Friday, July 15, 2011

Hongkong Trip

Warning:
Tulisan dibawah ini cukup panjang. Lebih baik di skip aja, jumping langsung ke foto-fotonya... :-)

* * * *

Yeah, akhirnya kami backpacking-an juga ke kota dengan julukan "the world's tallest city" itu, Hongkong...!! Hongkong adalah kota dengan gedung-gedung pencakar langit terbanyak didunia. Nomor 2-nya adalah New York.

Seminggu sebelum berangkat saja adrenalin terasa sudah merambah ke seluruh pembuluh vena di badan ini, membuat jakun jadi naik turun gak karuan, hehe... apa coba...?Yup, inilah tantangan kami yang terbesar untuk family adventure backpacking ke LN.
Selama 12 hari dari mulai berangkat sampai pulang kembali kerumah harus dilalui. Gimana ya anak-anak...? Mampukah mereka? Bagaimana kalau mereka sakit..? Berapa uang harus dibawa? Kemana saja selama itu? Berapa banyak pakaian harus disiapkan? Duh, asyiknya kalau adrenalin sudah menjalar seperti itu...

Apa sih yang membuat sedemikian heboh begitu? Biasa aja kan..?! Halah cuma ke Hongkong aja kok...!
Hmm, ya kalo hepeng (uang)-nya gak berseri, dicabut gak habis-habis.. tenang-tenang aja lah... nothing's to be worried.!! Everythings would be allright, money talk..!
Hehe... buat kami jelas worried lah, wong uangnya juga gak sampai dua seri kok...
So, jadi harus bagaimana? Ya enjoy aja lah, life will find the way...
Tetap semangaat... tetap backpacking... horeee....!!

Kami dapat tiket promo lagi dari Air Asia untuk trip kali ini, 27 Juni ~ 8 Juli, 2011, dengan rute Jkt-KL-Macau-KL-Jkt seharga Rp 2,2 juta untuk 4 orang return ticket. Ya, kali ini kami akan berpetualang medley di 3 kota; Hongkong-Macau-dan KL dalam 12 hari itu. Semua kota yang disebutkan itu bebas visa ya untuk pemegang paspor Indonesia. Jadi langsung datang aja, cap paspor, dan go adventure deh...
Setelah hitung-hitung valuenya, akhirnya bisa berjalan juga sesuai rencana: 7 hari 6 malam di Hongkong, 2 hari 1 malam di Macau, dan 3 hari 2 malam di Kuala Lumpur.
Satu kali saya ngobrol sama TKI kita di Hongkong, mereka terperanjat saya bisa dapat tiket semurah itu. Mereka biasanya harus bayar paling murah seharga HKD 3.500 untuk return ticket HK-Jkt-HK. Itu artinya kan hampir Rp 4jt untuk 1 orang..!

Sebelum berangkat, cukup lama juga saya litbang di om google cari-cari penginapan yang murah di Hongkong dan Macau. Gak ada yang murah ya...!!
Pilihan akhirnya jatuh ke Mei-Mei Motel didaerah Mongkok, Kowloon - Hongkong. Ratenya HKD 360 (1 HKD=Rp 1.120) semalam untuk 1 room yang berisi 1 double bed dan 1 single bed. Ya cukuplah untuk kami ber-4. Oya, rate permalam tersebut dikasih Mei-Mei kalo kita ambil stay lebih dari 5 malam ya...
Itu sudah yang termurah yang bisa saya dapat. Kalau mau ambil kamar yang bunk bed pun dihostel lain, yang termurah ya sekitar Rp 120rb/bunk bed-nya. Jadi kalau ber-4 berapa?

Mei-Mei Motel is not bad lah... Walaupun kamarnya super sempit (konon di Hongkong umumnya seperti itu), kamar mandinya ada didalam kamar. Ada free wifi. Tempatnya bersih, aman, gak berisik, dan strategis..! Berada di gedung Sincere House, Argyle Street, persis diseberang ujungnya jalan Ladies Market. Ya, Ladies Market tempat belanja flea market yang terkenal itu...
Ke MTR Mongkok cuma berjalan sekitar 100m saja! Turun dari Motel juga sudah ada bus stop, oya juga toko-toko handphone dan epad. Sekitar 75m, ada pasar Fa Yuen Street Market, dan gak jauh dari pasar Fa Yuen ada goldfish market, flower market, dan Yuen Po Street Bird Garden. Ketiganya yang disebut belakangan ini juga masuk dalam spot wisata things to do/attraction yang ada di Kowloon dari Hongkong Tourism Board lho...

Makanan banyak dimana-mana... Kalau mau ekstrem murah, sekalian aja beli makanan di pasar Fa Yuen. Daging 'B' panggang setengah kilo cuma HKD 20, di Jakarta bisa-bisa 3 kali lipatnya kan..?! Makanan halal juga ada dipasar Fa Yuen itu. Dilantai 2 ada warung Indonesia yang jualan sembako dan makanan lain juga seperti soto ayam, nasi rames, dsb.
Di pasar itu sering kami temui para pahlawan devisa yang berbelanja di pagi hari. Warung Indonesia itupun kami tahu dari mereka. Kalau anda punya tampang melayu, bila bertemu mereka pasti akan saling menatap...ini orang Indonesia bukan ya... Mereka akan mendengar kita berbicara, dan selanjutnya keakraban itu akan muncul dengan sendirinya, hehe...

Karena dekat dari Motel, hari ke-2, ke-3, dst, saya suruh Mami Lukas ke pasar itu untuk beli-beli makanan, biasanya untuk sarapan pagi. Beberapa kali belanja diwarung itu tanpa basa basi, mungkin para TKI itu sudah mulai menatap sinis ke Mami Lukas; anak baru ini sombong beneer ya...!! hehe...
Memang, sebisa mungkin dimanapun ditempat asing kami berada, pasar tradisional selalu menjadi bidikan. Itu hal yang paling mudah untuk mencari items yang unik-unik tapi cukup murah terutama makanannya, selain juga untuk mengkomparasi harga kebutuhan sehari-hari... Itu satu tips ya...

Kembali ke Mei-Mei Motel, sepertinya ini guesthouse yang relatif baru menurut saya. Tempatnya masih rapih, belum kumal walaupun berada di gedung kumal Sincere House itu. Ya, Sincere House sebetulnya adalah gedung apartemen yang sudah cukup lama sepertinya. Kalau dari luar, gedungnya terlihat sudah kusam. Yah, tapi gedung-gedung lainnya (apartemen), disekitar situ memang gak terlalu berbeda kondisinya. Kusam...! Mungkin daerah Mongkok merupakan daerah pemukiman pencakar langit yang pertama dibangun di Kowloon dulunya. Walau terlihat kusam diluar, tapi didalamnya belum tentu lho... pemilik masing-masing flat disitu sudah banyak yang merenovasinya. Kemudian juga banyak yang beralih fungsi bukan saja menjadi tempat tinggal, tapi juga ada yang menjadi cafe, restoran, boxing camp, pub, studio music, salon, hotel, dsb.

Mei Mei, si pemilik motel adalah emak-emak chinese yang sudah setengah baya. Rambutnya curly, kira-kira postur dan tampangnya mirip-mirip Susan Boyle dari British got Talent, hehe...
Reviewnya sih dia agak cerewet dan gak bisa berbahasa Inggris. Yup, kira-kira itu gak sepenuhnya salah. :-) Tapi menurut saya dia cukup baik kok dan perhatian sama anak-anak. Saya sih cukup memaklumi kekhawatiran dia mengenai tamu-tamunya. Biasalah, apalagi culture-nya orang Indonesia, kalau sudah bayar, jadi merasa bisa seenak udelnya aja kan...
Kalau keluar, AC & listrik gak dimatikan, mungkin juga TV masih dalam kondisi hidup. Pemanas air di kamar mandi gak dimatikan. Kamar kotor, buang sampah serampangan...Handuk dijadikan kain pel atau keset kaki. Yah, hal-hal seperti itulah yang kira-kira ingin dia sampaikan ke tamunya untuk tidak dilakukan, ngoceh terus dengan bahasa mandarinnya. Kami sama-sama tersenyum setelah satu hal dia sampaikan. Untuk meyakinkan dia kalau kita mengerti, ya tinggal mengangguk-angguk saja sambil bilang okay...okay... hehe...

Yang jelas, semua yang dikatakannya itu adalah benar. Saya pribadi sejak dulu journey/trip kemanapun, di motel/hotel kelas apapun selalu berusaha menjaga hal seperti itu. Bagaimanapun itu adalah kamar yang kita tempati sementara ini, so jagalah kebersihannya, paling tidak kita berempati sama yang membersihkannya. Listrik, air dipakai seperlunya. Kalau tidak mereka akan sulit bertahan dengan rate murah, sehingga menaikkan harga. Kan kita juga para backpacker mania ini yang susah jadinya... Nantinya akan sulit mencari penginapan yang murah di LN... Tolong camkan itu ya!! hehe...

Kemarin itu kami masuk ke Hongkong dari Macau. Kami dapat penerbangan malam dari Jakarta ke KL, kemudian menginap semalam dibandara dan besok paginya berangkat lagi ke Macau. Pesawat take off tepat jam 7 pagi dan landing di Macau pukul 10:15 (kira-kira 3 jam 15 menit perjalanan). Tidak ada perbedaan waktu antara KL dan Macau ataupun Hongkong. Jadi waktu Jakarta dibanding ke-3 kota itu adalah 1 jam lebih maju. Kalau di Jakarta pukul 10 pagi, artinya di Hongkong sudah pukul 11 pagi.

Sampai di bandara Macau, kami tukar dulu beberapa RM (Ringgit Malaysia) ke MOP (Macau Patacca, mata uangnya Macau) seperlunya saja untuk naik bus nanti ke pier. Oya, kalau punya recehan HKD (Hongkong Dollar) juga sebetulnya bisa. HKD bisa digunakan sebagai mata uang di Macau, tapi sebaliknya MOP gak bisa digunakan di Hongkong ya...!! Ratenya terhadap rupiah hampir sama saja untuk keduanya. Jadi sebaiknya pegang HKD saja, jangan banyak tukar MOP. Kami sih sebetulnya tukar MOP juga karena ingin koleksi mata uangnya.

Keluar dibandara, kami naik bus no. AP1 menuju ke ferry pier yang ke Hongkong. Ongkosnya kami kasih aja MOP 10 untuk ber-4 dari airport ke pier. Sebetulnya, ongkosnya adalah MOP 4 untuk 1 orang dewasa, dan juga bagasi besar dihitung sebagai 1 orang penumpang lho. Tapi kami cuek aja kasih MOP 10 itu, setelah sebelumnya kita show off tanya-tanya pakai bahasa Inggris ke sopir kalau kita minta diturunkan di pier yang ada ferry-nya menuju ke Hongkong.
Yup, supirnya gak bisa bahasa Inggris! Penumpang yang lain yang kasih tau kalau bus ini nanti akan melewati pier, so don't worry katanya... Itu tips ke-2 ya, kalau nilainya tidak signifikan, sopir biasanya akan diam saja dari pada repot harus buka kamus English, hehe...
Masalahnya kita harus punya uang pas untuk bayar bus. Kalau kami ber-4 harus bayar MOP 15, bayar pakai pecahan MOP 20 tidak akan ada kembaliannya. Harus uang pas. Jadi kasih aja nilai MOP yang lebih kecil, MOP 10. Di Macau, Hongkong, Jepang, Singapore, dan sekarang juga di Kuala Lumpur, kalau naik bus bayar cash ya begitu... harus pakai uang pas, langsung dimasukkan ke kotak uangnya. Kalau tidak sopir gak akan kasih kembaliannya.

