Saturday, July 10, 2010

Keliling Jawa Tengah: Wonosobo - Jogja

Dari Ambarawa menuju Wonosobo melewati Temanggung jalan lebih banyak mendaki. Truk-truk bermuatan berat jadi memperlambat arus lalu lintas. Kita terpaksa mengekor sampai situasi aman, baru kemudian menyalib. Wah, gimana kalau begini terus sampai Wonosobo? Berabe deh...
Eh, sekonyong-konyong terdengar suara sirene sedan polisi dari belakang. Mobil itu mengawal beberapa kendaraan rombongan pejabat daerah setempat menuju arah yang sama dengan perjalanan kami.
Dengan pongahnya memaksa kendaraan lain untuk menepi sehingga mereka dapat leluasa maju dengan kecepatan lumayan. Begitu mereka lewat, dasar insting orang Jakarta, di kendaraan terakhir rombongan, saya langsung banting setir kekanan mengekor ketat iring-iringan mereka.
Wah, bukan lumayan lagi...mungkin ada sekitar 20 menit saya mengekor dibelakang mereka dengan kecepatan tinggi (sekitar 80-an km/jam dijalan yang banyak mendaki), sampai akhirnya mendekati wilayah kota Temanggung.
Sampai di Temanggung, sebetulnya, saya ingin sekali mampir cari jajanan disana, tapi sayang saat itu hujan turun lebat sekali.
Sekitar 21 tahun yang lalu, masih duduk di kelas 2 SMA, saya pernah mengunjungi kota itu. Selama 10 hari, saya dan seorang kawan kental saat SMP, berpetualang sampai kekota-kota di Jawa Tengah. Waktu itu kami hanya mengandalkan pengetahuan mengenai plat-plat nomor kendaraan di Jawa. Menunggu truk di persimpangan atau lampu merah, dan naik ke baknya menuju kemana saja truk itu membawa kami sampai keperhentian terakhirnya, digunung, dihutan, didesa terpelosok, ataupun kota. Uang dikantong hanya seadanya saja...
Sewaktu kami akhirnya sampai di Jogja waktu itu, di jl. Malioboro ada karnaval seperti pawai 17 Agustusan. Ada satu group marching band dari SMA Stella Duce yang lagi perform melewati kami. Saya ambil ancang-ancang untuk memoto satu cewek cantik yang direspon dengan memberikan pose terbaiknya ke saya dengan sedikit memiringkan badannya keluar dari format barisan marching band itu. Eh, gak nyana, didekat benteng Vredeburg kami bertemu lagi. Saya memberanikan diri untuk berkenalan, minta alamat, dan mengunjunginya di kota Temanggung, dirumah orang tuanya (dia sekolah di Stella Duce, Jogja). Ternyata orang tuanya punya usaha toko roti disana...

