Wednesday, July 13, 2011

Macau - City of Dreams

Setelah 8 hari 7 malam di Hongkong, kami kembali ke Makau untuk transit pulang sekaligus jalan-jalan 2 hari (stay 1 malam) disana.

Dihari terakhir kami di Hongkong, saya masih asyik menikmati suasana Kowloon Park hingga akhirnya jadi molor dari waktu yang sudah direncanakan untuk nyeberang ke Makau. Alhasil jadinya dapat tiket sore yang jatuhnya lebih mahal dari tiket ferry untuk jadwal di siang hari. Ya sudahlah... 8 hari 7 malam ternyata masih belum cukup ya untuk bisa larut sepenuhnya dalam atmosfir kota Hongkong yang beragam itu.

Sekitar pk. 5 sore, kapal kami sandar di ferry port di Makau. Trus kemana nih? Lho...

Iya, sebetulnya kami belum booking hotel atau guesthouse disana. Jauh hari sebelumnya sih saya sudah cari-cari, tapi belum ketemu yang sreg. So, jadinya coba nekat go show aja cari penginapan disana. Soalnya saya pernah baca referensi, kalau di Makau ferry port itu suka ada penawaran hotel berbintang yang diskon besar-besaran. Berhubung cuma stay 1 malam saja, maka saya coba gambling ikuti referensi tersebut. Namanya juga Makau, kota judi, segala sesuatunya kita coba sejauh mana peruntungan kita, hehe...

Oya, sebetulnya juga, saya rencanakan untuk booking hotel di Makau pada saat kedatangan pertama transit dari KL menuju Hongkong di-8 hari sebelumnya. Tapi waktu itu sangat terburu-buru karena waktu keberangkatan ferry-nya mepet sekali, gak sempat booking yah beginilah jadinya…

Ada beberapa counter disitu yang menawarkan jasa booking kamar hotel yang murah. Tapi semurah-murahnya ya tetap aja mahal-mahal..! Begitulah, itu karena di Makau umumnya lebih banyak hotel-hotel berbintang dari pada guesthouse-nya. Ada sih beberapa penginapan sekelas guesthouse yang saya tahu hasil googling, tapi saya mau coba mengincar kamar di hotel berbintangnya kalau benar ada yang murah, hehe..

Tapi dear bro & sista, jangan coba-coba nekat ikuti cara saya ini ya! Kamar hotel yang ditawarkan di counter-counter itu gak lebih murah dari yang beberapa bulan sebelumnya saya coba searching di Agoda atau Hotelsworld. Jatuhnya malah lebih mahal sedikit dari yang di Agoda. Belum lagi ternyata kita juga harus tawar-tawaran di counter itu. Pindah ke counter lainnya, cek lagi ke counter yang satunya lagi...wah repot deh.

Karena bawa anak-anak, mungkin ada yang perhatikan kesulitan kami disitu… Ada satu orang cewek Filipino yang kami gak tahu ada bisnis apa dia nongkrong-nongkrong di ferry port itu, dia yang akhirnya membantu kami.

Awalnya mungkin dia menebak kami dari daerah asalnya juga, dia bicara pakai bahasa tagalog ke mamilukas yang sibuk di counter… (saya nungguin barang sama anak-anak, hehe…). Setelah tahu kami dari Indonesia, eh dia gak surut lho niatnya untuk membantu. Akhirnya dia yang maju bicara di counter itu untuk kami. Dia bicara pakai bahasa mandarin. Kelihatannya sih dia sudah cukup lama juga menetap di Makau.

Begitulah... menurut cewek itu, memang kita sih sudah benar cari bookingan kamar hotel di counter-counter itu, karena kalau kita datang ke hotelnya langsung, harganya akan jauh diatasnya.

Cuma masalahnya menurut dia kami memang agak digetok harga lebih tinggi dari yang seharusnya bisa diberikan karena kami bukan orang Chinese (gak bisa bahasa mandarin), mungkin juga karena mereka melihat kami bawa anak-anak jadi butuh urgent dan mungkin bisa menerima begitu saja harga yang ditawarkan. Tapi sebelumnya saya sudah kasih limit harga paling tinggi untuk kamar ke mamilukas, kalau gak dapat dilimit itu, ya harus lapor dan koordinasi dulu ke saya, hehe...

Berapa limitnya? HKD 450! Berapa paling murah yang ditawarkan? HKD 650. Wah...

Untung ada cewek Filipino itu. Setelah berdebat panjang lebar, eh gak dikasih juga (mungkin karena pride oknum di counter itu yang sudah terlanjur kasih harga), akhirnya si cewek Filipino ngajak mamilukas ke counter yang lain yang agak jauh ke dalam. Dapetnya HKD 550 (sekitar Rp 600rb) untuk hotel sekelas bintang 4, New Century Hotel.

Syukurlah, urusan penginapan akhirnya selesai. Luar biasa juga ya solidaritas sesama negara susah di ASEAN ini.. dia bahkan sebetulnya ingin menawarkan tempat tinggalnya untuk kami, tapi berhubung kami ber-4, pasti tidak akan nyaman dikamarnya yang sangat sempit itu..begitu katanya.