Oya, sebetulnya bisa gratis lho dari bandara ke pier di Macau. Caranya; dari bandara naik aja bus gratisan dari hotel-hotel berbintang yang ada di Macau. Hampir semua hotel-hotel berbintang di Macau menyediakan transportasi bus gratis dari hotel ke bandara atau dari hotel ke ferry pier (jangan salah ya; ada 2 pier/pelabuhan --> yang ke HK dan yang ke China Mainland). Jadi dari bandara menuju hotel (yang banyak busnya sih hotel Venetian). Trus dari hotel naik lagi bus hotel yang gratis itu menuju ke pier (tapi harus pindah bus). So, gratis kan...?!

Kenapa kami gak pakai metode itu? Karena makan waktu..lama! Bawa tas juga berat, blom lagi anak-anak... Dengan bus AP1, bayar MOP 10 (sekitar Rp 11rb), kami ber-4 sukses sampai ke pier dengan cepat.
Pukul 11:45 kami sampai di Macau Pier. Schedule berikutnya jam 12:00 ferry sudah harus berangkat ke Hongkong. Wah, buru-buru deh... kan harus antri imigrasi lagi untuk cap paspor di pier ini.

Sebelum mengambil tiket, kita harus menetapkan dulu tujuan kita di Hongkong. Ada 3 tempat pelabuhan yang berbeda disana, yaitu: Tsim Sha Tsui di Kowloon, Sun Tak Centre di Hongkong Island, dan Tuen Mun di New Territories. Lihat peta.

Karena kami menginap di Mei-Mei Motel di Mongkok-Kowloon, maka kami ambil ke jurusan Tsim Sha Tsui-Kowloon. Yang termurah kami ambil operator ferry dari First Ferry (ada beberapa operator ferry). Tiketnya sama antara dewasa ataupun anak-anak; HKD 158 untuk sekali jalan. Perhatikan jadwal/time tablenya, karena harga tiket malam berbeda harganya (lebih mahal). Juga harga tiket sebaliknya dari Tsim Sha Tsui (TST) ke Macau berbeda, lebih murah; HKD 151 sekali jalan untuk rate siang hari.

Perjalanan dari Macau ke Hongkong atau sebaliknya ditempuh dalam waktu hanya 1 jam saja. Ferry-nya cukup cepat melaju diatas laut. Saya perhatikan badan kapal sepertinya tidak menyentuh air, hanya bagian belakangnya saja yang berada di laut. Ngebut sekali...! Penumpangnya mungkin bisa mencapai 100 orang lebih lho...
Kondisi ferry didalam cukup bersih. Ada warungnya juga yang menjual makanan atau minuman ringan. Gak terlalu banyak guncangan-guncangan di dalam ferry, bisa tidurlah selama diperjalanannya.

Sampai di Tsim Sha Tsui, ferry pier langsung nyambung ke mal di Gateway tower 2. Jadi kita langsung masuk mal. Kami makan siang di mal itu dengan porsi yang cukup besar dengan lauknya juga yang lumayan banyak seharga HKD 27/porsi. Saya pikir cukup murah lah... Ini didalam mal ya, nasinya banyak, sayurnya berlimpah, lauknya pun cukup banyak. Saya lupa nama restorannya, tapi yang pasti tempatnya begitu keluar (sudah didalam mal), belok kiri, kira-kira 20 meteran disebelah kanan ada food court. Nah kalau kita menghadap ke foodcourt itu, restorannya ada diujung depan mentok (yang paling ramai).

Habis makan siang, setelah tanya-tanya gimana menuju ke Sincere House, Argyle Street tempat Mei-Mei Motel, pilihannya cuma ada 2; naik taksi dengan damage cost berkisar HKD 50 atau naik bus yang ternyata terminalnya ada dibasement gedung itu dengan biaya HKD 5 per orang dewasa (anak-anak bayar setengahnya). Ya kami pilih naik bus lah... Karena belum punya kartu Octopus (semacam EZ Link card-nya Singapore), kami bayar cash diatas bus HKD 15, sampailah kami di Mongkok, Sincere House. Oya, jangan lupa ambil Hongkong City map diresepsionis mal. Kalau di ferry office saya cari-cari gak ada! Dilantai 2 ada resepsionisnya, dilantai 1 juga ada resepsionisnya, minta aja peta disitu. Langsung minta 2 sekalian buat cadangan, kalau gak dikasih minta lagi yang dilantai 1, kan sekalian turun ke arah basement untuk naik bus atau taksi.

Sopir bus di Hongkong pada kuya-kuya ya! Bawa busnya ngebut terus, harus hati-hati - selalu pegangan kalau berdiri. Hmm, kemarin itu kita sudah kasih tau mau turunnya dimana, si sopir juga sepertinya sudah ngerti n' said okay...okay... (diresepsionis kita tanyain direction menuju Mei-Mei Motel, kita kasih alamatnya dan resepsionisnya kasih tulisan kanji ke kita, dia bilang; kasih aja tulisan ini ke sopir bus, dia pasti ngerti..), eh gak taunya kelewatan juga..! Untung kita selalu perhatikan jalan, baca nomor dan nama jalan, sampai sadar kalau kita sudah kelewatan...untung cuma lewat 1 bus stop aja kayaknya. Jadilah kita jalan mundur sekitar 400 meteran di hari yang hujan itu dengan semua gembolan backpack kita tanpa payung... So, jangan terlalu pede dengan sopir bus Hongkong, tetap perhatikan jalan...!! Oya, busnya naik yang no. 3A ya... bus double decker (bus tingkat).

Curah hujan di bulan Juni & Juli cukup tinggi disana, dan sekitar Juli~Agustus adalah musim taifun. Alhasil, 3 hari berturut-turut hujan turun dari pagi hingga sore, dari mulai cuma gerimis sampai yang cukup lebat. So, jadinya bandar payung kudu harus beli payung deh disana...
Menurut obrolan dengan TKI, paling asyik menikmati kota Hongkong ya sekitar bulan Oktober lah... Dibulan itu relatif tidak ada hujan. Udara-nya pun sejuk semilir. Mantaplah buat round-round... Saya sendiri kurang tahu, kapan waktunya peak atau bukan peak season di Hongkong? Sepertinya hampir sama saja ditiap bulan-nya kota itu selalu dibanjiri wisatawan sepanjang tahun. Hongkong gitu lho...

So, kemana saja kami selama di Hongkong?
Yah, sebetulnya sejak awal juga kami cuma planning di-2 tempat saja yang harus merogoh kocek untuk membayar submission fee-nya (tiket masuk), yaitu; Hongkong Disneyland dan The Peak. Yang lainnya, ya free.. alias gretongan..!!

Sebenernya sih gak free-free amatlah... kan ada transportation fee-nya; naik MTR (subway), bus, Star Ferry, Ding-Ding (tram), n' Taxi. Ya, hampir semua moda transportasi sudah kita coba lho... cuma 1 yang belum; kereta gantung di Ngong Ping!

Hmm, apa aja tuh jalan-jalan yang gratisan di Hongkong? Yang pasti, kalau cuma jalan kaki aja keliling-keliling kota ya gratis lah itu, hehe...
Iya, tapi itu betul lho... jalan kaki aja keliling-keliling. Hampir diseluruh sudut kota Hongkong ada toko-nya! Semua elektronik apa aja ada disana, dimana-mana. Pakaian, tas, sepatu, pernak-pernik murah, banyak dimana-mana. Tsim Sha Tsui, Mongkok, Stanley Market, Temple Street, Ladies Market, sepanjang Nathan Road, Causeway Bay... Banyak n' hebohlah pokoknya... tapi hati-hati ya, gak terasa nanti belanjaan ternyata sudah 1 karung. Terpaksa harus beli koper baru untuk bawa pulangnya. Hati-hati...!!

Kemarin itu sih, MamiLukas sudah keblinger matanya lihat itu-lihat ini disana... Harus ditepok dulu punggungnya 3 kali, baru setannya keluar, hehe...
Kami cuma shopping in last minutes sebelum cabut ke Macau. Hanya beberapa potong pakaian dan tas-tas cewek aja yang kami angkut, gak sampai 1 karung. Masih muat di Deuter 70ltr kami.

Oya, kami memang gak bawa pakaian banyak-banyak kok. Di laundry aja disana... Minimal 8 pound (kira-kira 4 kg)=HKD 40. Setiap kelebihan 1 pound-nya, harus tambah lagi HKD 5. Lumayanlah, gak perlu bawa pakaian banyak-banyak. Kami 2 kali laundry pakaian disana, dan di KL (kuala lumpur) juga 1 kali laundry. Disetiap area pasti ada jasa laundry-nya, tanya-tanya aja ke hotel anda menginap...

Selain window shopping, juga culinary donk... ini juga asyik kan..?!
Yang seru, kita gak bisa baca tulisan kanjinya. Kalau ada gambarnya masih mending, tinggal pilih dari fotonya. Kalau enggak gimana?

Ada 2 cara: lihat kiri-kanan orang yang makan, lalu bilang ke waiternya; saya mau "itu..!".
Atau lihat tulisan HKD-nya saja. Harga paling rendah, biasanya itu untuk minuman. Kalau harganya sekitar HKD 5, itu berarti sayuran (1 porsi sayur sawi misalnya). Harga yang middle dan tertinggi, itu pastilah menu utamanya.
Coba deh, tunjuk aja sesuai panduan harga tersebut, tinggal tunggu apa gerangan yang akan disajikan? hehe...

Untuk yang muslim memang agak susah mencari makanan yang halal disana. Kalau warung-warung makan biasa dengan tulisan-tulisan kanji seperti itu biasanya mengandung daging babi sih... Sebetulnya ada juga menu favorit lainnya seperti Peking Duck, seafood, ataupun steak daging sapi. Disana banyak lho orang Indonesia, suka papasan dijalan pake bahasa Jawa. Tanya-tanya aja ke mereka warung-warung makan yang halal. Jangan malu bertanya...
Kalau gak mau repot dan aman, masuk aja ke McDonalds, KFC, atau Burger King. Kami beberapa kali beli makanan di McD (karena anak-anak lihat McD sign..), harganya kira-kira HKD 20-an kok, hampir sama saja dengan di Jakarta. Cuma McD disana gak ada nasinya ya..!