Karena hujan lebat sekali, kami sempat berhenti ngaso di pinggir alun-alun kota, sebelum kembali meneruskan perjalanan ke Wonosobo. Dari Temanggung ke Wonosobo, tanya orang saat kami berhenti makan siang di warung makan murah meriah yang serba ada (karena menunya banyak sekali, sayang kami lupa dan tidak mencatat nama warungnya, letaknya disebelah kiri, tidak jauh saat baru memasuki jalan raya menuju Wonosobo), lama perjalanan sekitar 1,5 jam katanya...wah gak bisa ngejar langsung ke Dieng dong kalau begitu...karena saat itu sekitar jam 1:30 siang, bisa terlalu sore dan kabut turun di jalan menuju Dieng.
Yah, kecepatan agak dipacu lebih ngebut lagi supaya target sampai Dieng bisa tercapai hari itu juga, kemudian turun dan cari penginapan di Wonosobo. Ternyata gak sampai 1 jam, kami sudah sampai dikota Wonosobo. Jadi, orang yang kami tanya waktu diwarung itu mungkin panduannya adalah kalau naik kendaraan umum ke sana.
Saya sendiri punya pengalaman kalau tanya jarak perjalanan ke orang gunung begini; kalau kita jalan kaki dan bertanya ke mereka masih berapa lama lagi waktu perjalanan ke tujuan kita, mereka akan menjawab "ah gak jauh lagi kok...", padahal itu harus berjalan kaki kebalik gunung yang lain yang ada didepan kita, capeek deh... jadi kita harus berasumsi 2x lipat statement mereka biar aman, hehe...
Sebelum memasuki kota Wonosobo, di daerah Kledung Pass, saya lihat ada hotel yang berdiri persis berhadapan dengan Gunung Sumbing, dan dibelakangnya adalah Gunung Sindoro, tanpa ada hambatan pemandangan yang lainnya. Saya langsung kepincut untuk menginap disana, dan kelak akhirnya kesampaian, walaupun saat itu saya tetap injak gas tanpa berhenti.
Oya, perjalanan menuju kota Wonosobo itu sendiri sangat menarik. Pemandangannya sungguh luar biasa untuk orang kota seperti kami ini. Gunung Sumbing disebelah kiri dan Gunung Sindoro disebelah kanan berdiri tegap dengan gagahnya, besaaar sekali. Setelah hujan lebat di Temanggung, di Wonosobo justru cuaca sangat cerah. Langit sangat biru dan bersih. Pemandangan ke gunung sangat jelas dan detil kelihatan sampai ke jejeran pohon-pohon cemaranya. Luar biasa sekali. Anak-anak sangat takjub...baru kali ini mereka melihat gunung yang sedemikian besar didepan mata, ada 2 sekaligus seperti gunung kembarnya cewek-cewek...
Jalan meliuk-liuk, kadang seakan-akan menuju kearah Gunung Sumbing, kadang seperti menuju Gunung Sindoro. Mobil terus mendaki dan mendaki tiada henti...sepertinya memang seolah-olah sedang menuju puncak salah satu gunung tersebut, mungkin itu yang ada dipikiran anak-anak.
Saya minta mereka pilih, kita mau kepuncak gunung yang mana...?
Lama tak ada jawaban, tak percaya bahwa saya betul-betul sedang membawa kendaraan sampai menuju puncaknya. Melihat gunung besar yang begitu real saja, mereka sudah sangat takjub...