Thank you sista, kami bahkan gak tahu siapa namanya...

Keluar dari ruangan port, tinggal menunggu bus hotel gratis yang mengantarkan kami kesana. Sampai di hotel hari sudah malam. Hotelnya cukup besar, juga kamarnya dan ya, terasa mewahnya. Tapi sepertinya ini hotel yang sudah cukup tua... over all worth it lah untuk seharga HKD 550 itu. Oya, kami juga diminta harus taruh deposit MOP/HKD 500 di hotel. Wah, untung aja masih ada stok uang, sebelumnya gak ada yang kasih tahu mengenai hal itu, hmm...

Setelah mandi dan istirahat sejenak, sekitar pk 9 malam kami keluar lagi untuk cari makan malam dan juga sightseeing. Kami naik bus hotel yang menuju ke Casino Lisboa (gratis ya). Sambil sightseeing di sekitar Casino Lisboa, kami berharap ada restoran murah disekitar situ.

Well, ternyata kalau malam jalanan di Makau sepi-sepi saja ya, jauh lah bila dibandingkan dengan Hongkong. Kami menelusuri jalan di pinggir pertokoan/ruko didepan Casino Lisboa, cari-cari makanan yang murah. Wah, mahal-mahal... dan sudah banyak toko-toko yang tutup, jadi tidak begitu banyak pilihan lagi.

Harga perporsi menu diatas MOP 50 (Pataca, mata uang Makau). Wah berabe juga nih...

Akhirnya ketemu juga restoran dengan price list MOP 35 yang termurahnya. Sebelum masuk tanya dulu ke penjaganya, menu yang itu masih ada gak? (in English), yes...yes... katanya...

Eh, ternyata sepertinya sudah terjadi salah pengertian nih. Begitu lihat daftar menu yang lain, saya akhirnya pilih menu seharga MOP 45, begitu juga pesanan yang lainnya (kami pesan 3 varian menu). Waktu bayar, ternyata tagihannya adalah MOP 35 x 3 menu... seperti yang kami tanya diluar sebelum masuk ke dalam restorannya. Haha...seharusnya kami kan dicharge lebih tinggi. Sebetulnya kami change our mind jadi pilih menu yang lain karena tergoda melihat foto menu lainnya yang unik, jadi pengen dicoba walaupun harganya lebih mahal, hehe... syukurlah...

Mereka juga kelihatannya tahu kalau kami adalah turis kere. Kami gak memesan minuman, karena tadi sempat beli aqua di seven eleven store dekat situ. Walau begitu, se-tea pot besar panas disediakan untuk kami for free, hehe...

Jalanan Makau disekitar Casino Lisboa cukup sepi malam itu. Waktu memang sudah menunjukkan pk 10 malam. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati untuk sekedar sightseeing saja. So, jadinya kami hanya duduk-duduk dan memandangi gemerlapnya lampu neon yang diobral dari setiap gedung yang berdiri disekitar situ. Neon-neon itu sungguh sangat cantik dan menggoda sekali untuk kita datang dan masuk kedalam gedungnya. Apa gerangan yang ada didalamnya?

Untung saja kami bawa anak-anak, jadi otomatis gak boleh masuk ke dalamnya. Ya, itu semua adalah gedung-gedung Casino (atau hotel dengan casino). Kalau bawa anak-anak gak boleh masuk! Suasana diluar kelihatannya sepi-sepi aja, tapi begitu kita masuk kedalamnya mungkin saja situasi berlawanan arah 180°.

Bosan cuma bisa duduk-duduk saja, akhirnya kami kembali ke hotel untuk istirahat. Besok adalah hari terakhir di Makau sebelum terbang kembali ke Kuala Lumpur. Kami berencana ke Venetian Hotel, ruins of St. Paul, Senado Square, dan sightseeing di dowtown Makau. Nah, kembali ke hotel naik apa ya? Hari sudah malam. Saya gak tahu jam berapa ada schedule hotel bus yang lewat disini. Ya, sebetulnya shuttle bus hotel itu beroperasi 24 jam dan gratis mengantarkan tamu hotel ke destinasi tertentu di Makau seperti; hotel/casino Lisboa ini, pier, airport, dsb. Karena anak-anak sudah mengantuk dan lelah, akhirnya kami naik taksi ke hotel. Buka pintu, argonya sudah langsung menunjukkan MOP (Patacca) 11. Sampai dihotel, argonya diangka MOP 25 saja (± Rp 27rb). Itu sudah menyeberangi laut ya melewati jembatan panjang (Sai Van) yang menghubungkan pulau Taipa dan Macau Peninsula, karena hotel kami berada di pulau Taipa, sedangkan Casino Lisboa berada di Macau Peninsula.

Pagi hari kami langsung beres-beres untuk check out dari hotel. Sebetulnya flight kami ke KL terjadwal di pk. 9 malam, tapi kami gak mau bolak-balik lagi kehotel saat kami menikmati suasana kota Makau. So, barang-barang akan kami titipkan di hotel saja, kemudian malam nanti diambil untuk langsung menuju bandara. Banyak kok yang menitipkan barang seperti itu. Gratis..! Bahkan saya baca di counternya, kita boleh kok menitipkan barang disitu sampai dengan 7 hari, namun demikian penitipan diatas 3 hari akan dikenakan biaya juga.