Berikut, kira-kira harga-harga makanan di Hongkong:
Egg tart, HKD 4/pc
Roti tawar kismis, HKD 10
Aqua 800ml, HKD 5
Sugar can (air tebu) 1 gelas besar, HKD 10
Soya drink 1 gelas besar, HKD 10
Ice tea (teh pake susu pake es) HKD 2.5
Mie instant seperti pop mie tapi besar, HKD 11
Sate octopus, HKD 10 - banyak spot yang jual makanan tusuk-tusukan seperti sate octopus ini.
Bapao, HKD 4
Makan siang yang murah: Noddle/mie (HKD 10~18), kalau nasi lebih mahal (HKD 25~35).
Kami ber-4 biasanya pesan 3 porsi (untuk makan siang/malam); 2 noodle dan 1 nasi, plus minumnya -> damage cost berkisar HKD 50~65.
Yang perlu diketahui, umumnya warung makan tidak menyediakan minuman dengan gratis. Tapi kita boleh kok bawa minuman sendiri. Juga tisu umumnya tidak disediakan ya...

Kalau mau beli minuman; aqua, bir, coke, juga; cookies, pop mie, cemilan, sabun, odol, dsb, ke supermarket aja. Jangan ke seven eleven. Supermarket yang murah disana salah satunya adalah "Market Place", ada dimana-mana; salah satunya di Exit C3 - Mongkok MTR. Lebih murah dibanding seven eleven.
Kami kalau beli aqua disitu langsung beli yang 5 liter, trus diisi ulang ke botol aqua ukuran kecil, jadi lebih hemat! hehe...

Udah ah ngomongin makanan dan window shoppingnya. Trus kemana lagi jalan-jalannya yang gratisan..?
Eh iya, sebelum lebih jauh kita jalan-jalan di Hongkong, sebaiknya kita beli Octopus Card saja terlebih dahulu, yaitu kartu serba guna untuk bepergian dengan bus atau subway (MTR), disamping juga beberapa kegunaan lainnya seperti untuk bayar parkir, belanja, dsb.

Harga perdana octopus card adalah HKD 150 untuk dewasa, dimana yang HKD 50-nya adalah nilai deposit kartunya. Jadi nilai kartu yang bisa digunakan untuk naik bus atau kereta adalah HKD 100. Kalau nilainya sudah mau habis, octopus card bisa di top up di mesin tiket yang ada di MTR, atau kalau gak tahu caranya, bisa juga ditop up ke customer servicenya di loket pembelian seperti saat kita beli kartu perdananya. Nilai minimum untuk top up-nya adalah HKD 50.

Oya, kalau untuk children fare, nilainya setengahnya ya... kartu perdana untuk children adalah HKD 75 dengan nilai deposit HKD 25. Begitu juga ongkos naik kereta atau bus untuk anak-anak adalah setengahnya harga yang dewasa. Kalau kelak nanti kita sudah mau pulang, keluar dari Hongkong, octopus card itu bisa kita refund atau kita tukarkan kembali dengan uang cash. Dihitung berapa nilai sisanya, ditambah nilai depositnya.

Nah, sekarang kemana nih jalan-jalannya..? Banyak kok:
Spot yang wajib dikunjungi adalah Avenue of Star sampai Harbourfront Mall. Free admission lho...
Inilah Hongkong! Begitulah kira-kira kata hati kita berbicara kalau kita sedang berdiri dan memandang apa yang ada didepan kita... ya, itulah trademark kota Hongkong, pemandangan gedung-gedung bertingkat dipinggir laut yang banyak kita lihat fotonya dimajalah-majalah atau koran. Siang hari atau malam hari, sama bagusnya untuk dikunjungi. Lebih baik datang sore menjelang senja. Malam hari pk 19:00 akan ada pertunjukkan sinar laser dari gedung-gedung bertingkat itu. Gedung-gedung yang nota bene berjarak sangat berjauhan satu sama lainnya itu bisa kompak menarikan sinar laser yang meliuk-liuk di langit kota Hongkong mengikuti irama lagu tradisional China yang diperdengarkan. Itulah Simphony of Lights!

Asyik juga berlama-lama duduk disitu memandangi gedung-gedung pencakar langit Hongkong.
Tidak salah kalau Hongkong dijuluki "the world's tallest city" atau "Asia's world City". Disinilah business hub (jantung perekonomian) asia selain Tokyo, Seoul, Taipei, Shanghai, dan Singapore.

Anda bisa datang kesini setelah sebelumya puter-puter dulu di Kowloon Park. Taman cantik yang ada diwilayah Kowloon (taman sejenis ada lagi diwilayah Hongkong island, namanya Hongkong Park). Kalau naik MTR turunnya di Tsim Sha Tsui station. Dari Kowloon Park, bisa jalan kaki ke Avenue of Stars itu.

Di Kowloon Park ada tempat bermain anak-anak (children's playground), maze garden, chinese garden, bird lake, discovery playground, sculpture walk/garden, piazza, aviary, juga ada swimming poolnya.
Kalau saya sih senang mengeksplor taman cantik seperti ini, gak tahu deh kalau anda...?
Atau sebelum datang ke Avenue of Star di sore hari, bisa juga di siangnya kita mengeksplor Hongkong Park yang berada di Hongkong Island (pulau diseberang).
Kalau mau kesana, naik MTR turun di Admiralty station Exit C1. Naik bus juga banyak kok yang kesana, tanya-tanya aja...
Apa aja yang ada di taman itu? Yah, kira-kira mirip lah seperti yang di Kowloon. Kalau Kowloon Park luasnya 13.5 ha, maka Hongkong Park cuma 8 ha saja.

Nah, kalau selesai dari Hongkong park mau menuju ke Avenue of Stars di Kowloon, yang asyik naik Star Ferry saja. Ongkosnya cuma HKD 2 saja (senin~jum'at). Naik ferry nyeberang selat dari Central ke Tsim Sha Tsui, cuma 10 menit aja kok... tapi asyik lah kalau untuk wisata.
Oya, air laut di Hongkong cukup jernih terjaga lho, enak melihatnya... gak seperti teluk Jakarta, amit-amit deh...!!!

Kalau mau.. sebelum ke Hongkong Park, anda bisa juga jalan-jalan sebentar ke mid level pakai escalator terpanjang didunia. Ya, escalator itu panjangnya 800 meter dari Central ke mid level - western distric, yang tinggi vertikalnya mulai kita naik escalator itu sampai diujungnya adalah 135 meter high. Kalau anda naik ferry dari Tsim Sha Tsui ke Central, begitu sampai tanya aja direction ke escalator yang ke mid level.
Tapi escalator itu cuma satu arah ya... dari bawah menuju ke atas saja. Sebaliknya kalo dari atas mau turun kebawah, ya harus jalan kaki.
Kemarin itu, begitu sampai diatas, kami malas turun karena sudah capek sekali untuk berjalan. Akhirnya kami naik taksi deh (berhubung gak ada bus yang melewati mid level).

Naik taksi dari atas (sebetulnya gak sampai mentok diatas sih...) ke Peak Tram lower terminus, eh ongkosnya ternyata cuma HKD 18 saja (± Rp 20rb). Begitu naik taksi, argonya sudah menunjukkan HKD 18, dan gak berubah sampai ditujuan. Memang sih jaraknya sepertinya gak begitu jauh. Kami kasih HKD 20, eh dikembaliin lho HKD 2... padahal awalnya kami agak khawatir juga, karena penampilan sopir taksinya kayak anggota TRIAD Hongkong; pake kacamata hitam gelap, lagi gigit-gigit tusuk gigi di mulutnya, kepala cepak, persis kayak mafia Hongkong, TRIAD..!!

Tidak jauh dari Hongkong Park juga ada Hongkong Zoological and Botanical Gardens. Tapi sayangnya kami gak sempat ketempat ini, padahal sudah dekat sekali ya and free admission juga...

Oya, baik di Hongkong Park maupun Kowloon Park banyak disediakan tempat kucuran untuk air minum ya, gratis... kemungkinan juga hal yang sama ada di Zoological and Botanical Gardens itu. Jadi, kalau bekal minum habis, jangan khawatir... isi ulang aja di sana. Airnya betul-betul layak minum kok, terasa dari bau dan rasanya.

Di Central itu kita juga bisa merasakan pengalaman naik gedung perkantoran di Hongkong. Ada 2 gedung yang umumnya dikunjungi para turis iseng seperti kami ini, yaitu; Bank of China building (lantai 43) dan 1IFC (One International Finance Centre) dilantai 55, kantornya Information Centre of Hongkong Monetary Authority (HKMA).

Kedua gedung itu merupakan landmark kota Hongkong. Gedung Bank of China bentuknya sangat khas, kalau malam bercahaya dengan garis-garis diagonal sepanjang tubuhnya. Sedangkan 1IFC adalah gedung tertinggi di Hongkong (ada 88 lantai). Waktu itu, kami hanya berkunjung ke Bank of China saja. Norak ya, naik-naik gedung kayak begitu...?! hehe...
Lihat-lihat aja di peta direction menuju kesana, gak sulit kok.

Kemana lagi ya yang gratisan?
Di Hongkong ada city tour dengan Big Bus Tour atau Hop On Hop Off Bus, yaitu bus double decker yang bagian atasnya (deck atas) biasanya terbuka itu lho... saya cek di websitenya, harganya USD 41 untuk 1 orang dewasa city tour 24 jam.

Tapi di Hongkong juga ada Ding-Ding! Jalur tram dalam kota yang beroperasi menyatu dengan moda transportasi lainnya di jalan raya. Ding-Ding atau tram ini sangat antik lho... Dia sudah beroperasi lebih dari 100 tahun melayani penduduk Hongkong khususnya di Hongkong Island.
Kondisi tramnya pun sampai sekarang kira-kira hampir sama. Masih terbuat dari kayu, betul-betul antik! Ongkosnya? Nah ini dia... cuma HKD 2 saja per orang, jauh-dekat.

Kami naik Ding-Ding ini ambil jalur terjauh dari ujung ke ujung sambil lihat-lihat pemandangan kota dan segala aktifitas penduduknya. Duduk di-deck atas dengan ditemani tiupan angin sepoi-sepoi jadi bikin ngantuk. Ya, kaca jendelanya bisa digeser sehingga terbuka lebar (rata-rata kaca jendela Ding-Ding memang sengaja dibuka lebar karena tram ini tidak ada AC-nya dan jalannya pun gak bisa terlalu ngebut seperti bus), jadi bisa bebas memandang-mandang, seakan-akan kita ada di bus Hop On Hop Off itu, hehe... hanya HKD 2!! Jarak dari ujung ke ujung itu lumayan jauh lho... mungkin waktu tempuhnya lebih dari 1 jam, padahal relatif gak ada hambatan dijalan (gak macet). Kalau naik Ding-Ding, jangan salah ya.., naiknya lewat pintu yang belakang dan keluarnya dari pintu yang depan sambil gesek octopus card kita sebelum turun.


* * * * *

Di terminal LCCT Kuala Lumpur kami harus menginap semalam, tepatnya kira-kira 7 jam saja. Terminal ini kurang nyaman untuk penumpang transit seperti kami. Semua kursinya ada sandaran tangannya, jadi gak bisa rebahan untuk tidur. Mungkin pengelolanya memang men-disain seperti itu; tidak boleh tidur dikursi bandara. Tapi saya pribadi menilai itu kurang bijaksana. Di airport lainnya; Kansai Jepang, Singapore, Jakarta, Bali, Phuket Thailand, Macau, HCMC Vietnam, kita bisa transit dengan tidur rebahan dikursinya. Bench-nya tidak ada sandaran tangannya. Nyaman..! So, kemarin itu di LCCT-KL kita gelar aja jaket & handuk dilantai. Tidur deh... untung anak-anak cukup tough dan memahami kelakuan/kemampuan babe-nya, hehe...