Akhirnya kota Wonosobo terlewati dan kami terus menuju ke pegunungan Dieng. Jalan menuju ke pegunungan Dieng juga tak jauh berbeda dari perjalanan tadi, malah yang ini lebih ekstrim lagi. Slope kemiringan mobil lebih besar, menanjak ekstrim sampai mobil cuma bisa berjalan pelan di gear-1. Pemandangannya pun tak kalah kualitasnya. Walaupun di sana sudah tidak terlihat lagi kedua gunung kembar tersebut, tapi jalan yang meliuk-liuk di perbukitan menjadikannya seperti terasering. Kita bisa melihat satu perkampungan dibawah sana sekaligus dengan petak-petak ladang tanaman penduduknya. Belum lagi sensasi awan seolah-olah berada dibawah kita, wah pokoknya luar biasa deh, kita seperti berada diatas langit... anak-anak sangat menikmati perjalanan itu, walaupun sambil mengantuk karena saya buka kaca mobil sehingga udara sejuk pegunungan masuk menghembus pori-pori kita. Saya sendiri tetap terjaga dan konsentrasi penuh karena jalan yang meliuk-liuk saat mengemudi membuat saya menjadi tidak mengantuk.
Sampai di kawasan lembah Dieng, digerbang masuk ditarik retribusi parkir kendaraan Rp 2rb. Nanti kalau mau masuk spot-spot wisatanya ya harus bayar lagi. Kami gak masuk ke satupun area wisatanya (ada beberapa kawasan candi, kawah sikidang, kawah candradimuka, telaga warna, Dieng Plateau teater, dll), kami cuma mutar mengikuti jalan melingkari kawasan Dieng Plateau itu ( http://www.diengplateau.com/ ). Berhenti sebentar dilapangan bola dekat kawasan candi, menonton permainan bola anak-anak gunung, sudah itu, ya langsung balik cari hotel tadi dijalan menuju Wonosobo di daerah Kledung pass.
Jalan menuju pulang ke Wonosobo sekitar pukul 5 sore sudah berkabut tebal. Jalan yang meliuk-liuk seperti ular yang terlihat jelas waktu datang tadi, sekarang sama sekali gak kelihatan. Jadi, santai aja lah, kurangi kecepatan, harus ekstra hati-hati karena medan menurun tajam dan kabut sangat tebal.
Sekitar 1 jam berkendara, akhirnya kami sampai juga di hotel itu, Hotel Parai Dieng Kledung Pass ( http://www.eljohn.co.id/ ). Ratenya Rp 250 rb semalam. Mahal juga ya...coba-coba dulu deh cari penginapan disekitar situ yang lebih murah, kamipun maju lagi sekitar 3 km menyusuri jalan Kledung Pass, tapi gak ada lagi penginapan lainnya, sepertinya...atau karena hari sudah gelap jadi gak kelihatan. Ya udah, balik ke hotel Parai Dieng lagi lah. Check in, mandi, makan malam direstorannya, trus tidur.
Kamar hotelnya gak pakai AC tapi sudah dingiiin banget seperti berada didalam kulkas, ada TV dan bathtub air panas. Tapi yang paling berkesan adalah waktu bangun paginya, gunung Sindoro tepat dihadapan balkon kamar kami, besaaar, jelas sekali karena cuaca cerah, tanpa halangan pandangan apapun. Muantaap!

Yang ini gunung Sumbing.
Foto diambil gak jauh setelah masuk jalan raya Wonosobo.

Kawasan Dieng Plateau sore hari.

Gunung Sindoro, pemandangan dari kamar hotel Parai Dieng Kledung Pass. Satu sisinya menghadap Gunung Sindoro, sisi sebelahnya menghadap Gunung Sumbing.

Paginya, setelah sarapan, kami langsung putar-putar dikawasan Kledung Pass. Bawa kendaraan memasuki salah satu gerbang desa yang sepertinya ada jalan sampai ke bukit di kaki gunung Sumbing. Masuk aja terus melewati perkampungannya (menjadi tontonan orang sekampung), sampai ke ladang perkebunan dilereng gunung Sumbing itu. Pemandangan dari sini ke arah gunung Sindoro sangat luar biasa, sayang sekali kabut atau awan sudah menyelimuti puncaknya. Jadi kalau mau melihat pemandangan di pegunungan sebaiknya sebelum jam 8 pagi karena terik matahari masih belum mengangkat butiran embun menjadi kabut sehingga menutupi puncaknya. Kami duduk-duduk saja sambil menikmati view disitu, gerogotin cemilan, hiking menyusuri jalan, n' juga ngobrol ngalor-ngidul dengan para petani. Rasanya fresh juga...beda sekali dengan suasana sekitar puncak-Bogor atau bandung. Disini jauh lebih asyik lah pokoknya...




Ibu-ibu ini setelah masak dan beres-beres rumah, sekitar jam 6 pagi naik ke gunung mencari kayu bakar. Sekitar jam 10:15 ketemu saya saat mengaso dijalan setapak menuju kerumahnya. Berarti kegiatan mencari kayu bakar itu makan waktu sekitar 4~5 jam ya?! Itu katanya dilakukan setiap hari lho...! Luar biasa.



Suasana disatu desa dikawasan Kledung Pass. Banyak tanaman tembakaunya.

