kelihatan lebih besar dalam tanganmu yang kecil."

-sumber asli tidak diketahui-

Monday, May 03, 2010

SMP Negeri 139 Jakarta

Tanggal 2 Mei lalu ada kumpul-kumpul bareng alumni dan siswa SMP Negeri 139 Jakarta. Undangan di Facebook berkali-kali datang dan saya kok cuek aja sampai ada temen yang SMS kalau ternyata gedung sekolah kami itu akan dibongkar total dalam waktu dekat ini. Wah, jadi inilah kesempatan terakhir kalau mau melihat gedung sekolah yang lama yang masih terpatri dalam ingatan. Ya, masih banyak memori indah yang tertinggal disitu bahkan dibandingkan masa-masa kuliah ataupun SMA. Jadi, saya batalkan semua rencana lain dihari minggu 2 Mei itu, and datang bawa pasukan rumah menyerbu sekolah SMP 139.
Dari rumah Slipi menuju rumah Bokap-Nyokap di jalan Red Rose atau Mawar Merah, Perumnas Klender dan parkir kendaraan disana. Trus jalan kaki menyusuri jalan yang dulu selama 3 tahun saya lalui sehari-hari menuju sekolah. Wah, ternyata sudah banyak sekali yang berubah. Saya memang sudah lama sekali gak keliling daerah sana, hmm...

