Showing posts with label Reuni SMP 139 Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Reuni SMP 139 Jakarta. Show all posts

Monday, May 03, 2010

SMP Negeri 139 Jakarta

Tanggal 2 Mei lalu ada kumpul-kumpul bareng alumni dan siswa SMP Negeri 139 Jakarta. Undangan di Facebook berkali-kali datang dan saya kok cuek aja sampai ada temen yang SMS kalau ternyata gedung sekolah kami itu akan dibongkar total dalam waktu dekat ini. Wah, jadi inilah kesempatan terakhir kalau mau melihat gedung sekolah yang lama yang masih terpatri dalam ingatan. Ya, masih banyak memori indah yang tertinggal disitu bahkan dibandingkan masa-masa kuliah ataupun SMA. Jadi, saya batalkan semua rencana lain dihari minggu 2 Mei itu, and datang bawa pasukan rumah menyerbu sekolah SMP 139.
Dari rumah Slipi menuju rumah Bokap-Nyokap di jalan Red Rose atau Mawar Merah, Perumnas Klender dan parkir kendaraan disana. Trus jalan kaki menyusuri jalan yang dulu selama 3 tahun saya lalui sehari-hari menuju sekolah. Wah, ternyata sudah banyak sekali yang berubah. Saya memang sudah lama sekali gak keliling daerah sana, hmm...

Sampai didepan gedung sekolah, suasananya terasa sudah berubah. Saya memang hanya dua atau tiga kali saja masuk kesana kembali setelah lulus dari sekolah itu ditahun 1987. Kembali lagi masuk dihalaman sekolah kok kesannya sempit ya...dulu sepertinya luas sekali untuk kami bermain-main disana. Sekilas melihat halaman sekolah yang sudah ramai dengan para alumni hari itu, saya langsung menuju ruang kelas saya yang terakhir dulu, kelas 3A yang letaknya diujung sebelum ruang serba guna tempat saya juga ikut latihan Karate Lemkari dojo SMP 139 dengan guru karate bapak Bilal Daulay yang juga guru Bahasa Inggris kami.
Saya dan pasukan rumah beringsut-ingsut kearah kelas melawan kepadatan pengunjung hari itu. Sampai dipintu kelas, saya terhenyak memandang kedalam melihat situasinya...
Ya, sekolah kami itu memang sudah sangat tidak layak. Sangat menyedihkan!
Saya sangat terluka membayangkan kami sedang belajar atau bermain-main diruangan kelas itu, betapa gembiranya...
Saya meraba-raba dinding kelas, bangku atau kursi yang berdebu, menatap langit-langitnya yang sudah jebol sebagian sehingga terlihat genteng dan kayu-kayunya yang sudah dimakan rayap.
Disitulah dulu kami sama-sama menyanyi satu lagu dipelajaran seni musik dengan ketukan tangan, kaki dilantai, pulpen dikaca, buku ke-meja, dsb menyatu dengan suara nyanyian anak-anak sekelas sehingga menjadi lagu terindah yang pernah saya dengar sepanjang hidup sampai kini.
Saya tidak menyangka kalau saya pernah belajar dikelas yang sudah sedemikian bobrok itu!
Dari kelas 3A, kemudian saya beringsut ke kelas sebelah 3B dan ke kelas-kelas lainnya juga yang kondisinya ternyata tidak jauh berbeda...
Akhirnya ketemu deh dengan sesama alumni angkatan 87 lainnya. Saling bersalaman dan bertegur sapa walaupun sudah tidak tahu lagi nama masing-masing, hehe...
Tapi diantaranya ada yang masih saya kenal. Tidak berapa lama, datang bapak-bapak dengan rambut sudah banyak yang memutih dengan gaya nyentrik yang langsung akrab dengan para alumni. Saya pikir sesama alumni juga, eh ternyata itu adalah bapak Bilal Daulay guru Bahasa Inggris kami dulu dan juga guru karate pemegang sabuk Dan 2 di kegiatan ekstra kurikuler.
Kami langsung akrab dan bercerita memori masing-masing, juga kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan sekarang. Ternyata pak Bilal sudah tidak mengajar disitu lagi, beliau sekarang mengajar film disalah satu sekolah film di Jakarta. Wah, kok banting setir begitu jauh pak?
Saya kerja untuk cari duit, dimana yang bisa kasih lebih, saya pilih itu! Begitu seloroh beliau...
Tapi kan di film adalah sesuatu yang lain...harus berjiwa seni?!
Saya tidak suka seni! Film is industry! Mulai deh kita berdebat...
Menurut beliau, sekarang ini mencari uang bisa dari bidang apa saja. Jangan jadi pekerja keras, tetapi jadilah pekerja cerdas!
Pekerja keras hanya dibayar UMR (Upah Minimum Regional), tapi pekerja cerdas bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak. Beliau kasih contoh ditempatnya mengajar film, juga dipelajari fotografi (sambil melihat kamera DSLR saya). Yang dipelajari adalah teknologi fotografi terkini dan kegunaannya. Dengan pengetahuan teknologi fotografi bisa dihasilkan output yang diminta klien dan menghasilkan uang. Menurut beliau muridnya belajar fotografi 6 bulan saja sudah banyak yang bisa menghasilkan uang. Coba jadi sarjana, belajar susah payah, setelah lulus juga bekerja susah payah, eh hanya dibayar UMR!
Luar biasa memang bapak guru yang satu ini, kami semua kembali seperti muridnya dulu yang menyimak sambil manggut-manggut terkagum-kagum.
Pak Bilal pengetahuannya memang relatif lebih luas, setelah saya pancing bahwa dulu beliau pernah belajar di Kanada, langsung disambar bahwa beliau 2 tahun di Kanada, kemudian setelah resign dari SMP 139 beliau pernah berkesempatan belajar dan tinggal di Inggris selama 2 tahun, juga selama 4 tahun di Australia. Ya, Beliaulah guru Bahasa Inggris kami dulu...
Setelah pak Bilal pamit, saya melanjutkan diskusi kecil dengan teman-teman disitu mengenai apa yang dikatakan pak Bilal tadi. Ternyata disitu ada dua orang para pekerja seni, Lidya Hakim dan si Yuli.
Yuli bercerita bahwa dia juga pernah melanglang buana ke negara-negara Eropa Timur selama 3 bulan, juga ke Mesir dan lainnya dari pekerjaan menari atau teater seni mewakili Indonesia di dunia internasional. Ya, saya tahu memang cewek yang satu ini menyukai seni teater dari dulu (Yuli dan saya satu sekolah kembali di SMA), dan dia betul-betul terjun kebidang yang disukainya itu.
Saya bilang, kamu beruntung Yul, kesukaanmu - hobi kamu bisa menghasilkan uang dan kepuasan batin, kamu pasti happy...
Saya juga sebetulnya sangat menyukai seni atau design. Tapi saya tidak punya keberanian seperti Yuli, dan memaksakan cita-cita sebagai insinyur yang ternyata betul seperti pak Bilal katakan "harus bekerja keras dan cuma dapat UMR!".
O ya, sebetulnya juga saya sangat senang kalau mengajar lho... jadi dosen dan berinteraksi dengan para mahasiswa.
Seandainya waktu bisa diputar kembali...