Kami sarapan roti yang dibeli di seven-eleven dekat casino Lisboa semalam. Untuk harga promo yang kami ambil tersebut, service hotel tidak termasuk sarapan pagi. Eh, ternyata di convenience store yang ada di hotel, harga barang-barangnya gak beda lho dibandingkan di seven-eleven semalam. Roti, minuman, cookies, dsb, kira-kira sama saja harganya.

Sebelumnya kami gak perhatikan, karena sudah terlanjur berasumsi harga di hotel berbintang itu pasti lebih mahal dari diluar. Eh, salah ya…hehe…

Dengan shuttle bus, kami ambil yang kearah Venetian Hotel yang cukup terkenal itu di Makau. Mami Lukas sudah berimajinasi macam-macam mengenai tempat ini karena katanya tempatnya cukup romantis seperti yang dia lihat di drama-drama Korea di TV kami, hehe…

Venetian hotel lokasinya gak begitu jauh dari hotel kami karena sama-sama berada di Taipa. Memang hotel ini cukup besar dan mewah. Hampir semua hotel di Makau menyediakan shuttle bus gratis ke sini dari hotelnya masing-masing. Sepertinya tempat ini menjadi ikon must visit kalau kita ke Makau. Turis-turis dari berbagai macam bangsa tumpah ruah disini. Bus-bus besar datang dan pergi mengangkut mereka dengan ritme waktu yang sempit.

Saya sendiri selama mengeksplor tempat itu gak pernah tahu bagian mana sebetulnya yang menjadi hotelnya. Hampir semua tempat yang dijelajahi adalah butik-butik pertokoan yang ditata cukup elit. Ditengahnya adalah kanal sungai buatan yang membelah butik-butik itu menjadi dua bagian; sisi kiri dan kanan. Nah, dikanal buatan itulah perahu-perahu Venetian (gondola) disewa untuk mengelilingi semua bagian hotel yang cukup luas itu. Beberapa nakhoda-nya ada yang diimpor langsung dari Italy, bule! Mereka bernyanyi atau mengajak ngobrol penumpangnya sambil mengendalikan gondola. Yah, begitu aja sih… Kalau gak salah, tarif sewa gondola/perahu itu adalah MOP 108 untuk dewasa, dan MOP 80 untuk anak-anak, diluar tips nakhodanya ya…

Saya sih kok feel biasa-biasa aja ya mengenai tempat itu. Yah, terkesan imitasi-nya, saya gak terlalu suka.

Di kanal-kanal atau sungai buatan itu juga saya lihat banyak uang koin bertebaran didasarnya. Entah apa maksud orang-orang yang melemparkan uang koin kesitu... Tapi saya bilang ke MamiLukas, kalau diperbolehkan, saya mau dan gak malu untuk memunguti semua uang-uang koin itu, hehe... banyak lho...!!

Kami masuk ke salah satu butik makanan/kue untuk cindera mata (Pastelaria Koi Kei). Beli 2 paketnya yang cukup murah, dan pergi ke tujuan selanjutnya Ruins of St. Paul.

Kalau sudah di Venetian Hotel dan ingin ke tujuan lainnya, jangan lagi cuma berpatokan ke shuttle bus hotel kita (hotel kita menginap), tapi bebas aja naik bus-bus itu kemana mau kita pergi. Tidak akan ditanya kita tamu hotel mana, kartu identitas/paspor-nya, atau apapun juga kecuali satu pertanyaan; Where do you want to go sir/mam..?

Kalau tujuan bus itu cocok dengan tujuan kita, langsung naik, duduk manis, dan lihat-lihat perjalanan dari kaca jendela sampai ke tempat tujuan kita. Gratis..!! Asyik ya...?!

Kemarin itu saya naik Venetian Hotel bus ke Ferry pier (nyeberang laut ya, dari Taipa ke Macau peninsula). Dari Ferry pier, naik shuttle bus gratis lagi ke Hotel Lisboa (saya udah lupa naik bus apa, hehe...). Sampai Hotel Lisboa, tanya-tanya ke arah Ruins of St. Paul atau Senado Square. Yup, jalan kaki lagi deh…

Nah, baru terasa deh kalau kotanya hidup. Orang-orang berlalu lalang ditrotoar yang ke arah Senado Square. Antara penduduk atau turis mungkin komposisinya adalah fifty-fifty. Kotanya cukup tertata rapih, mirip seperti di Hongkong lah, tapi smell Euro-nya lebih terasa disini. Lansekap Eropa-nya cukup kental, ada nuansa yang berbeda dibandingkan Hongkong.