Sampai didepan gedung sekolah, suasananya terasa sudah berubah. Saya memang hanya dua atau tiga kali saja masuk kesana kembali setelah lulus dari sekolah itu ditahun 1987. Kembali lagi masuk dihalaman sekolah kok kesannya sempit ya...dulu sepertinya luas sekali untuk kami bermain-main disana. Sekilas melihat halaman sekolah yang sudah ramai dengan para alumni hari itu, saya langsung menuju ruang kelas saya yang terakhir dulu, kelas 3A yang letaknya diujung sebelum ruang serba guna tempat saya juga ikut latihan Karate Lemkari dojo SMP 139 dengan guru karate bapak Bilal Daulay yang juga guru Bahasa Inggris kami.
Saya dan pasukan rumah beringsut-ingsut kearah kelas melawan kepadatan pengunjung hari itu. Sampai dipintu kelas, saya terhenyak memandang kedalam melihat situasinya...
Ya, sekolah kami itu memang sudah sangat tidak layak. Sangat menyedihkan!
Saya sangat terluka membayangkan kami sedang belajar atau bermain-main diruangan kelas itu, betapa gembiranya...
Saya meraba-raba dinding kelas, bangku atau kursi yang berdebu, menatap langit-langitnya yang sudah jebol sebagian sehingga terlihat genteng dan kayu-kayunya yang sudah dimakan rayap.
Disitulah dulu kami sama-sama menyanyi satu lagu dipelajaran seni musik dengan ketukan tangan, kaki dilantai, pulpen dikaca, buku ke-meja, dsb menyatu dengan suara nyanyian anak-anak sekelas sehingga menjadi lagu terindah yang pernah saya dengar sepanjang hidup sampai kini.
Saya tidak menyangka kalau saya pernah belajar dikelas yang sudah sedemikian bobrok itu!
Dari kelas 3A, kemudian saya beringsut ke kelas sebelah 3B dan ke kelas-kelas lainnya juga yang kondisinya ternyata tidak jauh berbeda...
Akhirnya ketemu deh dengan sesama alumni angkatan 87 lainnya. Saling bersalaman dan bertegur sapa walaupun sudah tidak tahu lagi nama masing-masing, hehe...
Tapi diantaranya ada yang masih saya kenal. Tidak berapa lama, datang bapak-bapak dengan rambut sudah banyak yang memutih dengan gaya nyentrik yang langsung akrab dengan para alumni. Saya pikir sesama alumni juga, eh ternyata itu adalah bapak Bilal Daulay guru Bahasa Inggris kami dulu dan juga guru karate pemegang sabuk Dan 2 di kegiatan ekstra kurikuler.
Kami langsung akrab dan bercerita memori masing-masing, juga kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan sekarang. Ternyata pak Bilal sudah tidak mengajar disitu lagi, beliau sekarang mengajar film disalah satu sekolah film di Jakarta. Wah, kok banting setir begitu jauh pak?
Saya kerja untuk cari duit, dimana yang bisa kasih lebih, saya pilih itu! Begitu seloroh beliau...
Tapi kan di film adalah sesuatu yang lain...harus berjiwa seni?!
Saya tidak suka seni! Film is industry! Mulai deh kita berdebat...
Menurut beliau, sekarang ini mencari uang bisa dari bidang apa saja. Jangan jadi pekerja keras, tetapi jadilah pekerja cerdas!
Pekerja keras hanya dibayar UMR (Upah Minimum Regional), tapi pekerja cerdas bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak. Beliau kasih contoh ditempatnya mengajar film, juga dipelajari fotografi (sambil melihat kamera DSLR saya). Yang dipelajari adalah teknologi fotografi terkini dan kegunaannya. Dengan pengetahuan teknologi fotografi bisa dihasilkan output yang diminta klien dan menghasilkan uang. Menurut beliau muridnya belajar fotografi 6 bulan saja sudah banyak yang bisa menghasilkan uang. Coba jadi sarjana, belajar susah payah, setelah lulus juga bekerja susah payah, eh hanya dibayar UMR!
Luar biasa memang bapak guru yang satu ini, kami semua kembali seperti muridnya dulu yang menyimak sambil manggut-manggut terkagum-kagum.
Pak Bilal pengetahuannya memang relatif lebih luas, setelah saya pancing bahwa dulu beliau pernah belajar di Kanada, langsung disambar bahwa beliau 2 tahun di Kanada, kemudian setelah resign dari SMP 139 beliau pernah berkesempatan belajar dan tinggal di Inggris selama 2 tahun, juga selama 4 tahun di Australia. Ya, Beliaulah guru Bahasa Inggris kami dulu...
Setelah pak Bilal pamit, saya melanjutkan diskusi kecil dengan teman-teman disitu mengenai apa yang dikatakan pak Bilal tadi. Ternyata disitu ada dua orang para pekerja seni, Lidya Hakim dan si Yuli.
Yuli bercerita bahwa dia juga pernah melanglang buana ke negara-negara Eropa Timur selama 3 bulan, juga ke Mesir dan lainnya dari pekerjaan menari atau teater seni mewakili Indonesia di dunia internasional. Ya, saya tahu memang cewek yang satu ini menyukai seni teater dari dulu (Yuli dan saya satu sekolah kembali di SMA), dan dia betul-betul terjun kebidang yang disukainya itu.
Saya bilang, kamu beruntung Yul, kesukaanmu - hobi kamu bisa menghasilkan uang dan kepuasan batin, kamu pasti happy...
Saya juga sebetulnya sangat menyukai seni atau design. Tapi saya tidak punya keberanian seperti Yuli, dan memaksakan cita-cita sebagai insinyur yang ternyata betul seperti pak Bilal katakan "harus bekerja keras dan cuma dapat UMR!".
O ya, sebetulnya juga saya sangat senang kalau mengajar lho... jadi dosen dan berinteraksi dengan para mahasiswa.
Seandainya waktu bisa diputar kembali...

Puas mengobrol dengan teman-teman lama, saya lihat dikejauhan ada Mang Karna.
Menghampiri dan ambil fotonya. Mang Karna tidak seperti dulu lagi, minimal sudah berkurang lah, hehe... mungkin karena sudah berumur juga?!
Saya wawancara sedikit ke Mang Karna mengenai nasib sekolah itu nantinya. Menurut beliau, sekolah itu akan dirobohkan tidak lama lagi dan akan dibangun 4 lantai (belakangan dari ibu Fauziah guru bahasa Indonesia kami dulu, saya tahu bahwa sekolah itu harus sudah kosong per tanggal 10 Mei 2010 ini dan dibongkar untuk dibangun kembali).
Mang Karna bercerita bahwa sekolah itu dibangun pada tahun 1977 sampai dengan 1978, dan angkatan pertama yang lulus adalah di tahun 1980. Beliau sendiri mulai bergabung disekolah itu sebagai penjaga sekolah (sampai sekarang) sejak tahun 1978. Minggu depan akan datang alat-alat berat, buldozer dan semacamnya untuk merobohkan semua bangunan disekolah ini katanya. Rencananya selama 1 tahun sekolah ini dalam masa pembangunan gedung baru, dan para murid diungsikan kebeberapa sekolah sekitar untuk belajar.
Selamat tinggal kenangan lama disekolah SMP-ku dulu...