Puas mengobrol dengan teman-teman lama, saya lihat dikejauhan ada Mang Karna.
Menghampiri dan ambil fotonya. Mang Karna tidak seperti dulu lagi, minimal sudah berkurang lah, hehe... mungkin karena sudah berumur juga?!
Saya wawancara sedikit ke Mang Karna mengenai nasib sekolah itu nantinya. Menurut beliau, sekolah itu akan dirobohkan tidak lama lagi dan akan dibangun 4 lantai (belakangan dari ibu Fauziah guru bahasa Indonesia kami dulu, saya tahu bahwa sekolah itu harus sudah kosong per tanggal 10 Mei 2010 ini dan dibongkar untuk dibangun kembali).
Mang Karna bercerita bahwa sekolah itu dibangun pada tahun 1977 sampai dengan 1978, dan angkatan pertama yang lulus adalah di tahun 1980. Beliau sendiri mulai bergabung disekolah itu sebagai penjaga sekolah (sampai sekarang) sejak tahun 1978. Minggu depan akan datang alat-alat berat, buldozer dan semacamnya untuk merobohkan semua bangunan disekolah ini katanya. Rencananya selama 1 tahun sekolah ini dalam masa pembangunan gedung baru, dan para murid diungsikan kebeberapa sekolah sekitar untuk belajar.
Selamat tinggal kenangan lama disekolah SMP-ku dulu...

Memasuki halaman sekolah.

Spanduk dari alumni angkatan 87.


Kelas terakhir saya dulu, 3A.