Senado Square sendiri adalah lapangan yang dilapisi batu-batu mosaik berwarna-warni dengan motif ombak. Di lokasi yang sama shopping shoppes dengan venue cindera mata, pakaian dan asesoris, juga makanan banyak bertebaran dimana-mana (ikuti saja jalan utamanya dari gereja St. Dominic menuju ruins of St. Paul). Sambil sightseeing sepanjang jalan, tak terasa sampai juga di ruins of St. Paul, cathedral portugis yang dibangun antara tahun 1582-1602. Cathedral St. Paul merupakan cathedral yang terbesar di asia pada masanya. Sayang pada tahun 1835, cathedral itu rusak karena kebakaran saat typhoon melanda Makau. Yang tersisa saat ini adalah gerbang selatan-nya saja yang patung-patungnya diukir dan ditempa oleh pengikut Christian asal Jepang sekitar tahun 1620-1637.

Yah, akhirnya kami sampai juga di ruins of St. Paul. Setelah puas duduk-duduk disitu sambil makanin cemilan dan foto-foto juga, akhirnya kami turun walk away melewati jalan-jalan kuno yang mengarah ke Grand Lisboa. Dari Grand Lisboa, kami naik taksi ke hotel, ambil barang-barang, menunggu shuttle bus yang ke airport untuk selanjutnya terbang ke Kuala Lumpur.

To be continued...

Kamar kami di New Century Hotel, Macau.

Patung-patung ini ada didepan hotel New Century.


Neon sign seputaran Grand Lisboa.

Ini dia makanan yang harganya MOP 45, tapi bayarnya jadi MOP 35, hehe...


Langit-langit The Venetian Macao. Mewah ya...

The Grand Canal Shoppes di The Venetian.

Grand Lisboa.

Dari Grand Lisboa menuju Senado Square.

Ini dia Senado Square...



Gereja St. Dominic di seputaran Senado Square.


Jalan dari Senado Square menuju Ruins of St. Paul.


Ruins of St. Paul

Senado Square bird view dari gedung Instituto Para Os Assuntos Civicos E Municipais (Macao Central Library) yang berada persis diseberang Senado Square.





Ada temple disebelahnya Ruins of St. Paul


Pastelaria Koi Kei di jalan menuju Ruins of St. Paul dari Senado Square. Sayang, kami sudah beli sebelumnya di The Venetian...


Melewati jalan-jalan kuno dari ruins of St. Paul menuju Grand Lisboa. Kalau capek, duduk-duduk dulu menikmati suasana eropa di sekelilingnya. Udah bosan, lanjut lagi deh...

Grand Lisboa.

Casino Lisboa.

Tuesday, July 12, 2011

Transit di Kuala Lumpur

Pesawat kami delay berangkat dari Makau. Baru sekitar pk 2 malam pesawat mendarat di Kuala Lumpur. Trus gimana nih? Ya begitulah, seperti saya tulis diawal, bandara LCCT kurang bersahabat bagi penumpang transit atau yang datang tengah malam seperti kami ini. Tidak ada bench yang nyaman untuk berebahan. Restoran-restoran dengan kursi sofanya-pun ditumpuk supaya tidak ada orang yang tidur di sofa itu. Padahal restoran-restoran itu sebetulnya open 24 jam lho.. hanya kursi duduk 1-1.nya saja yang tersedia bagi pelanggan yang mau mampir masuk direstoran itu. Jadi semua venue di bandara itu seakan sudah satu komando, dilarang orang tidur dibandara!
Saya bawa anak-anak keluar bandara, di dekat shuttle bus tujuan ke KL Central ada bench kosong yang tidak ada arm-nya. Kami istirahat disitu. Sebetulnya saya sudah booking Tune Hotel di downtown KL untuk bisa check in dari satu hari sebelumnya. Artinya kami sudah boleh masuk hotel di pagi buta itu juga. Oya, Tune Hotel juga merupakan grup hotel hemat yang sering mengeluarkan promo di waktu-waktu tertentu. Kelemahannya, waktu check in di hotel ini adalah pk. 2 siang, dan waktu check outnya adalah pk. 10 pagi. Karena itu saya ambil waktu check in disini di satu hari sebelumnya, sehingga saat kami sampai tengah malam itu bisa langsung masuk ke hotel tanpa perlu menunggu sampai pk. 2 siang nanti! Saat saya booking, ratenya adalah sekitar Rp 140rb/malam-nya. Kamarnya sendiri lumayan bagus, tapi harus mengeluarkan dana ekstra untuk membeli voucher AC-nya. Ya, rate yang tadi disebutkan not include AC. Gak mahal sih, sekitar Rp 50rb lah untuk voucher 48 jam pemakaian AC. Kami juga mencuci pakaian kotor disini dengan binatu self service. Masukan koin RM 3 untuk mesin cucinya, dan RM 2 untuk mesin pengeringnya.
Oya, lupa kasih tahu, dari LCCT kami naik Aerobus ke KL Central. Ongkosnya RM 8 per orang dewasa, dan rate untuk anak-anak adalah setengahnya. Ada beberapa shuttle bus dari LCCT ke KL Central, salah satunya adalah SkyBus. Tapi yang ini lebih mahal, RM 9 untuk one way-nya. Kami cari yang murahnya saja, walau katanya (saya tanya ke pramugari yang sama-sama naik Aerobus juga) Aerobus agak berbau aroma orang India didalamnya dibandingkan SkyBus. Juga lebih kotor dsb. Hah, RM 1 kan lumayan, hehe... cari yang murah aja lah, sama seperti para pramugari/pramugara itu, mereka juga pakai Aerobus.