Memasuki halaman sekolah.

Spanduk dari alumni angkatan 87.


Kelas terakhir saya dulu, 3A.

Dinding penyekat kelas itu pernah roboh setelah saya dibanting Agus Setiawan saat bermain-main, dimana saat yang bersamaan di kelas sebelah bapak Saripin Simanjuntak (SS) sedang mengajar dikelas sebelah. Saya jatuh tepat dihadapan pak SS yang angker itu... (baca "Reuni SMP 139 Jakarta" diposting saya terdahulu).




Kondisi kelas sangat menyedihkan, seperti topi sekolah yang sudah berdebu ini...




Diruangan ini dulu pak Bilal mengajar Karate.










Pak Bilal didepan no. 2 dari kiri dan teman-teman lainnya yang saya sendiri sudah tidak hafal nama-namanya semua.

Dian - Pak Bilal Daulay - Lidya Hakim


Ada acara band dan bazaar.


Pameran foto. Yang menjaga stand adalah para ibu guru, tapi saya sudah gak tahu lagi namanya...Saya beli foto dibawah ini yang ada foto pak Saripin Simanjuntak guru matematika kami yang terkenal itu... (pak SS paling kanan yang berkumis tebal).




Ibu Fauziah, guru Bahasa Indonesia (paling kanan berkerudung) memanggil-manggil saya minta untuk difoto (karena saya bawa kamera DSLR). Saya tadinya tidak tahu kalau itu ibu Fauziah, bahkan setelah beliau mengenalkan diri bahwa beliau guru; ibu Fauziah.
Setelah sejenak merenung diam, perlahan-lahan memori saya kembali ke ibu guru Bahasa Indonesia kami itu. Sori bu, saya juga sudah tua, hehe...


Mang Karna dan ekspresinya...
SMP Negeri 139 berada di jalan Bunga Rampai Raya. Gang-gang ini sering saya lalui saat berangkat dan pulang sekolah sehari-hari.

Friday, April 30, 2010

Lemparan Batu

Disuatu pagi seorang pengusaha dengan tergesa-gesa mengendarai Jaguarnya keluar dari areal parkir. Sesaat ia melihat didepan ada seorang anak kecil sedang berdiri melambaikan tangan padanya, namun ia mengabaikannya dan terus melajukan Jaguarnya dengan sedikit lebih cepat, namun tiba-tiba saat kendaraannya melewati anak tadi ia mendengar suara hantaman yg agak keras di tepi pintu belakang Jaguarnya seperti suara timpukan batu.

Dengan emosi ia memundurkan Jaguarnya lalu berhenti dan keluar. Sambil memegang erat tangan si anak kecil itu lalu berteriak "Apa yang kau lakukan huh?, mengapa kamu melempar batu ke mobilku, apa masalahmu?, tahu tidak mobilku sekarang penyok dan harga perbaikannya akan sangat mahal!"
"Maaf pak...maaf, saya tidak tahu lagi apa yang perlu saya perbuat”, isak anak itu terbata bata. Sambil menunjuk ke suatu tempat di areal parkir itu ia berkata "Di sana ada kakak-ku, tadi kami terserempet mobil dan kakak-ku jatuh terjerembab dari kursi rodanya, ia tidak bisa ku angkat dan tidak ada orang yang mau menghentikan kendaraannya untuk membantu mengangkatnya. Jadi terpaksa aku melemparkan batu ke mobil bapak dengan harapan bapak akan berhenti, maaf pak bukan maksud saya sengaja membuat mobil bapak jadi penyok" jawab anak itu masih dengan terisak-isak karena menangis.
Mendengar jawaban anak itu si pengusaha bergegas menuju tempat kakak anak kecil itu dan membantunya untuk duduk di kursi rodanya, sekilas ia melihat anak yang cacat itu ternyata juga menderita down syndrom. Segera si pengusaha mengeluarkan saputangannya untuk membersihakan luka pada dahi anak tersebut.
"Terima kasih pak, sekarang bagaimana mengenai mobil bapak, apa yang harus saya perbuat?"