Tas Deuter 70+10 ltr dibelakang saya itu beratnya kira-kira 23kg. Tas kamera yang didepan mungkin sekitar 2.5 kg. Si Timmy beratnya sekitar 18 kg. Tas backpacknya si Timmy sekitar 2kg. Si Timmy bilang dari atas; Papi... as a robot, I controlling you..!! Dia bilang in English ya... Sambil pegang rambut saya dengan 2 tangannya. Kalau belok kiri, rambut sebelah kiri ditarik kebelakang, begitu juga kalau mau belok ke kanan...


Kamar Mei-Mei Motel, 1 double bed & 1 single bed. HKD 360/malam. Cukup untuk kami ber-4.


Kamar tidur dan bath roomnya super mini, sempit sekali..! Tapi itulah salah satu sensasi Hongkong, hehe...


Bird view dari kamar motel ke jalanan dibawah (Argyle street).


Setiap hari Rabu, kita bisa masuk hampir diseluruh museum-museum di Hongkong dengan gratis lho... Ya, gratis sodara-sodara! So tau dong apa kegiatan kami pas di hari Rabu? Hehe...
Gak perlu dibahas lah ya...




Diorama di Hongkong Museum of History. Setiap hari Rabu, hampir disemua museum-museum di seluruh Hongkong bisa kita masuki dengan gratis. Ya, free admission only on Wednesday. Jadinya satu harian di hari Rabu, kami masuk ke 4 museum sekaligus; Museum of Art dan Space Museum dilokasi yang berdekatan, serta Museum of History dan Science Museum dilokasi yang saling berdekatan juga. Kalau diluar hari Rabu, ya harus bayar. Science Museum saja admission fee-nya HKD 25/orang. Lumayan kan, hehe...

Museum-museum di Hongkong (review dari 4 museum yang kami masuki), ada di level world class menurut saya. Tertata sangat rapih, bersih, well managed. Iris kuping saya kalau di Indonesia bisa dikelola museum seperti itu...
Saya pernah masuk di Osaka Museum of History di Jepang. Tata kelolanya kira-kira mirip sekali. Two thumbs up..!!


Ini juga di Hongkong Museum of History. Beginilah bentuk kamar dan perabotannya penduduk Hongkong sekitar tahun 50~60an.


Si Timmy paling susah di ajak narsis sama-sama...


Ini pesawat beneran yang digantung di ruangan Hongkong Science Museum. Pesawat Cathay Pacific era tahun 60an mungkin...


Ini salah satu atraksi yang paling ditunggu di Hongkong Science Museum. Dengan prinsip gravitasi, bola-bola merah itu turun dari ketinggian menuju kebawah melewati serangkaian jalur yang bisa menimbulkan efek suara ataupun energi lainnya dari konversi gravitasi tersebut.


Timmy sangat excited sekali di Science Museum. Banyak hal yang langsung bisa tervisualisasi sehingga bisa dimengerti anak-anak dengan lebih mudah.


Lorong cermin.


Einstein sedang menerangkan mengenai bahan-bahan ber-explotion... Einstein disitu adalah robot lho... bisa bergerak dan bersuara. Mulutnya bergerak sesuai suaranya, matanya berkedip-kedip...


Ini Dino skeleton...


Dari bentuk yang terkecil (ovum) sampai menjelang dilahirkan diperagakan disini. Anak-anak sangat takjub...


Bird market di Yuen Po street, gak terlalu jauh dari motel.


Goldfish market juga gak jauh dari motel. Banyak display ikan-ikan hias lengkap dengan akuariumnya disini, bagus-bagus...


Suasana jalan disamping gedung Sincere House.

Sight-seeing terrace di lantai 43 Bank of China Tower. Daerah central, Hongkong island. Orang umum boleh naik ke lantai 43 dari bangunan yang merupakan salah satu landmark-nya kota Hongkong ini. Lumayan bisa juga naik ke gedung bertingkat perkantoran disana. Walaupun sightseeing terracenya cuma disatu sisi saja (tidak keliling), tapi cukuplah buat pengetahuan dan pengalaman anak-anak. Kalo kesini harus bawa paspor ya, nanti dicatat diresepsionis, barang-barang discan seperti di bandara, kemudian kita dikasih kartu pass-nya untuk naik keatas. Ini satu yang gratisan ya, hehe...



Avenue of star. Banyak plakat dan cap jari para bintang film Hongkong dari jaman Bruce Lee sampai Jet Li. Dari tempat ini juga dimalam hari (pk 19:00) kita bisa menikmati Symphony of Lights yang tekenal itu, gratis!

Ini salah satu spot tempat ngumpulnya TK Filipino disana. Jadi kalo libur mereka ngumpul-ngumpul, main kartu, tidur-tiduran, chatting di facebook, dsb beralaskan karton kardus bekas. TKI kita juga seperti ini, kebanyakan sih mereka basenya di daerah Causeway Bay di Hongkong Island. Saya salut sama pemerintah Hongkong, meski jadi kelihatan kumuh, tapi mereka gak diusir lho..!! Foto diatas diambil di One Finance Centre building. Mal-nya cukup mewah, tapi jalan dikoridor menuju kesananya ya seperti foto diatas. Orang Hongkong sepertinya sangat menghargai para TKA (tenaga kerja asing) ini. Mereka dibayar cukup murah, tetapi ikut menjadi tonggak-tonggak perekonomian metropolitan Hongkong. Ada rumour yang bilang; kalau anda bertanya pakai bahasa Mandarin, mereka akan menjawab sekenanya saja. Pakai bahasa Inggris, sama saja! Tapi kalau anda bertanya pakai bahasa Jawa, mereka akan menuntun kita sampai ke tujuan kita, haha...

Ini salah satu bangunan landmark kota Hongkong. Diambil dari eskalator terpanjang didunia (sekitar 800m), dari luar gedung One Finance Centre tersebut (di Central) ke mid level yang agak berbukit nanjak.


Papan petunjuk seperti ini banyak bertebaran didekat-dekat spot wisata atau landmark kota Hongkong. Ikuti saja arahnya, sampai deh...

Peak tram lower terminus. Jalur tram ini sudah cukup lama beroperasi, sejak 30 Mei 1888, lebih dari 120 tahun! Tramnya cuma ada 2 rangkaian. Sekitar 10 menit sekali, tram ini datang menjemput kita menuju The Peak, spot wisata diatas bukit tempat berleha-leha memandangi gedung-gedung bertingkat dibawahnya. Ada sensasi tersendiri naik tram ini lho... tramnya naik dengan sudut kemiringan sampai 40 derajat!


Foto ini diambil dari The Peak. Angle sejuta umat, hehe... sayang waktu itu cuaca mendung gak karuan.



Symphony of Lights, diambil dari avenue of star.
Gedung yang paling jangkung adalah 1IFC, sedangkan disebelah kiri yang bergaris-garis diagonal dibadannya itu adalah gedung Bank of China.


Corridor menuju Cotton Tree Drive Marriage Registry di Hongkong Park. Banyak yang bisa dinikmati di Hongkong Park. Masuknya juga gratis kok, hehe...


Lukas, Timmy, n' Mami narsis di Hongkong Park dengan background gedung Bank of China, yang lantai 43-nya baru saja kami kunjungi itu.

Tram lane di Hongkong Island yang disebut Ding-Ding. Jalur-jalur tram ini sudah beroperasi sejak tahun 1904 sampai sekarang. Luar biasa..! Ding-Ding merupakan satu-satunya tram lane double decker yang masih tersisa di dunia. Tram-nya masih yang lama, terbuat dari kayu. Antik sekali... Ongkosnya sangat murah! Kemana-mana cuma bayar HKD 2 (Rp 2.200,-) jauh dekat. Kami naik dari Central ke Shau Kei Wan yang paling ujung, jauh sekali, memandangi gedung-gedung bertingkat perkantoran, pertokoan, dan apartemen-apartemen di Hongkong Island sampai puas. Tapi gak ada AC-nya ya, hehe...


Mobil Ferarri banyak ditemui dijalanan Hongkong. Suaranya yang khas menderu-deru membahana dan nyaring sekali mengalahkan suara apapun yang ada dijalanan.


Street market di Shau Kei Wan. Iseng-iseng cari makanan disini...

Ladies Market di pagi hari sekitar pk 9. Baru pada beres-beres mau buka. Ternyata pedagangnya banyak yang dari Asia selatan seperti Pakistan atau India. Pegawainya saja (SPG-nya) yang orang Hongkong berhadapan dengan para pembeli. Ladies Market memang tempat terkenal untuk berbelanja barang yang murah di Hongkong. Tapi saya tidak terlalu suka disini. Anda harus benar-benar pintar menawar baru bisa mendapatkan barang yang murah. MamiLukas tertarik dengan satu tas cewek yang agak besar disitu, mereka buka harga HKD 250. Saya bilang tawar aja HKD 50! Harga langsung turun jadi HKD 170. Kami naikin per HKD 10 saja sampai penjualnya ngomel-ngomel dan akhirnya ngasih diharga HKD 100. Itupun gak jadi kami ambil, malas ah... coba cek lagi ditoko-toko seberang jalannya Fa Yuen Market dekatnya Goldfish Market. Banyak lho toko-toko yang murah disekitar situ, harga gak boleh pakai nawar lagi, tapi fair dibanding survey di ladies market sebelumnya.
Saya cuma beli souvenir tempelan kulkas di ladies market. Mereka buka di harga HKD 15 satunya, akhirnya dikasih juga dengan harga HKD 5/pc-nya, dengan catatan - biasalah kalau papilukas yang nawar, pedagangnya pasti ngomel-ngomel, hehe...


Jalanan dekat Fa Yuen street.


Fa Yuen Street Market.


Para perusuh jalanan kota Hongkong, menyeberang zebra cross dekat Mongkok MTR (subway).



Kowloon Park yang asri dan teduh. Juga menjadi spot wisata yang gratisan disana. Hongkong Park dan Kowloon Park hampir sama kualitasnya, cantik dan patut dikunjungi...
Kalau pagi hari dikedua taman itu, kita bisa ikutan Tai Chi sama orang-orang disitu. Sayang kami selalu bangun agak siang terus selama di Hongkong, karena kecapaian advonturir di hari sebelumnya.


Sebetulnya masih ada beberapa spot wisata lagi yang gratisan di Hongkong, diantaranya adalah; Tiger Balm Gardens (pemilik yang sama dengan Haw Par Villa di Singapore), mengunjungi chinese temple (diantaranya yang terkenal; Wong Tai Sin Temple, Man Mo Temple, Po Lin Monastery), ke Aberdeen harbour, Repulse Bay, dan ke Lan Kwai Fong (night scene n' award winning dining, so kalo kesini bagusnya ya di malam minggu/saturday nite..). Mungkin masih banyak lagi yang lainnya, silahkan saja happy searching ya. Hehe...