Sampai di KL Central, masih malam atau pagi buta. Moda-moda angkutan masih belum beroperasi kecuali taksi (sebetulnya ada monorail juga bus). Kami naik taksi dari sini ke Tune Hotel dengan harga paket non argo setelah tawar menawar, dapatnya RM 25. Worth it lah...
Supir taksi di KL sepertinya punya tipikal suka mengobrol dengan penumpangnya. Atau karena mereka tahu penumpangnya adalah saudara serumpun, jadi tidak sulit untuk berkomunikasi selain juga karena rasa keingin-tahuan mereka...
Pak Cik dari mana ke, kenapa malam begini sampai KL..?
Saat pulang meninggalkan KL menuju Jakarta, kami juga pakai taksi dari hotel ke KL Central. Jadwal pesawat flight pk. 7 pagi, jadi kami harus meninggalkan hotel di pagi subuh karena waktu tempuh dari KL central ke airport adalah 1 jam pas, belum lagi harus antri boarding dan imigrasinya..
Supir taksi yang mengantar kami pulang itupun langsung akrab mengobrol lancar bebas sesukanya. Saya cerita pengalaman kami travelling sampai di KL waktu itu. Menurut dia, saya cukup wealthy karena bisa jalan-jalan ke LN bawa keluarga. Ia cerita kalau pendapatannya di KL kira-kira RM 3000 sebulannya. Dari jumlah itu, setengahnya sudah pasti disisihkan untuk pembayaran cicilan rumah dan taksinya. Setengahnya lagi ya untuk biaya hidup sehari-hari keluarganya dengan 2 anak (istrinya tidak bekerja alias ibu rumah tangga saja). Saya terka mungkin usianya sekitar 30-an. 32 atau 33 begitu...
Hidup di Kuala Lumpur susah katanya.. disini semuanya serba mahal. Untuk itu ia bekerja keras sebagai office boy dari pagi sampai sore. Kemudian jadi supir taksi malam hingga pagi harinya. Wah, gak istirahat apa..?
Katanya, enak jadi office boy. Kerjanya cuma pagi hari saja, membersihkan ruang kantor, menyiapkan teh dan kopi untuk para karyawan. Setelah itu tidur sepanjang hari sampai hanya siang dan juga sorenya menyediakan dan membersihkan kembali minuman para karyawan tadi. So, narik taksi malam harinya jadi gak masalah kan..? Wah, hebat juga semangat dan usahanya ya...
Macam-macamlah dia cerita sepanjang kira-kira 20 menit perjalanan taksinya itu. Ia menyebut siapa-siapa saja para pemain sepak bola Indonesia yang merumput di Malaysia, juga sebaliknya para pemain Malaysia yang merumput di liga Indonesia.
Saya cuma tercenung, anak ini dengan bekerja sebagai office boy dan supir taksi bisa menghasilkan RM 3000 sebulannya. Jumlah yang gak jauh berbeda dari yang saya terima di Jakarta. Padahal dia cerita kalau dia dulu nakal dan gak berpikir untuk melanjutkan sekolahnya ke level yang lebih tinggi. Hanya sampai senior high school saja sepertinya. Bagaimana kalau dia bekerja seperti itu tapi di Jakarta ya, apa bisa didapat jumlah yang sama...??! Hmm...

Ada yang berbeda di Kuala Lumpur mengenai angkutan busnya..
Dulu saat pertama kali datang kesini, busnya seperti bus Mayasari di Jakarta. Ada keneknya. Ongkosnya adalah RM 1 dan dapat sobekan karcisnya. Dulu sepertinya menjadi aturan tak tertulis kalau anak-anak dibawah umur sekitar 7 tahun adalah free of charge. Saya pernah naik bus itu keliling-keliling dowtown Kuala Lumpur. Kami ber-4 hanya dicharge RM2 saja. Ya, itu cuma ongkos bus untuk orang dewasanya saja. Anak-anak bebas biaya..
Tapi sekarang sudah berbeda..!
Sepertinya sudah tidak ada lagi bus yang kondisinya seperti bus Mayasari itu. Bas/bus disana sekarang sudah seperti bus di Singapore, Hongkong, atau Jepang! Ya, busnya rata-rata baru dibawah manajemen Rapid KL yang memanajemeni monorail dan RLT (kereta/subway) juga. Busnya sudah tidak ada keneknya lagi. Hanya sopirnya saja sendiri menyetir bus, dan berhenti hanya di bus stop tertentu yang sudah ditentukan. Pintunya di kendalikan otomatis. Bentuk busnya sangat modern persis seperti di Hongkong atau Singapore!
Saya tanya, ternyata sistem ini baru sekitar 2 tahun berjalan. Lucunya, gak bisa bayar cash diatas bus. Tidak ada kotak uang cash-nya. Jadi harus pakai semacam kartu berlangganan gitu, namanya Rapid Pass. Waduh...
Kami cuma 3 kali naik bus disana waktu itu. Kami cuek aja naik, walaupun sudah tahu (dari pengalaman pertama naik) bahwa harus bayar pakai rapid pass, gak boleh dengan uang cash (aneh ya..?). Sampai di atas, pura-pura bego aja, kami turis nih, gak punya rapid pass...
Eh, sopirnya bingung sendiri, akhirnya minta uang cash aja RM 5 untuk kami ber-4. Lho kok malah jadi lebih mahal ya? Ya, tak apa lah, hehe...
RM 5 itu langsung masuk ke kantongnya. Lucunya lagi si sopir menawarkan kami mau turun dimana? Lho...? Iya, saya bilang mau jalan-jalan di Bukit Bintang, eh busnya diberhentikan dijalanan yang sebetulnya bukan perhentian busnya (bus stop/bus station-nya), hehe...
Busnya sih baru, malah lebih keren dibandingkan di Hongkong, Jepang, ataupun Singapore, tapi kelakuan sopirnya sih masih sama saja.. masih serumpun dengan kita ini, haha...

