Saya mengalami kejadian yang unik mengenai Voucher Carrefour. Ceritanya 2 hari yang lalu, saya menggunakan Voucher Carrefour 100-rb. Kasir-nya bilang maaf, voucher anda tidak bisa digunakan. What??
Ternyata karena voucher saya ada dua sobekan 0.5cm dan ada lipatan karena saya menaruh-nya di dompet selama sebulan. Kondisi voucher sendiri, tidak ada potongan yg hilang dan semua tetap jelas terbaca. Seperti duit kertas saja yang tidak licin-mulus lagi.
Saya kemudian minta bicara dengan supervisor, tetapi ditolak. Naik banding lagi ke Kepala Kasir. Dia menjelaskan bahwa kalo mereka menerima, voucher itu tidak bisa di- klaim di pusat karena cacat fisik maka mereka yang akan nombok nantinya.
Tentu saja saya tidak bisa menerima argumen itu. Sama kepala kasir-nya saya ditunjukan ketentuan di belakang voucher itu. Memang ada (point ke 5 atau 7) bahwa “voucher void bila kotor, sobek dst..”
Saya tetap yakin bahwa secara logika, yang dimaksud adalah bila sobekan-nya menyebabkan voucher tersebut tidak dapat di-identifikasi lagi. Bukan ’sobek’ yang seperti punya saya. Yang lucu-nya, terms and condition-nya ditulis dengan bhs Inggris dan Indonesia. Versi bahasa Inggris-nya adalah “dirty, un-readable ..” diterjemahkan menjadi “kotor, sobek..”
Anyway, Kepala Kasir-nya tetap menolak karena dia sudah coba menelepon supervisor-nya tetapi saya tetap ber-anggapan dia tidak mau repot dan mem-perjuang-kan voucher saya. Bagaimana saya yakin, yang di pusat toh tidak dapat melihat secara visual bagaimana kondisi voucher-nya, hanya mengandalkan bagaimana deskripsi si Kepala Kasir yang notabene sudah gak mau repot.
Akhirnya, saya bilang,”Ok. Saya tidak bakal merepotkan bapak. Cuma tolong bikinkan berita acara, tulis tanggal, nama, kontak, jabatan anda dan bahwa anda menolak voucher dengan nomer sekian.” Sepertinya dia berpikir saya cuma menggertak, dia balas meminta identitas, saya berikan aja. Mau kirim ke Surat Pembaca Kompas ya, pak?
Saya katakan, tidak. Saya tahu bahwa kans dimuat sangat kecil. Yang akan saya lakukan adalah memotret voucher tersebut dan mengirim email ke setiap orang yang saya kenal dan semua email Carrefour dan competitor-nya yang berhasil saya dapatkan, baik di Indonesia maupun LN. Biar mereka yang menilai kasus ini.
Voucher adalah sarana promosi dan memberikan cash-advance bagi perusahaan tersebut. Bila sobekan kecil saja, mereka berani menolak artinya perusahaan sebesar Carrefour ‘mengharapkan’ uang void.
Akhirnya saya tutup dengan final blow.. “Jika ada petinggi Carrefour Jakarta yang malu karena itu, bapak tahu kan kira-2 siapa yang akan di-korban-kan?”
Dia tertegun sejenak, kemudian berkata, “Coba saya telpon Pak “X:. Dari tadi gak masuk terus.” Dan seperti yang saya duga, kali ini sang Kepala Kasir men-deskripsikan voucher saya dengan sangat “berbeda”.
Anyway, saya hanya menaruh inisial tempat dan kepala-kasir tsb karena toh saya sudah mendapat hak saya. Cuma ingin share saja, kalo temen-2 ada yang merasa dirugikan karena kasus serupa, perjuangkan hak anda!
Terakhir, saya sempat keluarin HP buat motret, tapi buru-2 voucher saya di-masukan ke laci.
Just for sharing…
Diambil dari http://janganserakah.com
Comment on “Celoteh: Pemenang kontes voucher Carrefour Rp 100 ribu”, by Tom.