Untuk wisata yang bayar, ya pasti banyak lah...
Tapi kami cuma pergi ke 2 tempat saja selama disana, yaitu; Hongkong Disneyland dan satu lagiThe Peak (naik peak tram).
Kalau yang Disneyland, nanti dibahas khusus aja ya di dalam chapter tersendiri.

Nah, saya mau cerita tentang The Peak-nya aja:
Kalau mau ke The Peak, anda sebetulnya bisa saja naik taksi (kalau mau cepat), atau naik bus. Ada beberapa no. bus, contoh; bus double decker, no. 15, dari Star Ferry pier ke terminal bus di The Peak, ongkosnya HKD 9.8.
Tapi kalau mau yang orisinil, ya naik "Peak Tram" (biasanya antriii...).
Ongkosnya adalah HKD 40 return ticket untuk dewasa, dan HKD 18 untuk anak-anak. Oya, The Peak adanya di Hongkong island ya... didaerah Central.

Kita bisa juga beli tiketnya yang paket, sekalian masuk ke Sky Terrace. Harganya HKD 65 untuk dewasa, dan HKD 31 untuk anak-anak. Kalau beli terpisah, harga tiket masuk ke Sky Terrace-nya sendiri adalah HKD 30 untuk orang dewasa lho..., untuk anak-anak HKD 15! Jadi kalo ambil yang paket bisa lebih hemat.
Ada juga yang dibundling dengan tiket masuk ke museum lilin Madame Tussauds, jadi HKD 210 untuk dewasa, dan HKD 105 untuk anak-anak. Itu sudah termasuk peak tram pulang-pergi dan masuk Sky Terrace. Mahal ya..!!
Kami gak masuk ke Madame Tussauds. Sepertinya gak worth it lah dengan harganya...
Saya pribadi gak terlalu suka (setelah baca dari review-reviewnya...), apalagi ditambah dengan mahalnya admission fee masuk ke situ. Ah, enggak lah...
Kami jadinya ambil bundle yang sekalian masuk ke Sky Terrace-nya aja.

The Peak itu ya peak-nya kota Hongkong.
Hongkong itu ternyata terdiri dari beberapa pulau yang berbukit-bukit. Dataran yang rendahnya mungkin lebih sedikit areanya dari pada yang berbukit. Bukit-bukitnya juga berstruktur batu-batuan cadas yang keras lho...
Nah The Peak itu ceritanya adalah tempat wisata/piknik para ekspatriat Hongkong pada jaman dulunya (jaman kolonial Inggris). Sebetulnya spot The Peak ini enggak terlalu berada di puncak bukit sekali sih. Masih ada yang lebih tinggi. Tapi dari tempat ini saja pemandangan ke teluk Hongkong sudah sangat indah sekali...
Dulunya, orang-orang kesini harus hiking sambil bawa perbekalan piknik. Yang punya uang, bisa juga pakai jasa "sedan chair", semacam tandu yang digotong oleh 2 orang penandu. Dari bawah sampai ke peak! Gila, gempor gak sih...?!!
Karena makin banyak kaum ekspatriat yang piknik kesini sambil bawa biskuit dan limun juga tikarnya (berat kan jadinya...), maka dibangunlah jalur tram sampai kesana.
Pada 30 Mei 1888, Peak Tram diresmikan dan digunakan oleh publik untuk pertama kalinya. Jadi udah berapa tuh umurnya?

Asyiknya naik tram ini karena sudut kemiringannya sampai 40 derajat lho..!! Jadi ada sensasi tersendiri buat penumpangnya. Gedung-gedung yang kita lewati seakan-akan miring. Naik miring terus sampai keatas... buat yang pertama kali naik, melihat kota Hongkong saja dikejauhan dari dalam tram ini sudah cukup luar biasa rasanya.
Waktu tempuh tram ini mungkin cuma sekitar 3 menit saja. Memang jaraknya gak terlalu jauh kok. Tapi dalam 3 menit itu, kita sudah berada sekitar 550 mtr diatas permukaan laut!

The Peak sendiri sekarang sudah menjadi seperti mal saja kelihatannya. Tapi lebih banyak venue restoran disana. Tempatnya ya lumayan romantis lah untuk dinner sambil lihat terang-benderangnya Hongkong ditemani semilir udara sejuknya pegunungan, wah...
Nah, pemandangannya yang benar-benar plong melihat kebawah adalah dari Sky Terrace itu.
Tempat itu (Sky Terrace) adalah tujuan utama para pelancong yang pergi ke The Peak selain ke museum lilin Madame Tussauds. Sky Terrace juga menjadi tempat paling favorit untuk para fotografer amatir mengcapture kota Hongkong dari ketinggian. Tapi mau jungkir balik gimana juga, angle-nya kayaknya gak jauh dari yang itu-itu aja deh; angle sejuta umat! Hehe...
Kalau mau naik ke Sky Terrace ya harus bayar ya (HKD 30 untuk dewasa).

Sebetulnya kalau mau hemat, ya gak perlu naik/masuk ke Sky Terrace. Disana ada kok spot-spot yang bisa memandang ke bawah dengan lumayan bagus juga (walaupun yang paling bagus tetap dari Sky Terrace..) seperti dari Lion Pavilion.

Kalau mau hiking (gak terlalu berat), anda bisa juga jalan kaki ke Mount Austin (ada playgroundnya). Cocok kalau berpetualang bawa anak-anak kesini. Sayang kemarin kami gak sempat kesini karena sudah keburu gelap, padahal cuma sekitar 10 menit aja jalan kaki dari peak tram station (upper terminus)...

To be continued to 'Hongkong Disneyland'

Thursday, July 14, 2011

Hongkong Disneyland

Di awal tahun 2008 satu kali saya pernah naik bus melewati area Tokyo Disneyland sewaktu ada kenshu ryoko (study tour) industri dari kota Chiba menuju penginapan di downtown Tokyo, eh gak disangka akhirnya di tahun ini, saya sekaligus bawa pasukan rumah bisa diberi kesempatan mengisi lembaran kenangan hidup ini dengan seharian bermain di Hongkong Disneyland Park. Ya, di tahun 2008 itu saya cuma bisa melongok dari kaca jendela bus yang berlalu begitu saja melewati Tokyo Disneyland disebelah kirinya...

Saya gak pernah membayangkan sebelumnya bisa bawa orang serumah masuk ke disneyland lho... Yang ada dipikiran, disneyland itu adalah taman bermain yang sangat indah yang cuma ada di dalam khayalan saja. Lokasinya jauh dari rumah (Indonesia) dan tiket masuknya pasti akan sangat mahal sekali. Dari segala angle view, ini diluar jangkauan pegawai swasta rendahan seperti saya ini, hehe...
Tapi mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia... (begitu kata Nidjie di 'laskar pelangi'). Sepertinya saya gak pernah bermimpi, tapi ini langsung menjadi kenyataan begitu saja. So melancholy ya...

Sehari menjelang berangkat ke Hongkong Disneyland, euforia kegembiraan dan semangat untuk besok beravonturir didunia khayalan sudah menyelimuti kami semua. Ke anak-anak, ke emaknya, juga ke saya. Badan yang sudah capek seharian berjalan di Hongkong seperti luntur dengan sendirinya. Gak terasa lagi senut-senutnya membayangkan petualangan besok...
Begitu tinggi sekali harapan kami, over estimated 'bout disneyland.
Kenyataannya, ah ternyata biasa-biasa aja kok tempatnya...
Areanya gak terlalu luas juga, kira-kira sama lah dengan Dufan di Ancol. Saya pribadi sih gak terlalu merasakan excitement di level yang dibayangkan semula. Biasa aja kok. Gak ada outdoor roller coasternya juga. Gak seru ah...
Entah mungkin karena "Disney" adalah trade mark yang sudah terukir dari kita masih anak-anak, tidak ada di Indonesia (disneyland-nya), dan hanya orang yang duitnya gak berseri aja yang bisa kesana. Jadinya terpatri dipikiran seperti itu; gak mungkin lah bisa kesana. Cuma bisa bermimpi. Kalaupun satu saat bisa pergi kesana, wah... pasti luar biasa itu tempatnya. Disneyland gitu lho... halah...!!

Sudahlah, pokoknya kami sudah kesana..! hehe...

Banyak review di internet yang bilang kalau kita bisa beli tiket masuk yang lebih murah di hotel-hotel atau di biro perjalanan dibandingkan kalau kita beli tiketnya langsung di lokasi atau lewat websitenya. Saya sudah berusaha cari, tapi nihil! So, kita beli tiket langsung aja ke sono-nya, hkd 350 untuk dewasa dan hkd 250 untuk anak-anak pada waktu itu. Hari biasa, Sabtu atau Minggu sama saja. Hanya berbeda 2 bulan sejak kami kesana, sekarang harga tiketnya sudah naik ke hkd 399 untuk dewasa dan hkd 285 untuk anak-anak. Cepat juga ya...
Menurut saya masih reasonable enough-lah harga tiketnya. Mahal, tapi gak terlalu mahal-mahal amat. Masih bisa terjangkau, dan cukup worth it lah...

Hongkong disneyland buka dari pk. 10 pagi sampai pk. 9 malam. Setiap harinya saat penutupan, digelar "Disney in the Stars" Fireworks yang sangat spektakuler. Cukup puas menyaksikan pesta kembang api di penutupan itu, so jangan sampai dilewatkan ya...

Saat memasuki gate depan, tas dan barang bawaan kita diperiksa dengan cukup teliti karena isinya benar-benar dikeluarkan untuk dilihat. Ada beberapa items yang tidak diperbolehkan masuk ke area. Cek aja di websitenya.
Kemarin itu kami bawa bekal makan siang dari luar supaya bisa ngirit maksudnya, karena harga makanan di dalam pasti cukup mahal (sekitar hkd 35~60 per porsinya). Eh, lihat pemeriksaannya seperti itu yang lumayan ketat, kami ciut juga, jangan sampai makanan ini jadi dibuang begitu saja karena gak diperbolehkan masuk. So, sebelum masuk, kami sikat dulu deh tuh makanan sebisanya, hehe... masih ada tersisa, sayang juga kalau dibuang, ya kami bawa masuk aja, eh kok gak apa-apa ya, haha... Mungkin karena makanan itu sudah dimasukkan ke dalam plastik box tupperware, jadi gak akan bikin rusuh atau mengotori area disneyland itu, makanya lolos aja.. don't know lah. Oya, kalau mau hemat jangan khawatir untuk urusan minum disana ya... dibeberapa tempat disediakan kok kucuran air minum gratis. Sewaktu di MTR ke arah disneyland, saya lihat orang-orang banyak yang bawa botol aqua kosong di tas backpacknya. Maksudnya apa ya..? Eh, gak tahunya untuk itu, hehe...

Setelah beberapa hari kota Hongkong diguyur hujan, eksepsional dihari itu, panas teriiik sekali...!! Untungnya kami bawa payung jaga-jaga kalau hujan, eh sangat berguna juga di hari panas yang sangat menyengat begitu. Ternyata banyak juga orang-orang yang bawa payung. Entah mereka berpikir yang sama kalau-kalau ada hujan, atau memang sudah tahu kalau matahari lagi cerah sangat terik sekali disana...