Kemana saja selama di KL?
Ya, cuma ke twin tower dan jalan-jalan di sekitaran Bukit Bintang aja sih. Oya, juga ke China Town dan Central Market atau Pasar Seni-nya. Begitu aja...
Kesannya kok KL sekarang lebih kotor ya..?! Dulu sepertinya gak begitu..
Area twin tower (jalanan dan tamannya) banyak plastik sampah berserakan seakan tidak ada/kurang petugas yang menanganinya.
Oya, banyak sekali turis timur tengah disini (sekitar Bukit Bintang). Ada yang bercadar cuma terlihat matanya saja, tapi banyak juga yang berpakaian modern minimalis. Dari bahasanya, saya kira mereka berasal dari Timur Tengah begitu deh...
Sepertinya mereka senang sekali disana, comot-comot barang dipertokoan sepanjang Bukit Bintang itu tanpa ada limitnya. Terlihat dari tentengan ditangan mereka... Gimana tuh bawanya pulang? Wah...
Saya sih sebelumnya punya rencana untuk mencoba English Afternoon Tea di Carcosa Seri Negara, tapi anak-anak sudah terlalu capek untuk round-round di penghujung travelling kami itu. Ya sudahlah, mungkin masih ada kesempatan di lain waktu lagi...

* * * E N D * * *


Bird view dari Tune Hotel downtown KL.

Terminal Puduraya sekarang sudah modern setelah direnovasi habis-habisan...

Children playground dibelakang KLCC.


Taman di belakang KLCC.

Monday, May 30, 2011

Keluyuran di Ho Chi Minh City

Akhirnya saya menjejakkan kaki juga dinegara komunis yang pertama saya kunjungi ini, Vietnam. Dengan tiket promo Rp 450 rb PP, Jakarta-Ho Chi Minh City-Jakarta, sama saja toh waktu tempuhnya dengan penerbangan yang lain, yaitu sekitar 2 jam 50 menit untuk one way.

So, menyiapkan pemutar musik dengan koleksi lagu-lagi sekelas audiophile adalah sangat bijaksana sekali untuk mengusir rasa bosan dipesawat yang terbang hampir selama 3 jam itu...
Kesan pertama kali mendarat di bandara Tan So Nhat, HCMC, cukup modern, bersih dan rapih, tapi tidak terlalu luas. Sepertinya ini bandara baru yang belum lama dibangun, arsitekturnya mirip Kansai airport di Osaka, Jepang

Saya tidak tahu berapa ongkos taksi atau bus dari airport ke wilayah distrik-1, pusat kota tempat penginapan-penginapan backpackers terkonsentrasi disana, karena kami dijemput dan diantar oleh family teman yang kebetulan tinggal disana sebagai staff pewakilan RI untuk Vietnam... Perjalanan dari airport ke distrik-1 kira-kira memakan waktu 30 menit.
Yang jelas, tarif taksi disana lebih mahal dari Jakarta, karena harga mobil dan gasoline disana lebih mahal. Taxi disana rata-rata menggunakan Kijang Inova (harganya disana berkisar US$ 40rb~50rb), gasoline saya pernah isi untuk motor yang saya sewa; VND 20.000 (Vietnam Dong) untuk 0,9 liter. Oya, saya sewa sepeda motor US$ 5 untuk 1 hari (dari pagi jam 7, pulangin jam 12 malam) dengan jaminan passport. Kalo setengah hari (mis: jam 13:00 s/d 23:00) tarifnya VND 30.000.
Rp 1 = VND 2.4 , atau VND 1 = Rp 0.4, artinya uang kita masih lebih kuat 2 kali lipat dari VNDong! Tapi walau begitu, harga-harga disana kurang lebih hampir sama dengan di Indonesia.