Dinding penyekat kelas itu pernah roboh setelah saya dibanting Agus Setiawan saat bermain-main, dimana saat yang bersamaan di kelas sebelah bapak Saripin Simanjuntak (SS) sedang mengajar dikelas sebelah. Saya jatuh tepat dihadapan pak SS yang angker itu... (baca "Reuni SMP 139 Jakarta" diposting saya terdahulu).




Kondisi kelas sangat menyedihkan, seperti topi sekolah yang sudah berdebu ini...




Diruangan ini dulu pak Bilal mengajar Karate.










Pak Bilal didepan no. 2 dari kiri dan teman-teman lainnya yang saya sendiri sudah tidak hafal nama-namanya semua.

Dian - Pak Bilal Daulay - Lidya Hakim


Ada acara band dan bazaar.


Pameran foto. Yang menjaga stand adalah para ibu guru, tapi saya sudah gak tahu lagi namanya...Saya beli foto dibawah ini yang ada foto pak Saripin Simanjuntak guru matematika kami yang terkenal itu... (pak SS paling kanan yang berkumis tebal).




Ibu Fauziah, guru Bahasa Indonesia (paling kanan berkerudung) memanggil-manggil saya minta untuk difoto (karena saya bawa kamera DSLR). Saya tadinya tidak tahu kalau itu ibu Fauziah, bahkan setelah beliau mengenalkan diri bahwa beliau guru; ibu Fauziah.
Setelah sejenak merenung diam, perlahan-lahan memori saya kembali ke ibu guru Bahasa Indonesia kami itu. Sori bu, saya juga sudah tua, hehe...


Mang Karna dan ekspresinya...
SMP Negeri 139 berada di jalan Bunga Rampai Raya. Gang-gang ini sering saya lalui saat berangkat dan pulang sekolah sehari-hari.

Sunday, June 14, 2009

Reuni SMP 139 Jakarta

14 Juni 2009, ada reuni akbar SMP 139 (toegalan - satoe tiga sembilan) Jakarta. Mungkin ini reuni akbar yang pertama dari SMP saya dulu. Dari angkatan lulus 1983~2008 dikumpulkan di gedung gelanggang remaja Jakarta Timur - Youth Center. Saya, angkatan lulus 1987, bersama teman-teman seangkatan lainnya hari itu bertemu kangen, mungkin ada sekitar 60 orang (seangkatan). Selesai acara digedung, masih belum puas, lanjut lagi ngumpul makan sore di Bakso Golek Dewi Sartika. Hmm, yah, lumayan juga flash back ke masa-masa masih pake celana kutung dulu. Bertegur sapa, berakrab ria, walaupun gak tahu lagi namanya siapa...?! Yah, sambil bersalaman sambil sebut nama masing-masing lah...
Ada juga yang wajahnya gak berubah, begitu-gitu aja...kok bisa ya? Ada yang dulunya gede, kok sekarang jadi menciut, gedean gw..?!

Buat saya, masa-masa sekolah di SMP lebih berkesan dibanding masa sekolah lainnya. Ya, sepertinya begitu...gak tau kenapa..
Sekolah kami adalah sekolah negeri yang cukup sederhana di kawasan Perumnas Klender di Jakarta Timur, tepatnya di Jl. Bunga Rampai X. Walaupun sederhana, banyak sekali memori yang terekam disekolah ini yang hingga sekarang sulit untuk dilupakan.
Dulu, menjelang akhir masa sekolah, mungkin kelas 2 atau kelas 3, kami bersahabat sangat kental 4 orang; Saya, Rio Zakaria Intan, Agus Setiawan (Landung), dan Denny Wahyu Haryanto (2 yang terakhir alumni STPDN dan jadi lurah dan camat di Jakarta). Kemana-mana diluar jam belajar sekolah, kami isi waktu kami dengan bersepeda BMX, baca novel 5 sekawan, trio detektif, hardy boys, agatha christy, kho ping hoo (cerita silat), bahkan sampai sidney sheldon. Markas kami di rumah neneknya Rio, di Jl. Delima V Gg. 7 - Perumanas Klender. Rumah biasanya kosong, jadi tempat kami baca-baca novel dan berleha-leha sehabis main sepeda.