Dengan perasaan tidak enak si pengusaha itu hanya berkata "Sudah lupakan saja, sekarang bawa pulang kakakmu ini, ia butuh istirahat".
"Terimakasih pak, Tuhan memberkati bapak" jawab anak itu sambil mendorong kakaknya pulang.
Si pengusaha lalu pergi dan membiarkan penyok di Jaguarnya untuk mengingatkannya akan satu pesan; "dalam menjalani hidup jangan melaju terlalu cepat, agar jangan sampai seseorang harus melemparkan batu terlebih dulu untuk mendapatkan perhatian kita".

Saturday, April 24, 2010

13..13...13..

Di sebuah rumah sakit, terdapat satu ruangan kosong ...gelap..tak berpenghuni.
Tiba-tiba Joko melewati ruangan tersebut...
Terdengar suara aneh, yang menyebut angka 13.
"13....13.....13" suara dari ruangan tersebut.
"...suara apa tuh..?" tanya Joko.
Joko pun memberanikan diri utk melihat.
Kebetulan ada satu lubang kecil, cocok sekali untuk mengintip.
Sambil menahan rasa takut akhirnya Joko pun mengintip dari lubang tersebut.
tiba-tiba...



Sebuah kayu tepat menyolok mata Joko, kontan Joko teriak..."aaaaaarrgghhhhhh........."
Suara dari ruangan tersebut berubah menjadi...
"14....14...14...."

Friday, April 09, 2010

Ali's Nest

Singapore - How low can you go..??
Banyak orang beranggapan cukup 2~3 hari saja untuk menjelajahi seluruh sudut kota Singapura yang kecil itu. Tidak perlu menghabiskan waktu dan juga biaya untuk tinggal lebih lama disana untuk sekedar "tahu" Singapura. Menurut saya hal itu salah!
Kunjungan kami kali ini sama dengan waktu pertama kali kami on vacation kesana 2 tahun yang lalu, yaitu 5 hari 4 malam, dan itu ternyata belumlah cukup! Banyak sekali spot-spot wisata yang dikemas dengan baik dan patut dikunjungi disana. Juga untuk mendapatkan nuance kehidupan sehari-hari di Singapura tentulah waktu 2~3 hari tidak cukup.
Walaupun masih dalam angan-angan, tapi saya ada sedikit pengharapan untuk anak-anak supaya bisa menuntut ilmu dinegeri seberang yang modern itu untuk kehidupan yang lebih baik dibandingkan ortunya yang sudah saya anggap gagal ini, hehe...
Sambil berwisata, hunting foto, juga mengenalkan secara langsung (orang Jepang bilangnya Genba Genbutsu) kota modern dan teratur Singapura dan menanamkan ke anak-anak sejak dini contoh kehidupan sehari-hari yang lebih baik dibandingkan tempat tinggalnya sekarang, supaya mereka bercita-cita setinggi langit untuk bisa menggapainya, amiiin.
Jadi, ya harus dikunjungi! Dilihat sendiri, dirasakan sendiri, dan tertanam dengan sendirinya.
Hmm, pasti saya kaum "the have" yang tidak pusing urusan sekolahin anak-anak sampai ke LN. Ah, enggak lah. Saya cuma pegawai swasta rendahan yang mikirin bayar ini bayar itu sehari-hari saja sudah pusing tujuh keliling!
Anak-anak kalau ingin sekolah di LN, ya harus dapat full scholarship, kalau enggak dari mana duit babenya, emangnya koruptor! Yang penting basicnya dibangun dengan baik, dan cita-citanya dipicu sejak dini. Kedepannya ya tergantung nasiblah, hehe...
Kalau sekedar bawa jalan-jalan ke Singapura, ya masih mampulah...hmm ya masih "the have" dong..?!
Ah, ya enggak lah...
Ok, sekarang coba deh simak damage cost yang kami keluarkan untuk menikmati liburan kami ber-4 selama 5 hari 4 malam di Singapura, dan coba mereka-reka level kami di Jakarta? :-)

Kami dapat tiket murah Air Asia hampir 1 tahun lalu (Mei 2009) untuk terbang di akhir Maret 2010, cost ber-4 return ticket Jakarta-Singapore-Jakarta adalah Rp 1.470.000,-

Saat berangkat, Singapore Dollar yang dibawa adalah sgd 730 saja dan masih tersisa sgd 220 saat kembali di rumah. Berarti habis sebanyak sgd 510, atau dengan rate sgd 1 = Rp 6.515 (saat beli) = Rp 3.322.650,-
Ini sudah bayar penginapan, makan-minum dan beli jajanan selama disana, transport bus dan MRT (kami lumayan banyak naik turun MRT maupun bus, EZ link cardnya aja sampai di top up 2x masing-masing sgd 10), masuk Singapore Zoo, beli pendant lamp di IKEA, and beli-beli souvenir termasuk CD music lagu India.