Cari uang Dong di Jakarta sangat susah, hampir gak ada di money changer. Jadi, bagusnya bawa US$ aja, beli juga yang pecahan-pecahan kecil seperti US$ 5, 10, atau 20. Disana, mata uang berlaku US$ selain VNDong!
Jadi, tukar aja US$ yang kita punya dengan VND di airport. Gak usah banyak-banyak, secukupnya aja, karena rate tukar money changer dibandara kurang bagus.
Begitu sampai di distrik-1, banyak kok money changer, tanya-tanya aja n' cari ratenya yang paling baik, baru tukar deh... Oya, kalau ketemu bank (apa saja), jangan ragu-ragu masuk. Rate tukarnya justru paling bagus!! Saya terakhir baru coba tukar uang dibank, dan menyesal sebelumnya tukar di money changer...
Satu lagi bocoran dari saya; kalo bisa jangan menukar uang yang masih mulus & rapih disana, karena akan dicurigai uang palsu! Uang lecek sepertinya lebih dihargai. Uang yang masih baru akan dicek, diplototin, dibolak-balik, ditanya-tanyain ketemennya, walah... udah yakin, malah dicoret itu uang pakai pulpen sebagai tanda udah dicek, wah..!

Di distrik-1, banyak sekali penginapan-penginapan backpackers. Ratenya antara 12~20 US$ untuk kamar double/twin bed. Untuk yang single bed, ada teman yang katanya dapat US$ 5.
Rata-rata penginapan disana bersih dan rapih. Luas kamar juga relatif tidak sempit seperti kamar-kamar hostel di Singapore. Jadi, menurut saya sih so murah lah itu, hehe...
Tips, order untuk 1 malam aja via agoda atau hostelsworld, trus besoknya cari lagi disana. Pasti dapat lah, banyak kok! Lumayan bedanya (saya order twin bed room via hostelsworld US$ 22).

Pagi hari di HCMC, semua orang duduk-duduk diluar dan ngopi!
Wuaah, kopinya memang luar biasa...
Rasanya sama seperti kopi Starbuck yang harganya sekitar Rp 60~70 rb itu. Disini harganya 8.000 Dong alias sekitar Rp 4 rb perak! Toplah.. sama persis seperti di Starbuck Coffee.
Pagi-pagi, semua orang juga sarapan Pho (baca "ve", huruf v plus e, seperti "e" pada rujak "bebek", ve..!). Harga Pho untuk sarapan pagi sekitar 15.000 Dong.

Ho Chi Minh City, dulunya bernama Saigon. Sama sekali tidak terkesan kota tertutup dari kapitalisme. Sama sekali tidak terkesan doktrin komunisnya, kecuali dari banyaknya bendera-bendera nasional Vietnam, bendera merah dengan bintang kuning ditengah. Juga, dibeberapa tempat ada bendera "palu arit", yang merupakan bendera partai komunis disana. Oya, ada juga sih kesan angker negara komunisnya dari seragam-seragam yang dikenakan oleh para petugas disana; mulai dari petugas imigrasi dibandara, polisi, bahkan tukang parkir. Semua seperti mengenakan seragam tentara dengan bermacam-macam atribut pangkatnya.

Selain itu, Saigon atau HCMC adalah kota yang "hidup" seperti layaknya kota-kota besar dimana-mana. Turis-turis bule kere bertelanjang dada malam-malam sambil memegang botol bir, joget-joget mengikuti irama dentuman musik pub. Saya celingak-celinguk ditrotoar melihat suasana begitu, eh ditawarin ganja sama orang yang keliling naik sepeda, cheap price...cheap price, katanya...
Deru mesin mobil Ferrari, atau Porsche, atau Lamborghini, atau Bentley, atau mobil-mobil exotic lainnya, sering saya lihat berpapasan dengan sepeda motor yang kami naiki dijalanan HCMC.

Kota Saigon juga cantik dimalam hari. Luminasi cahaya diobral dimana-mana. Gedung-gedung lansekap kotanya yang berasitektur Gothic ditaburi kilauan lampu yang elegan. Opera House, People Committee House, Cathedral, dll. Cafe-cafe dengan design eksterior dan interior yang menarik banyak dimana-mana...
Ditaman-taman kota yang asri, luas, dan terpelihara, para muda-mudi asyik mashyuk berpelukan dan berciuman tanpa malu-malu. Saya bahkan satu kali melihat cewek lesbi yang berciuman dibangku taman didepan Gedung Opera.
Tidak banyak mal-mal disini. Gedung-gedung pencakar langit juga biasa aja, setahu saya cuma 1 yang tinggi menjulang, yang lainnya paling banter cuma sampai 10 lantai saja.
Kotanya bersih. Trotoarnya lebar, sangat memanjakan para pejalan kaki. Jalan-jalan didalam kota umumnya lebar, bahkan sampai 12 meteran saya kira...
Jumlah mobil tidak terlalu banyak (karena sangat mahal, tapi banyak Ferrari-nya ya, haha...).

Jalanan dimana-mana dipenuhi oleh sepeda motor! Nah ini yang menarik...
Naik motor disini gak ada aturan..!! Seenak udel-e dewe.
Jalan yang satu arah, bisa jadi 4 arah; Yang searah jalan, yang berlawanan arah jalannya, yang melintang dari kanan kekiri, yang melintang dari kiri kekanan, wuaahh...!! Lier...
Bener-bener ancuur habbit berkendara disana. Klakson gak ada gunanya. Di klakson, orang yang didepan diem aja seakan-akan gak denger suara klakson. Jauh lebih parah dari habbit berlalu-lintas orang Jakarta atau Medan sekalipun.
Tapi uniknya gak macet lho..!!