Kami check out dari hotel Parai Dieng sekitar jam 12 siang, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Magelang, menuju Borobudur. Sekitar 1.5 jam perjalanan, sudah memasuki kota Magelang. Baru memasuki kota, sudah disuguhi kuliner bebek sambal kosek. Ada beberapa restoran bebek sambal kosek yang berdekatan, yang pertama kelihatannya terlalu ramai, kami skip saja. Akhirnya berhenti di warung bebek "Mbok Bodrow" didepan rumah sakit jiwa Magelang. Hmm, sambal koseknya luar biasa, hampir satu minggu masih terasa di lidah, hehe...

Selesai makan, keliling Magelang dulu lihat-lihat kotanya. Dulu, waktu SMA saya juga pernah kesini (bukan disaat saya avonturir yang 10 hari itu...), saya pernah menginap di jalan Jagoan, seberangnya lapangan Tidar - AKMIL. Wah, sekarang suasananya sudah banyak berubah...
Dari Magelang menuju Borobudur, perjalanan agak macet karena ada perbaikan jalan raya Magelang - Jogja. Memasuki kawasan Borobudur, kok banyak pemuda-pemuda kampung yang mengarahkan kendaraan pengunjung ke kawasan pemukiman mereka. Saya tanya, katanya parkiran Borobudur penuh dan macet. Banyak bus-bus luar kota. Ya udah, belok aja masuk ke pemukiman itu sekaligus pengen tahu seperti apa sih jadinya ini?
Ternyata memang sudah banyak sekali mobil-mobil yang diparkir disitu. Bayar parkir Rp 7 rb, kami jalan kaki melewati sawah dan pekuburan, gak jauh lah, sudah sampai di gerbang parkir kawasan candi Borobudur. Memang sedang luar biasa padatnya hari itu. Orang-orang entah dari mana asalnya, menyemut dimana-mana...huh, pengen disemprot baygon aja rasanya :-(
Masuk Borobudur, entrance fee Rp 17.500,- perorangnya. Cuaca gak begitu ramah, mendung dan sempat juga turun gerimis hujan. Para ABG bersenda gurau, berfoto, dan bermain dipunggung candi Borobudur itu dengan mendaki-daki stupanya. Seringkali terdengar dari pengeras suara agar pengunjung turun dan jangan menaiki stupa. Tapi pengunjung tetap saja haha...hehe...disitu dengan cueknya. Mungkin saking terlalu banyaknya orang yang naik jadi sulit terkendali. Sampah dimana-mana, jadi gak enjoy lah...
Kasihan sekali candi Borobudur yang sudah tua itu.

Dari parkiran dipemukiman (kapling Janan) menuju Borobudur melewati sawah ini.

Candi Borobudur.