Sesaat setelah memasuki gerbang parknya, kita langsung melihat antrian panjang orang-orang yang ingin mencoba naik disneyland railroad. Kamipun begitu, ikut antrian. Walaupun sudah baca park map-nya yang kelihatannya gak terlalu luas, tapi orang-orang diantrian itu dan juga kami mungkin punya pikiran yang mirip di-mind kita; mau tahu dulu seberapa luas disneyland park itu sebelum kita menjelajahi semua venue-nya (railroad itu melingkar mengitari semua areal parknya).
Tapi dear bro n' sista, lebih baik gak usah naik itu dulu deh... karena antrian disitu bisa sangat panjang dan sebetulnya parknya tidak begitu luas kok. Lebih baik manfaatkan waktu untuk secara sistematis masuk ke semua arena pertunjukkannya. Kami datang dari pagi saat baru buka (pk 10:00) dan keluar saat penutupannya (setelah fireworks, sekitar pk 21:30), masih ada aja venue yang belum dikunjungi atau dicoba... tidak semuanya bisa discanning 100%!
Ditempat-tempat tertentu antriannya cukup panjang jadi menghabiskan waktu saja. So, harus pintar-pintar mengaturnya. Memang kami datang di hari Sabtu, karena dihari sebelumnya yang sudah direncanakan eh si Lukas malah sakit perut.. toh admission fee-nya sama saja dihari biasa ataupun hari Sabtu-nya (waktu itu).
Kelebihannya, mungkin di hari Sabtu itu suasana lebih meriah, semua pertunjukkan disiapkan dengan prima (karena lebih banyak tamu), juga saat penutupan; fireworks-nya sangat luar biasa..!! Two thumbs up! Lamaaa sekali, seperti gak habis-habis... Jadi saya pikir apa karena itu hari Sabtu..?! Bagaimana kalau di hari biasa ya..??

Sebetulnya ada cara untuk menghemat waktu antrian itu. Ditempat-tempat pertunjukkan yang populer (yang biasanya antriannya panjang), disediakan mesin Fast Pass Ticket. Apa itu...?
Jadi kita ambil tiket dimesin Fast Pass ticket (mesinnya otomatis seperti ATM gitu, jadi self service lah...) untuk nonton pertunjukkan yang sudah terjadwal di tiketnya.
Misalnya (let say sekarang pk 12 siang) n' kita mau masuk di "Space Mountain" yang berada di areal Tomorrowland. Itu merupakan tempat favorit ya, jadi antriannya pasti cukup panjang. Jangan khawatir... kita datang aja ke mesin Fast Pass disitu (di Space Mountain), ambil tiketnya, lihat jam berapa jadwalnya kita masuk disitu (misalnya kita pilih yang pk 2:00 siang), jadi kita datang aja kesitu lagi nanti menjelang pk 2:00 itu (in range 10 menit sebelum pk 2:00), gak perlu antri waktu masuknya nanti, langsung masuk ke jalur khusus yang gak pakai antri panjang, enjoy the show deh. Begitu sodara-sodara...
Oya, kalau kita terlambat datang pada pk 2:00 seperti waktu yang sudah ditentukan, jangan khawatir juga.. Fast Pass masih berlaku untuk jadwal pertunjukkan berikutnya (dari pk 2:00 tadi). Misalnya next shownya pk 3:15 (tergantung lama pertunjukkannya). So, kita boleh datang dipertunjukkan yang pk 3:15 itu kalau yang pk 2:00-nya gak sempat...
Tapi ternyata kita juga gak bisa ambil Fast Pass dimana-mana sesukanya! Harus diselesaikan dulu pertunjukkan yang sudah kita booking di Fast Pass ticket yang kita pegang. Kalau enggak, kita gak bisa ambil Fast Pass di pertunjukkan lainnya. Pinter juga ya, hehe...
Sambil menunggu jadwal Fast Pass kita, kita kan bisa menjelajahi yang lainnya dulu. Begitu mendekati jadwal Fast Pass ticket, kita buru-buru deh datang ke pertunjukkan yang pake Fast Pass itu tanpa perlu mengantri, langsung masuk, padahal itu kan pertunjukkan yang favorit, gitu lho...

Yah, kita harus pintar dan bijaksana lah supaya bisa maksimum semua pertunjukkan kita masuki. Pada saat jam makan siang, banyak orang yang mengisi tangki untuk makan siang. Jadi antrian pertunjukkan juga agak kendur.. kalau mau, kita bisa manfaatkan itu untuk masuk ke arena-arena yang favorit (biasanya ada tanda bintangnya di peta).
Juga suka ada show-show lainnya selain di tempat-tempat fixed venue seperti parade, karnaval, street entertainment, dsb. Perhatikan park map dan jadwal-jadwal pertunjukkan-nya. Oya, minta ya park map-nya waktu beli tiket, atau didalam juga bisa sih minta ke petugasnya. Minta yang in English ya, jangan yang kanji Chinese, kecuali kita ngerti bacanya..!

2 be continued 2 "Jalan-jalan di Makau"


Kereta khusus menuju Hongkong Disneyland.
Imajinasi anak-anak sudah tercubit mulai dari sini...


Pegangan ini juga ada di kereta itu...


Di gerbang masuk Hongkong Disneyland.


Ciao Italia, mudah-mudahan bisa ke Italia satu saat nanti...


Disneyland parade. Yang ijo-ijo toy soldier itu orang beneran lho...




Di tomorrowland area.


Ini juga disneyland parade.


Suasana setelah bubaran, sepi...

The Sleeping Beauty Castle, lokasi pertunjukkan fireworks (kembang api) yang luar biasa dilatar belakangnya...

Wednesday, July 13, 2011

Macau - City of Dreams

Setelah 8 hari 7 malam di Hongkong, kami kembali ke Makau untuk transit pulang sekaligus jalan-jalan 2 hari (stay 1 malam) disana.

Dihari terakhir kami di Hongkong, saya masih asyik menikmati suasana Kowloon Park hingga akhirnya jadi molor dari waktu yang sudah direncanakan untuk nyeberang ke Makau. Alhasil jadinya dapat tiket sore yang jatuhnya lebih mahal dari tiket ferry untuk jadwal di siang hari. Ya sudahlah... 8 hari 7 malam ternyata masih belum cukup ya untuk bisa larut sepenuhnya dalam atmosfir kota Hongkong yang beragam itu.

Sekitar pk. 5 sore, kapal kami sandar di ferry port di Makau. Trus kemana nih? Lho...

Iya, sebetulnya kami belum booking hotel atau guesthouse disana. Jauh hari sebelumnya sih saya sudah cari-cari, tapi belum ketemu yang sreg. So, jadinya coba nekat go show aja cari penginapan disana. Soalnya saya pernah baca referensi, kalau di Makau ferry port itu suka ada penawaran hotel berbintang yang diskon besar-besaran. Berhubung cuma stay 1 malam saja, maka saya coba gambling ikuti referensi tersebut. Namanya juga Makau, kota judi, segala sesuatunya kita coba sejauh mana peruntungan kita, hehe...

Oya, sebetulnya juga, saya rencanakan untuk booking hotel di Makau pada saat kedatangan pertama transit dari KL menuju Hongkong di-8 hari sebelumnya. Tapi waktu itu sangat terburu-buru karena waktu keberangkatan ferry-nya mepet sekali, gak sempat booking yah beginilah jadinya…

Ada beberapa counter disitu yang menawarkan jasa booking kamar hotel yang murah. Tapi semurah-murahnya ya tetap aja mahal-mahal..! Begitulah, itu karena di Makau umumnya lebih banyak hotel-hotel berbintang dari pada guesthouse-nya. Ada sih beberapa penginapan sekelas guesthouse yang saya tahu hasil googling, tapi saya mau coba mengincar kamar di hotel berbintangnya kalau benar ada yang murah, hehe..

Tapi dear bro & sista, jangan coba-coba nekat ikuti cara saya ini ya! Kamar hotel yang ditawarkan di counter-counter itu gak lebih murah dari yang beberapa bulan sebelumnya saya coba searching di Agoda atau Hotelsworld. Jatuhnya malah lebih mahal sedikit dari yang di Agoda. Belum lagi ternyata kita juga harus tawar-tawaran di counter itu. Pindah ke counter lainnya, cek lagi ke counter yang satunya lagi...wah repot deh.

Karena bawa anak-anak, mungkin ada yang perhatikan kesulitan kami disitu… Ada satu orang cewek Filipino yang kami gak tahu ada bisnis apa dia nongkrong-nongkrong di ferry port itu, dia yang akhirnya membantu kami.

Awalnya mungkin dia menebak kami dari daerah asalnya juga, dia bicara pakai bahasa tagalog ke mamilukas yang sibuk di counter… (saya nungguin barang sama anak-anak, hehe…). Setelah tahu kami dari Indonesia, eh dia gak surut lho niatnya untuk membantu. Akhirnya dia yang maju bicara di counter itu untuk kami. Dia bicara pakai bahasa mandarin. Kelihatannya sih dia sudah cukup lama juga menetap di Makau.

Begitulah... menurut cewek itu, memang kita sih sudah benar cari bookingan kamar hotel di counter-counter itu, karena kalau kita datang ke hotelnya langsung, harganya akan jauh diatasnya.

Cuma masalahnya menurut dia kami memang agak digetok harga lebih tinggi dari yang seharusnya bisa diberikan karena kami bukan orang Chinese (gak bisa bahasa mandarin), mungkin juga karena mereka melihat kami bawa anak-anak jadi butuh urgent dan mungkin bisa menerima begitu saja harga yang ditawarkan. Tapi sebelumnya saya sudah kasih limit harga paling tinggi untuk kamar ke mamilukas, kalau gak dapat dilimit itu, ya harus lapor dan koordinasi dulu ke saya, hehe...

Berapa limitnya? HKD 450! Berapa paling murah yang ditawarkan? HKD 650. Wah...

Untung ada cewek Filipino itu. Setelah berdebat panjang lebar, eh gak dikasih juga (mungkin karena pride oknum di counter itu yang sudah terlanjur kasih harga), akhirnya si cewek Filipino ngajak mamilukas ke counter yang lain yang agak jauh ke dalam. Dapetnya HKD 550 (sekitar Rp 600rb) untuk hotel sekelas bintang 4, New Century Hotel.

Syukurlah, urusan penginapan akhirnya selesai. Luar biasa juga ya solidaritas sesama negara susah di ASEAN ini.. dia bahkan sebetulnya ingin menawarkan tempat tinggalnya untuk kami, tapi berhubung kami ber-4, pasti tidak akan nyaman dikamarnya yang sangat sempit itu..begitu katanya.

Thank you sista, kami bahkan gak tahu siapa namanya...