Airport tax Soekarno-Hatta untuk ber-4 Rp 600 rb.
Dan ongkos taksi dari rumah ke bandara Soekarno-Hata PP asumsikan saja Rp 200 rb.
Total general damage cost liburan kami adalah Rp 5.592.650,- (all in, no hidden cost).
Bagaimana??

Sama seperti kota-kota di Jepang, Singapura adalah juga salah satu kota dengan predikat high living cost di dunia. Tapi, sama juga seperti di Jepang yang pernah saya jelajahi, bila ada kemauan, keinginan, dan mental mencari, ada saja yang murah-murah disana.
Biaya paling besar adalah untuk tempat tinggal atau penginapan.
Tapi percaya atau tidak, kami ber-4 menginap di salah satu penginapan backpackers disana dengan rate sgd 40 (sekitar Rp 260 rb) sudah termasuk b'fast roti, kopi, dan atau teh hangat.
Kami menginap di Ali's Nest.
Mungkin ini yang termurah diseluruh Singapura untuk biaya penginapan satu keluarga 4 orang sudah plus b'fast. Silahkan dibuktikan.
Jangan berharap Ali's Nest seperti hotel pada umumnya. Mungkin di Jakarta lebih mirip dengan tempat kos-kosan berdinding tripleks berlantai papan kayu, kasur tanpa dipan alias digelar dibawah dengan sharing bathroom yang sederhana. Tapi kamar yang kami tempati dilengkapi air conditioner alias AC dan yang terpenting adalah BERSIH!
Memang sudah typical orang Singapura yang identik dengan kebersihan, berarti kalau ada ditemui yang uncommon disana mengenai kebersihan, nah itu pastilah ulahnya pendatang! hehe...

Kembali ke Ali's Nest, si Ali pemiliknya sudah mengelola tempat ini untuk penginapan para backpackers dari sekitar 5 tahun lalu, dan kebanyakan tamunya adalah western people.
Pada saat kami datang, kami disambut oleh aunty (maminya si Ali) yang tidak bisa berbahasa inggris. Jadi dengan bahasa mandarinnya, kami saling menyapa tanpa kami mengerti satu sama lain... ya si Ali adalah orang Chinese yang ramah sama seperti maminya itu. Karena saling tidak mengerti, akhirnya maminya si Ali teriak keras sekali sampai kami kaget bukan kepalang memanggil si Ali yang sedang berada diatas.
Si Ali turun dan welcoming kami dan segera menggiring kami ke kamar yang sudah disediakan sebelumnya. Saya minta MamiLukas yang mengecek kondisi kamarnya di lantai 3. Saat kembali melapor kesaya, dengan muka kecut dan mental ciut cuma bisa berbisik "kok gak seperti penginapan? lihat sendiri deh!" hehe...
Memang ada harga ada barang. Yang saya tanya cuma satu; bersih gak? Bersih! Ya sudah...
Sebelum booking, saya sudah googling cari tahu mengenai kondisi Ali's Nest dan pendapat para backpackers yang pernah menginap disini. Jadi sedikit banyak saya sudah tahu gambarannya, dan saya tidak mendapatkan tempat yang lebih murah lagi untuk kami ber-4 selain di Ali's Nest. Thank you Ali...