Semua bergerak sesukanya. Bidang jalan itu sungguh sangat effisien dipakai oleh para pengendara. Ada yang dari kanan kekiri, ada yang dari kiri kekanan, ada yang dari depan ke arah kita, sementara kita bergerak kearah depan. Tapi semua bergerak, gak ada yang diam ditempat!! Tidak ada yang mengumpat atau memaki, semua santai aja, mulutnya tertutup rapat dijalan, hanya konsentrasi berkendara kearah depan...
Selama 3 hari disana, 3 kali saya lihat kecelakaan dijalan. Jatuh, angkat motor masing-masing, trus jalan lagi seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada perdebatan...

Tapi katanya, kalau antara motor dan mobil, situasinya sama saja seperti di Jakarta. Yang bawa mobil selalu disalahkan. Kalau ada kecelakaan dengan mobil, biasanya pemilik motor mendiamkan motornya dijalan, menunggu sampai polisi datang, kalau si pemilik mobil mengeluarkan segepok uang Dong ke pemilik motor, artinya persoalan selesai, modus pemerasan...

Mereka gak jauh lah dari kita; kita adalah negara terkorup per-1 di Asia, mereka no.3-nya (sumber).

Luan Vu Hotel, di distrik-1.
US$ 22 untuk double bed via Hostelsworld. Tapi kalo langsung datang kesana, harganya bisa US$ 18 saja.



Suasana gang-gang di kota HCMC, distrik-1.

Pho seafood di Pho President. Agak mahal, 55.000 Dong (Rp 27.5rb).


Pho 2000 atau dikenal juga sebagai Pho President. Presiden Bill Clinton pernah makan Pho di warung ini pada tahun 2000 lalu.


Becak HCMC.

Warung manisan dipasar Ben Tanh.

Pasar Ben Tanh.

Didalamnya mirip seperti pasar-pasar tradisional di Indonesia pada umumnya. Hati-hati disini, katanya banyak copet! Ada yang lucu waktu saya muter-muter dilorong pasar yang padat merayap itu, mbak-mbaknya suka jail...
Kalau didepan kita ada cewek, si mbak pedagang colek cewek itu dari belakang, seakan-akan kita yang nyolek. Jadi si cewek noleh kebelakang lihat muka kita. So kita jadi mau bilang apa donk, hehe... oya, temen ada juga yang kaget bukan kepalang karena dipegang pergelangan kakinya. Ternyata ada mbak-mbak pedagang yang duduk selonjoran dilantai pasar bikin jail seperti itu. Mata kita kan keatas terus lihat barang-barang dagangan mereka, gak perhatiin kalau ada orang selonjoran begitu dibawah. Apalagi suasana pasar yang padat merayap.

Mbak-mbak pedagangnya banyak yang teriak "Abang... abang sayang... ini cantik lah, lihat dulu..." hehe.. kita disangka orang Malay disana. Mungkin karena mereka lebih sering ditemui dipasar itu. Hmm, tips belanja disini; tawar sampai mereka ngamuk! Jangan ragu-ragu! Saya beli topi tentara Vietnam dapat 25.000 Dong (± Rp 10.500,-) dari harga buka-nya yang 90.000 Dong (saya tawar langsung ke 15.000 Dong, dapetnya ya 25.ooo Dong itu, hehe...). Kalau mereka ngedumel, maki-maki, cuekin aja... emang gw pikirin! Rata-rata memang mereka buka harga setinggi langit ke kita. So, nawar 1/5 atau 1/6 -nya sah-sah aja. Bilang aja di Indonesia harganya emang berkisar segitu! Case lain waktu saya nawar kaos anak yang motif dengan bordiran cantik. Mereka buka harga 180.000 Dong untuk 1 potong kaos. Akhirnya, mereka bungkus juga dengan harga 100.000 Dong untuk 2 potong kaos bordiran. Tapi jangan tiru saya kalau gak kuat mental ya... saya memang bidding master.

Oya, yang suka colak-colek bukan cuma didalam pasar aja lho... Dijalanan juga!
Saya lihat ada cewek yang dicolek dari belakang ketika naik motor lambat-lambat. Waktu cewek itu noleh, yang nyolek cuma senyum aja, haha... cool
Anyhow, hati-hati jambret di Saigon. Banyak jambretnya lho! Jangan nenteng tas kecil, kamera, atau semacamnya dengan sembrono. Bisa-bisa kita dijambret dari belakang oleh pengendara motor. Langsung kabur dan menghilang...
Makanya saya selama disana selalu menitipkan passport di hotel, memang begitu kok, aman-aman saja...

Jangan tertipu dengan foto ini! Jalanan disana jarang sekali se-sepi seperti ini.


Opera House.


Hotel Continental Saigon, disebelahnya Opera House.

Gedung People Committee.


Post Office, diseberangnya Cathedral.

Cathedral.





Dalamnya Cathedral.






Dalamnya Post Office. Saya kirim kartu pos dari sini ke rumah di Jakarta, biaya perangkonya 10.500 Dong (± Rp 5.000,-).



Para penjual makanan kaki lima disekitaran Cathedral & Post Office.