Beberapa kenangan yang gak bisa terlupa; sewaktu saya dibanting Agus (bercanda) sampai terpelanting menjebol dinding penyekat ruangan kelas (3A-3B). Saya tepat jatuh dibawah kaki Pak SS (Saripin Simanjuntak) guru Matematika kami yang sedang mengajar di kelas sebelah (3B). Tak terbayangkan apa yang terjadi kalo anak itu bukan "saya". Dulu, Pak SS terkenal guru paling galak, sangar, suaranya khas logat Batak yang bisa bikin jantung murid-murid dag-dig-dug (apalagi kalau beliau menunjuk satu anak untuk mengerjakan soal didepan), sangat disegani! Kalau lagi ulangan, beliau suka naikan kursinya diatas meja, pakai kaca mata rayben gelap sehingga anak-anak gak tahu matanya mengarah kemana (atau mungkin tidur?), cukup eksentrik! Begitulah, apa yang terjadi kalau anak itu bukan "saya"? Tapi semua tahu kalau saya adalah murid kesayangan beliau. Saya selalu mendapat nilai baik untuk Matematika. Saya selalu murid paling terakhir yang diminta maju kedepan mengerjakan soal bila yang lain sudah menyerah. Saya tidak segan kepada beliau untuk urusan Matematika! Pernah satu ketika, saya mengoreksi kesalahan beliau; satu soal hasil ulangan saya dinyatakan fault, tapi saya gak puas dan coba utak-atik lagi. Hasilnya, saya protes keras dikelas ke beliau. Bahas soal sama-sama, dan saya yang benar. Efeknya, beliau harus mengoreksi nilai seluruh kelas karena itu soal pilihan berganda yang distate jawaban yang salah oleh beliau. Dulu, pak SS biasa panggil saya si "Ogut" karena setiap kali saya tunjuk tangan untuk mengerjakan soal kedepan, saya selalu bilang "Ogut pak...!!" O ya, NEM Matematika saya juga yang tertinggi disekolah waktu itu loh, kalo gak salah 9,64 dan beliau puas. Sayang pak SS tidak hadir di reuni akbar hari itu, khabarnya terserang stroke.

Hal lain yang selalu teringat adalah ketika pelajaran seni musik, bu guru mengajak kelas menyanyikan satu lagu nasional. Dimulai dari ketukan dari meja bu guru, sampai secara spontan seluruh kelas ikut-ikutan mengetuk-ngetukan sesuatu mengikuti irama lagu. Ada yang ke meja, ke lantai, tepukan tangan, ke kaca, dsb. Hal yang luar biasa, sungguh irama ketukan anak-anak satu kelas itu berpadu dalam harmoni yang sangat pas sekali bersama lagu yang kami nyanyikan!! Itu pertunjukkan live music yang paling indah yang pernah saya dengar seumur hidup sampai saat ini, unbelievable, unforgetable.
Bicara soal musik waktu SMP dulu, kami empat sekawan adalah penggila The Beatles. Hampir semua koleksi lagu The Beatles kami punya, juga buku lyrics dan chord guitarnya. Dalam hal ini si Rio yang paling "gila". Banyak lagu-lagu The Beatles yang dia hapal, dan menurut saya suaranya juga lumayan OK lah. Dia juga pintar main harmonika. Si Rio sering bawa harmonika ke sekolah dan suka "show up" sebisa-bisanya. Saya agak lupa, sepertinya saya dan Rio pernah nyanyi lagu The Beatles didepan kelas saat pelajaran seni musik. Saya main gitar, Rio harmonika. Twist n' Shout.....!!!

Disepanjang tahun saya kelas satu, mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau saya berjualan koran keliling, ya masih diseputaran Perumnas Klender juga. Awalnya hanya iseng-iseng aja, tapi eh keterusan sampai satu tahun penuh (berhenti berjualan karena naik kelas dan harus masuk sekolah di pagi hari). Setiap hari, saya bangun pk. 5 pagi, kembali kerumah paling cepat jam 9 pagi, kadang sampai molor hingga jam 11:30 siang mendekati jam masuk sekolah (kelas satu waktu itu masuk siang hari). Begitu terus full 7 hari dalam seminggu. Kenangan yang gak bisa dilupa waktu itu, hmm...saat saya bawa sepeda pulang kerumah hasil jerih payah sendiri (beli sepedanya juga sendiri..) n' juga beli meja belajar yang keren sekali waktu itu, hasil keringat sendiri! Bayar iuran sekolah dan segala tetek bengeknya sendiri full 1 tahun. Belum lagi kasih uang ke ortu buat belanja sayur setiap hari, ah itu sih klise lah... :-)
Yang saya ingat, ada teman cewek dari kelas lain yang tahu kalau saya berjualan koran, dan dia bersimpati trus bilang ke ortunya supaya mereka berlangganan koran ke saya. Yah, cewek itu salah satu langganan saya yang setia, mereka berlangganan bulanan. Saya mengantar koran kerumahnya setiap pagi, dan saya selalu konsisten lho! Sepertinya tidak pernah saya bolos mengantar koran di sepanjang tahun itu.
Koran...koran...poskota...kompas...sinar pagi...koran...hehe...
Satu lagi yang saya ingat saat masih berjualan koran dulu; saat pelajaran menggambar (gurunya pak Joko kribo), tema pelajaran waktu itu adalah garis proyeksi. Saya menggambar dirumah, mendapatkan ide dari salah satu majalah yang saya jual, saya menggambar garis proyeksi yang membentuk ruangan kamar lengkap dengan segala kelengkapan dan accessories.nya yang mewah (gorden, meja, kursi, lampu hias, patung, dsb), memang saya ambil dari foto satu ruangan hotel mewah dimajalah. Hasilnya, saya dapat point 10, ya... 10 (s e p u l u h) sodara-sodara...dan gambar saya itu dipajang cukup lama di mading (majalah dinding) sekolah waktu itu!