Keluar dari ruangan port, tinggal menunggu bus hotel gratis yang mengantarkan kami kesana. Sampai di hotel hari sudah malam. Hotelnya cukup besar, juga kamarnya dan ya, terasa mewahnya. Tapi sepertinya ini hotel yang sudah cukup tua... over all worth it lah untuk seharga HKD 550 itu. Oya, kami juga diminta harus taruh deposit MOP/HKD 500 di hotel. Wah, untung aja masih ada stok uang, sebelumnya gak ada yang kasih tahu mengenai hal itu, hmm...

Setelah mandi dan istirahat sejenak, sekitar pk 9 malam kami keluar lagi untuk cari makan malam dan juga sightseeing. Kami naik bus hotel yang menuju ke Casino Lisboa (gratis ya). Sambil sightseeing di sekitar Casino Lisboa, kami berharap ada restoran murah disekitar situ.

Well, ternyata kalau malam jalanan di Makau sepi-sepi saja ya, jauh lah bila dibandingkan dengan Hongkong. Kami menelusuri jalan di pinggir pertokoan/ruko didepan Casino Lisboa, cari-cari makanan yang murah. Wah, mahal-mahal... dan sudah banyak toko-toko yang tutup, jadi tidak begitu banyak pilihan lagi.

Harga perporsi menu diatas MOP 50 (Pataca, mata uang Makau). Wah berabe juga nih...

Akhirnya ketemu juga restoran dengan price list MOP 35 yang termurahnya. Sebelum masuk tanya dulu ke penjaganya, menu yang itu masih ada gak? (in English), yes...yes... katanya...

Eh, ternyata sepertinya sudah terjadi salah pengertian nih. Begitu lihat daftar menu yang lain, saya akhirnya pilih menu seharga MOP 45, begitu juga pesanan yang lainnya (kami pesan 3 varian menu). Waktu bayar, ternyata tagihannya adalah MOP 35 x 3 menu... seperti yang kami tanya diluar sebelum masuk ke dalam restorannya. Haha...seharusnya kami kan dicharge lebih tinggi. Sebetulnya kami change our mind jadi pilih menu yang lain karena tergoda melihat foto menu lainnya yang unik, jadi pengen dicoba walaupun harganya lebih mahal, hehe... syukurlah...

Mereka juga kelihatannya tahu kalau kami adalah turis kere. Kami gak memesan minuman, karena tadi sempat beli aqua di seven eleven store dekat situ. Walau begitu, se-tea pot besar panas disediakan untuk kami for free, hehe...

Jalanan Makau disekitar Casino Lisboa cukup sepi malam itu. Waktu memang sudah menunjukkan pk 10 malam. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati untuk sekedar sightseeing saja. So, jadinya kami hanya duduk-duduk dan memandangi gemerlapnya lampu neon yang diobral dari setiap gedung yang berdiri disekitar situ. Neon-neon itu sungguh sangat cantik dan menggoda sekali untuk kita datang dan masuk kedalam gedungnya. Apa gerangan yang ada didalamnya?

Untung saja kami bawa anak-anak, jadi otomatis gak boleh masuk ke dalamnya. Ya, itu semua adalah gedung-gedung Casino (atau hotel dengan casino). Kalau bawa anak-anak gak boleh masuk! Suasana diluar kelihatannya sepi-sepi aja, tapi begitu kita masuk kedalamnya mungkin saja situasi berlawanan arah 180°.

Bosan cuma bisa duduk-duduk saja, akhirnya kami kembali ke hotel untuk istirahat. Besok adalah hari terakhir di Makau sebelum terbang kembali ke Kuala Lumpur. Kami berencana ke Venetian Hotel, ruins of St. Paul, Senado Square, dan sightseeing di dowtown Makau. Nah, kembali ke hotel naik apa ya? Hari sudah malam. Saya gak tahu jam berapa ada schedule hotel bus yang lewat disini. Ya, sebetulnya shuttle bus hotel itu beroperasi 24 jam dan gratis mengantarkan tamu hotel ke destinasi tertentu di Makau seperti; hotel/casino Lisboa ini, pier, airport, dsb. Karena anak-anak sudah mengantuk dan lelah, akhirnya kami naik taksi ke hotel. Buka pintu, argonya sudah langsung menunjukkan MOP (Patacca) 11. Sampai dihotel, argonya diangka MOP 25 saja (± Rp 27rb). Itu sudah menyeberangi laut ya melewati jembatan panjang (Sai Van) yang menghubungkan pulau Taipa dan Macau Peninsula, karena hotel kami berada di pulau Taipa, sedangkan Casino Lisboa berada di Macau Peninsula.

Pagi hari kami langsung beres-beres untuk check out dari hotel. Sebetulnya flight kami ke KL terjadwal di pk. 9 malam, tapi kami gak mau bolak-balik lagi kehotel saat kami menikmati suasana kota Makau. So, barang-barang akan kami titipkan di hotel saja, kemudian malam nanti diambil untuk langsung menuju bandara. Banyak kok yang menitipkan barang seperti itu. Gratis..! Bahkan saya baca di counternya, kita boleh kok menitipkan barang disitu sampai dengan 7 hari, namun demikian penitipan diatas 3 hari akan dikenakan biaya juga.

Kami sarapan roti yang dibeli di seven-eleven dekat casino Lisboa semalam. Untuk harga promo yang kami ambil tersebut, service hotel tidak termasuk sarapan pagi. Eh, ternyata di convenience store yang ada di hotel, harga barang-barangnya gak beda lho dibandingkan di seven-eleven semalam. Roti, minuman, cookies, dsb, kira-kira sama saja harganya.

Sebelumnya kami gak perhatikan, karena sudah terlanjur berasumsi harga di hotel berbintang itu pasti lebih mahal dari diluar. Eh, salah ya…hehe…

Dengan shuttle bus, kami ambil yang kearah Venetian Hotel yang cukup terkenal itu di Makau. Mami Lukas sudah berimajinasi macam-macam mengenai tempat ini karena katanya tempatnya cukup romantis seperti yang dia lihat di drama-drama Korea di TV kami, hehe…

Venetian hotel lokasinya gak begitu jauh dari hotel kami karena sama-sama berada di Taipa. Memang hotel ini cukup besar dan mewah. Hampir semua hotel di Makau menyediakan shuttle bus gratis ke sini dari hotelnya masing-masing. Sepertinya tempat ini menjadi ikon must visit kalau kita ke Makau. Turis-turis dari berbagai macam bangsa tumpah ruah disini. Bus-bus besar datang dan pergi mengangkut mereka dengan ritme waktu yang sempit.

Saya sendiri selama mengeksplor tempat itu gak pernah tahu bagian mana sebetulnya yang menjadi hotelnya. Hampir semua tempat yang dijelajahi adalah butik-butik pertokoan yang ditata cukup elit. Ditengahnya adalah kanal sungai buatan yang membelah butik-butik itu menjadi dua bagian; sisi kiri dan kanan. Nah, dikanal buatan itulah perahu-perahu Venetian (gondola) disewa untuk mengelilingi semua bagian hotel yang cukup luas itu. Beberapa nakhoda-nya ada yang diimpor langsung dari Italy, bule! Mereka bernyanyi atau mengajak ngobrol penumpangnya sambil mengendalikan gondola. Yah, begitu aja sih… Kalau gak salah, tarif sewa gondola/perahu itu adalah MOP 108 untuk dewasa, dan MOP 80 untuk anak-anak, diluar tips nakhodanya ya…

Saya sih kok feel biasa-biasa aja ya mengenai tempat itu. Yah, terkesan imitasi-nya, saya gak terlalu suka.

Di kanal-kanal atau sungai buatan itu juga saya lihat banyak uang koin bertebaran didasarnya. Entah apa maksud orang-orang yang melemparkan uang koin kesitu... Tapi saya bilang ke MamiLukas, kalau diperbolehkan, saya mau dan gak malu untuk memunguti semua uang-uang koin itu, hehe... banyak lho...!!

Kami masuk ke salah satu butik makanan/kue untuk cindera mata (Pastelaria Koi Kei). Beli 2 paketnya yang cukup murah, dan pergi ke tujuan selanjutnya Ruins of St. Paul.

Kalau sudah di Venetian Hotel dan ingin ke tujuan lainnya, jangan lagi cuma berpatokan ke shuttle bus hotel kita (hotel kita menginap), tapi bebas aja naik bus-bus itu kemana mau kita pergi. Tidak akan ditanya kita tamu hotel mana, kartu identitas/paspor-nya, atau apapun juga kecuali satu pertanyaan; Where do you want to go sir/mam..?

Kalau tujuan bus itu cocok dengan tujuan kita, langsung naik, duduk manis, dan lihat-lihat perjalanan dari kaca jendela sampai ke tempat tujuan kita. Gratis..!! Asyik ya...?!

Kemarin itu saya naik Venetian Hotel bus ke Ferry pier (nyeberang laut ya, dari Taipa ke Macau peninsula). Dari Ferry pier, naik shuttle bus gratis lagi ke Hotel Lisboa (saya udah lupa naik bus apa, hehe...). Sampai Hotel Lisboa, tanya-tanya ke arah Ruins of St. Paul atau Senado Square. Yup, jalan kaki lagi deh…

Nah, baru terasa deh kalau kotanya hidup. Orang-orang berlalu lalang ditrotoar yang ke arah Senado Square. Antara penduduk atau turis mungkin komposisinya adalah fifty-fifty. Kotanya cukup tertata rapih, mirip seperti di Hongkong lah, tapi smell Euro-nya lebih terasa disini. Lansekap Eropa-nya cukup kental, ada nuansa yang berbeda dibandingkan Hongkong.

Senado Square sendiri adalah lapangan yang dilapisi batu-batu mosaik berwarna-warni dengan motif ombak. Di lokasi yang sama shopping shoppes dengan venue cindera mata, pakaian dan asesoris, juga makanan banyak bertebaran dimana-mana (ikuti saja jalan utamanya dari gereja St. Dominic menuju ruins of St. Paul). Sambil sightseeing sepanjang jalan, tak terasa sampai juga di ruins of St. Paul, cathedral portugis yang dibangun antara tahun 1582-1602. Cathedral St. Paul merupakan cathedral yang terbesar di asia pada masanya. Sayang pada tahun 1835, cathedral itu rusak karena kebakaran saat typhoon melanda Makau. Yang tersisa saat ini adalah gerbang selatan-nya saja yang patung-patungnya diukir dan ditempa oleh pengikut Christian asal Jepang sekitar tahun 1620-1637.

Yah, akhirnya kami sampai juga di ruins of St. Paul. Setelah puas duduk-duduk disitu sambil makanin cemilan dan foto-foto juga, akhirnya kami turun walk away melewati jalan-jalan kuno yang mengarah ke Grand Lisboa. Dari Grand Lisboa, kami naik taksi ke hotel, ambil barang-barang, menunggu shuttle bus yang ke airport untuk selanjutnya terbang ke Kuala Lumpur.

To be continued...

Kamar kami di New Century Hotel, Macau.

Patung-patung ini ada didepan hotel New Century.


Neon sign seputaran Grand Lisboa.

Ini dia makanan yang harganya MOP 45, tapi bayarnya jadi MOP 35, hehe...


Langit-langit The Venetian Macao. Mewah ya...

The Grand Canal Shoppes di The Venetian.

Grand Lisboa.