Ali's Nest adalah penginapan backpackers yang sangat murah di daerah Little India. Letaknya sangat strategis lho, hanya sekitar 70 m dari gate-F MRT Farrer Park. Sangat dekat dengan Mustafa Center swalayan serba ada (betul-betul serba ada!) yang buka 24 jam itu. Dikelola oleh si Ali, orang Chinese dan keluarganya juga tinggal ditempat itu bersama-sama para tamu backpackersnya. Sangat unik! Saya justru ingin merasakan nuance kehidupan real sehari-hari penduduk Singapore apa adanya, hal yang akan sulit didapat bila kita menginap di hotel beneran yang mahal itu di Singapore.
Lagipula, kita kan kesana untuk berwisata, bukan untuk tidur-tiduran di hotel. Jadi, dari pagi sampai malam kita ada diluar, datang kembali untuk mandi dan langsung tidur karena sudah kecapaian. So, enjoy aja lah... O ya, menurut si Ali, rumahnya itu sudah berumur seratus tahun lebih lho...!
Pagi hari, di meja makan Ali's Nest, sambil sarapan kita bisa ngobrol-ngobrol dengan para backpackers yang lain untuk saling bertukar pengalaman. Seru kan...?! Kalau mau browsing juga ada PC 2 unit dibawah dengan rate sgd 2 per jamnya, sama dengan rate rental internetan disekitarnya.
O ya, awalnya si MamiLukas sepertinya sudah illfeel untuk liburan sekarat seperti ini begitu masuk ke Ali's Nest, tapi saya yakinkan dia; memang hampir gak ada orang Indonesia yang menginap disini, tapi bule banyak!! Dan memang betul, kamilah family travellers orang Indonesia pertama yang menginap disini, wow, PERTAMAX gan...kata orang kaskus, hehe...

Aneh ya, para bule yang notabene lebih wealthy dari pada orang Indonesia, bisa memanage seperti itu dan tidak berkeberatan berlibur dengan menginap di backpackers hostel murah meriah seperti Ali's Nest ini. Sementara orang Indonesia kebanyakan lebih memilih di hotel seperti si Gayus Tambunan pegawai pajak si koruptor itu yang menginap di hotel Mandarin Meritus di daerah Orchard dengan rate termurah disana sgd 320 semalamnya.
Saya bayar sgd 160 untuk 4 malam di Ali's Nest, sekali lagi untuk kami ber-4 termasuk sarapan, kopi, teh manis sepuasnya!


Bandara Changi, terminal 1 untuk budget airline.

Dari terminal 1 naik monorel ke terminal 2 untuk kemudian naik MRT (subway) ke tengah kota. Semua bawa gembolannya masing-masing, alias backpackers.

Ruang tamu Ali's Nest, ini seperti dirumah orang Singapur beneran!

Kamar kami menginap.

Tangga ke upstair agak curam, cuma ini yang kami khawatirkan.

Bathroomnya pakai shower.

Jemuran si Ali.

Ini si Big Uncle pemegang paspor Belanda. Dengan potongannya seperti itu, dia suka nakut-nakutin (becandain) anak-anak, tapi anak-anak ternyata didn't care tuh, hehe...
Malah setelah dia sendiri yang cerita bahwa Belanda pernah menjajah Indonesia, trus gw kasih tahu orang Indonesia mengusirnya dulu pakai bambu runcing (versus gun) dia bergumam poor Dutch, trus nanya kalau dia mau ke Indonesia kira-kira bakalan dipersulit atau "dikerjain" gak? haha....

Si cowok bule dari Belgium, dia "cycling" keliling dunia. Pernah ke Danau Toba, Sulawesi, Jogja, Lombok dan Bali.
Si cewek bule dari Perancis, dimeja makan itu lagi ngomongin pasangan "English" yang sama-sama tidur di dorm (1 kamar ber-8 atau ber-10 dengan tempat tidur tingkat/bunk bed). Si cewek Englishnya punya penyakit sinusitis, jadi gak bisa kena kipas angin ataupun AC, so malam itu kepanasanlah mereka semua dikamar itu gara-gara si cewek English, haha...
Kalau saya sih mikirnya kok seperti dibesar-besarkan ya..? Memang dasarnya orang Perancis dan orang Inggris itu gak bisa akur aja dari dulu! hehe...


Suasana di depan Ali's Nest.

Dibelakang Ali's Nest, si Aunty sering duduk disini setelah menyapu halaman belakang.


Difoto dari lantai 3.

Selama di Singapura, makanan termurah yang kami beli seporsinya sgd 2, dengan 2 jenis sayur dan 1 jenis lauk, kenyuaang!


Kedai di daerah Little India.






Rumah-rumah di daerah Little india.

To be continued...