Di kelas 2 (2H), kami juga jagoan main sepak bola. Seluruh kelas seangkatan (8 kelas) takluk! Bahkan beberapa kelas diatas juga bernasib yang sama. Kami selalu menang taruhan yang hasilnya buat sekedar beli minuman dan gorengan. Saya kipernya! Selalu...

Memasuki kelas 3, saya ingat tiap hari berangkat sekolah selalu berbarengan dengan Denny WH karena rumah kami berdekatan. Yang juga tak terlupakan, ada cewek adik kelas kami yang juga berjalan satu arah di rute yang sama menuju sekolah setiap pagi. Nah, masalahnya cewek ini, sebut saja miss "M", orangnya sangat pemalu sekali. Maklum, dari suku Jawa tulen yang masih berpegang pada aturan keratonan kayaknya sih..., setiap pagi selalu kami berpapasan jalan, dan kami selalu mensetup sedemikian rupa sehingga kami selalu berjalan dibelakangnya. Nah, kalau sudah masuk "perangkap", kami jaga jarak yang selalu sama mengikuti langkahnya yang kelihatan gusar. Berjalan dibelakang sambil ngobrol keras-keras atau menjejakkan kaki keras-keras seperti batalyon berkuda. Miss "M", pasti makin kikuk dan semakin gusar, mempercepat langkahnya jadi seakan-akan berlari, hehe...kami selalu mengikuti irama dan tidak pernah ketinggalan langkahnya! Sapa sangka memasuki SMA, saya jadi jatuh hati sama teman karibnya yang manis dan cantik, berkacamata, yang juga sama-sama dari suku Jawa yang kelakuannya hampir sama seperti miss "M" ini...capek deh... (Miss "M", teman karibnya, dan saya satu sekolah lagi di SMA). NB: saya juga sebetulnya sangat pemalu, apalagi kalau berhadapan sama cewek pada waktu itu... :-))
Jadi, para pembaca yang budiman...su tau too lagu apa yang selalu saya nyanyikan di masa-masa SMA:
Can't you see
I love you
Please don't break my heart in two
That's not hard to do
'Cause I don't have a wooden heart...
And if you say goodbye
Then I know that I would cry
Maybe I would die
'Cause I don't have a wooden heart...
There's no strings upon this love of mine
It was always you from the start...
Treat me nice
Treat me good
Treat me like you really should
'Cause I'm not made of wood
And I don't have a wooden heart...
(Wooden Heart - Elvis Presley)

Hu..hu...hu...huaaaaaa.... :-))

O ya, begitu lulus SMP, baru beberapa hari masuk SMA, ada lho yang kasih surat cinta ke saya...sapa ya? Saya menjulukinya "Thumbelina". Sapa dia...??! Hehe...ternyata di SMP ada juga yang diam-diam gak bisa tidur mikirin saya...
Hmm, puas juga mengeksplor memori semasa SMP lagi...terima kasih panitia...

Halim ditengah, Yahya "kumis" disebelah kiri Halim





Guru-guru SMP 139


Hikmawati



Nining

Lydia, wajahnya juga gak banyak berubah...awet!



Kepala sekolah dulu, Bpk Soenarto

Nuning





Katherine (yang pake topi)..?

Lho...?!


Maesaroh, masih tomboy


Bang Karna, penjaga sekolah yang "terkenal" itu...


Dian (ditengah), Hikmah (dikanan)

Yang pake kerudung no.3 dari kanan itu Holly "si rambut kuncir". Beda ya..?!


Pak Drajat, guru Elektronika


Rio Zakaria Intan