Dari Grand Lisboa menuju Senado Square.

Ini dia Senado Square...



Gereja St. Dominic di seputaran Senado Square.


Jalan dari Senado Square menuju Ruins of St. Paul.


Ruins of St. Paul

Senado Square bird view dari gedung Instituto Para Os Assuntos Civicos E Municipais (Macao Central Library) yang berada persis diseberang Senado Square.





Ada temple disebelahnya Ruins of St. Paul


Pastelaria Koi Kei di jalan menuju Ruins of St. Paul dari Senado Square. Sayang, kami sudah beli sebelumnya di The Venetian...


Melewati jalan-jalan kuno dari ruins of St. Paul menuju Grand Lisboa. Kalau capek, duduk-duduk dulu menikmati suasana eropa di sekelilingnya. Udah bosan, lanjut lagi deh...

Grand Lisboa.

Casino Lisboa.

Tuesday, July 12, 2011

Transit di Kuala Lumpur

Pesawat kami delay berangkat dari Makau. Baru sekitar pk 2 malam pesawat mendarat di Kuala Lumpur. Trus gimana nih? Ya begitulah, seperti saya tulis diawal, bandara LCCT kurang bersahabat bagi penumpang transit atau yang datang tengah malam seperti kami ini. Tidak ada bench yang nyaman untuk berebahan. Restoran-restoran dengan kursi sofanya-pun ditumpuk supaya tidak ada orang yang tidur di sofa itu. Padahal restoran-restoran itu sebetulnya open 24 jam lho.. hanya kursi duduk 1-1.nya saja yang tersedia bagi pelanggan yang mau mampir masuk direstoran itu. Jadi semua venue di bandara itu seakan sudah satu komando, dilarang orang tidur dibandara!
Saya bawa anak-anak keluar bandara, di dekat shuttle bus tujuan ke KL Central ada bench kosong yang tidak ada arm-nya. Kami istirahat disitu. Sebetulnya saya sudah booking Tune Hotel di downtown KL untuk bisa check in dari satu hari sebelumnya. Artinya kami sudah boleh masuk hotel di pagi buta itu juga. Oya, Tune Hotel juga merupakan grup hotel hemat yang sering mengeluarkan promo di waktu-waktu tertentu. Kelemahannya, waktu check in di hotel ini adalah pk. 2 siang, dan waktu check outnya adalah pk. 10 pagi. Karena itu saya ambil waktu check in disini di satu hari sebelumnya, sehingga saat kami sampai tengah malam itu bisa langsung masuk ke hotel tanpa perlu menunggu sampai pk. 2 siang nanti! Saat saya booking, ratenya adalah sekitar Rp 140rb/malam-nya. Kamarnya sendiri lumayan bagus, tapi harus mengeluarkan dana ekstra untuk membeli voucher AC-nya. Ya, rate yang tadi disebutkan not include AC. Gak mahal sih, sekitar Rp 50rb lah untuk voucher 48 jam pemakaian AC. Kami juga mencuci pakaian kotor disini dengan binatu self service. Masukan koin RM 3 untuk mesin cucinya, dan RM 2 untuk mesin pengeringnya.
Oya, lupa kasih tahu, dari LCCT kami naik Aerobus ke KL Central. Ongkosnya RM 8 per orang dewasa, dan rate untuk anak-anak adalah setengahnya. Ada beberapa shuttle bus dari LCCT ke KL Central, salah satunya adalah SkyBus. Tapi yang ini lebih mahal, RM 9 untuk one way-nya. Kami cari yang murahnya saja, walau katanya (saya tanya ke pramugari yang sama-sama naik Aerobus juga) Aerobus agak berbau aroma orang India didalamnya dibandingkan SkyBus. Juga lebih kotor dsb. Hah, RM 1 kan lumayan, hehe... cari yang murah aja lah, sama seperti para pramugari/pramugara itu, mereka juga pakai Aerobus.

Sampai di KL Central, masih malam atau pagi buta. Moda-moda angkutan masih belum beroperasi kecuali taksi (sebetulnya ada monorail juga bus). Kami naik taksi dari sini ke Tune Hotel dengan harga paket non argo setelah tawar menawar, dapatnya RM 25. Worth it lah...
Supir taksi di KL sepertinya punya tipikal suka mengobrol dengan penumpangnya. Atau karena mereka tahu penumpangnya adalah saudara serumpun, jadi tidak sulit untuk berkomunikasi selain juga karena rasa keingin-tahuan mereka...
Pak Cik dari mana ke, kenapa malam begini sampai KL..?
Saat pulang meninggalkan KL menuju Jakarta, kami juga pakai taksi dari hotel ke KL Central. Jadwal pesawat flight pk. 7 pagi, jadi kami harus meninggalkan hotel di pagi subuh karena waktu tempuh dari KL central ke airport adalah 1 jam pas, belum lagi harus antri boarding dan imigrasinya..
Supir taksi yang mengantar kami pulang itupun langsung akrab mengobrol lancar bebas sesukanya. Saya cerita pengalaman kami travelling sampai di KL waktu itu. Menurut dia, saya cukup wealthy karena bisa jalan-jalan ke LN bawa keluarga. Ia cerita kalau pendapatannya di KL kira-kira RM 3000 sebulannya. Dari jumlah itu, setengahnya sudah pasti disisihkan untuk pembayaran cicilan rumah dan taksinya. Setengahnya lagi ya untuk biaya hidup sehari-hari keluarganya dengan 2 anak (istrinya tidak bekerja alias ibu rumah tangga saja). Saya terka mungkin usianya sekitar 30-an. 32 atau 33 begitu...
Hidup di Kuala Lumpur susah katanya.. disini semuanya serba mahal. Untuk itu ia bekerja keras sebagai office boy dari pagi sampai sore. Kemudian jadi supir taksi malam hingga pagi harinya. Wah, gak istirahat apa..?
Katanya, enak jadi office boy. Kerjanya cuma pagi hari saja, membersihkan ruang kantor, menyiapkan teh dan kopi untuk para karyawan. Setelah itu tidur sepanjang hari sampai hanya siang dan juga sorenya menyediakan dan membersihkan kembali minuman para karyawan tadi. So, narik taksi malam harinya jadi gak masalah kan..? Wah, hebat juga semangat dan usahanya ya...
Macam-macamlah dia cerita sepanjang kira-kira 20 menit perjalanan taksinya itu. Ia menyebut siapa-siapa saja para pemain sepak bola Indonesia yang merumput di Malaysia, juga sebaliknya para pemain Malaysia yang merumput di liga Indonesia.
Saya cuma tercenung, anak ini dengan bekerja sebagai office boy dan supir taksi bisa menghasilkan RM 3000 sebulannya. Jumlah yang gak jauh berbeda dari yang saya terima di Jakarta. Padahal dia cerita kalau dia dulu nakal dan gak berpikir untuk melanjutkan sekolahnya ke level yang lebih tinggi. Hanya sampai senior high school saja sepertinya. Bagaimana kalau dia bekerja seperti itu tapi di Jakarta ya, apa bisa didapat jumlah yang sama...??! Hmm...

Ada yang berbeda di Kuala Lumpur mengenai angkutan busnya..
Dulu saat pertama kali datang kesini, busnya seperti bus Mayasari di Jakarta. Ada keneknya. Ongkosnya adalah RM 1 dan dapat sobekan karcisnya. Dulu sepertinya menjadi aturan tak tertulis kalau anak-anak dibawah umur sekitar 7 tahun adalah free of charge. Saya pernah naik bus itu keliling-keliling dowtown Kuala Lumpur. Kami ber-4 hanya dicharge RM2 saja. Ya, itu cuma ongkos bus untuk orang dewasanya saja. Anak-anak bebas biaya..
Tapi sekarang sudah berbeda..!
Sepertinya sudah tidak ada lagi bus yang kondisinya seperti bus Mayasari itu. Bas/bus disana sekarang sudah seperti bus di Singapore, Hongkong, atau Jepang! Ya, busnya rata-rata baru dibawah manajemen Rapid KL yang memanajemeni monorail dan RLT (kereta/subway) juga. Busnya sudah tidak ada keneknya lagi. Hanya sopirnya saja sendiri menyetir bus, dan berhenti hanya di bus stop tertentu yang sudah ditentukan. Pintunya di kendalikan otomatis. Bentuk busnya sangat modern persis seperti di Hongkong atau Singapore!
Saya tanya, ternyata sistem ini baru sekitar 2 tahun berjalan. Lucunya, gak bisa bayar cash diatas bus. Tidak ada kotak uang cash-nya. Jadi harus pakai semacam kartu berlangganan gitu, namanya Rapid Pass. Waduh...
Kami cuma 3 kali naik bus disana waktu itu. Kami cuek aja naik, walaupun sudah tahu (dari pengalaman pertama naik) bahwa harus bayar pakai rapid pass, gak boleh dengan uang cash (aneh ya..?). Sampai di atas, pura-pura bego aja, kami turis nih, gak punya rapid pass...
Eh, sopirnya bingung sendiri, akhirnya minta uang cash aja RM 5 untuk kami ber-4. Lho kok malah jadi lebih mahal ya? Ya, tak apa lah, hehe...
RM 5 itu langsung masuk ke kantongnya. Lucunya lagi si sopir menawarkan kami mau turun dimana? Lho...? Iya, saya bilang mau jalan-jalan di Bukit Bintang, eh busnya diberhentikan dijalanan yang sebetulnya bukan perhentian busnya (bus stop/bus station-nya), hehe...
Busnya sih baru, malah lebih keren dibandingkan di Hongkong, Jepang, ataupun Singapore, tapi kelakuan sopirnya sih masih sama saja.. masih serumpun dengan kita ini, haha...

Kemana saja selama di KL?
Ya, cuma ke twin tower dan jalan-jalan di sekitaran Bukit Bintang aja sih. Oya, juga ke China Town dan Central Market atau Pasar Seni-nya. Begitu aja...
Kesannya kok KL sekarang lebih kotor ya..?! Dulu sepertinya gak begitu..
Area twin tower (jalanan dan tamannya) banyak plastik sampah berserakan seakan tidak ada/kurang petugas yang menanganinya.
Oya, banyak sekali turis timur tengah disini (sekitar Bukit Bintang). Ada yang bercadar cuma terlihat matanya saja, tapi banyak juga yang berpakaian modern minimalis. Dari bahasanya, saya kira mereka berasal dari Timur Tengah begitu deh...
Sepertinya mereka senang sekali disana, comot-comot barang dipertokoan sepanjang Bukit Bintang itu tanpa ada limitnya. Terlihat dari tentengan ditangan mereka... Gimana tuh bawanya pulang? Wah...
Saya sih sebelumnya punya rencana untuk mencoba English Afternoon Tea di Carcosa Seri Negara, tapi anak-anak sudah terlalu capek untuk round-round di penghujung travelling kami itu. Ya sudahlah, mungkin masih ada kesempatan di lain waktu lagi...

* * * E N D * * *


Bird view dari Tune Hotel downtown KL.

Terminal Puduraya sekarang sudah modern setelah direnovasi habis-habisan...

Children playground dibelakang KLCC.


Taman di belakang KLCC.