Sebelum pulang, sempat masuk ke museum Borobudur lihat-lihat koleksi foto dan arca-arca yang berserakan dihalamannya. Ternyata candi itu sebelum dipugar oleh Belanda th 1907~1911 kondisinya sangat menyedihkan, reot, sepertinya mau ambruk. Tapi hebatnya bisa direstorasi sampai kondisinya saat ini.
Menjelang senja, kami sudah dijalan menuju Jogja. Langsung ke jl. Prawirotaman, kampung turis gak jauh dari benteng keraton. Dari ujung jalan satu persatu penginapan kami tanyai. Ya begitulah, guest house pada penuh. Yang tersisa adalah yang sangat sederhana juga sebaliknya yang termahal. Yang sangat sederhanapun pasang harga gila-gilaan, lebih mahal dari Ali's Nest di Singapore, tapi kondisinya jauh lebih parah, gimana ini..?!
Akhirnya kami pilih penginapan Wisma Gajah yang ternyata ada akses tembus ke Century guest house dibelakangnya. Ratenya 200 rb, ada AC dan pakai bathtub dengan hot water, tapi gak ada TVnya. Kalau mau kamar yang pakai TV, harus tambah 50rb lagi.
Suasana di penginapan ini cukup tenang, bersih, dan asri. Ada kolam renangnya juga, tapi yang paling dangkal 1 meter, gak bisa buat anak-anak. Saya sih sama si Lukas berendam aja disitu malam-malam mendinginkan badan di udara Jogja yang cukup panas. Berpunggungan dengan Wisma Gajah, adalah Century Guest House. Ada pintu masuk dari Wisma ke Century. Suasana penginapan Century jauh lebih klasik, juga lebih asri tapi gak ada kolam renangnya.
Untuk rate 200 rb di peak season seperti ini, Wisma Gajah sangat recommended-lah, oya, itu sudah termasuk breakfastnya juga ya.
Cuma ada satu pengalaman kami disini; waktu pulang Mami Lukas ketinggalan jaket/sweaternya dan baru teringat saat terbang di pesawat menuju Jakarta. Sampai di Jakarta, kami telepon kesana tapi katanya tidak ada barang yang tertinggal. Karena merasa yakin tertinggal disana, kami ngotot supaya jaket itu dicari (juga karena merasa dongkol, kok dibilang gak ada barang yang tertinggal...). Setelah beberapa kali menelepon, juga sambil mengancam akan menulis hal ini disurat pembaca koran-koran ibu kota, akhirnya pegawai yang bertugas saat itu dikumpulkan dan diinterogasi. Eh bener, besoknya jaket itu tiba-tiba ada yang menemukan, tetapi sudah tidak berada dikamar yang kami tempati sebelumnya. Gimana itu...?!
Tapi memang sepertinya sudah menjadi culture orang Indonesia yang begitu itu. Butuh waktu berabad-abad memperbaikinya. Mungkin di hotel berbintangpun hal ini bisa juga terjadi. Jadi sebaiknya dari kita sendiri yang jangan teledor...
Saya pernah melihat sendiri orang yang merogoh kantong celananya untuk mengambil sesuatu dan kemudian uang kertasnya terjatuh dijalan. Orang yang berada dibelakangnya langsung memungut uang tersebut dan mengklaim sah menjadi miliknya tanpa memberitahukan ke yang empunya. Parah...!
Waktu saya ke Jepang, seorang teman pernah tertinggal handphone.nya di penginapan. Sesampai di Indonesia, dia email hal itu, dan handphone.nya bisa kembali dengan selamat tanpa banyak cing-cong. Ya, begitulah...

Swimming pool Wisma Gajah.

Ada bandstand.nya juga lho...


Ini Century Guest House, pemiliknya sama dengan Wisma Gajah, jadi bisa bebas dan ada akses diantara kedua penginapan itu. Dengar-dengar tanah dan bangunan antik ini dibeli oleh pemilik Wisma Gajah gak berapa lama setelah krismon seharga kurang dari Rp 200 jt dengan luas tanah lebih dari 2000 meter. Wah, murah beneeer...

Besok paginya, ada waktu sekitar 4 jam untuk round-round dan hunting foto di sekitar Tamansari sebelum pulang ke Jakarta. Nawar tukang becak, dapat 2 becak masing-masing 10 rb, dari jl. Prawirotaman ke Tamansari dan ditawari putar-putar cari batik, juga beli oleh-oleh gudeg di jl. Wijilan (belakangan saya tambahin aja masing-masing 5 rb, karena tukang becaknya sudah bersabar nungguin kami sightseeing di Tamansari juga shopping batik dan gudeg).
Sampai di Tamansari jam 8 pagi, masih sepi. Jogja sepertinya lambat sekali nadinya berdenyut. Ya sudah, lihat-lihat toko lukisan batik yang sudah buka aja dulu sambil jalan-jalan menikmati suasana gang di kampung Tamansari itu. Eh, sekonyong-konyong ada pemuda kampung yang ngajak ngobrol-ngobrol dan "masuk" ke kami jadi guide selama disana. Dia cerita panjang lebar mengenai sejarah Tamansari, dan bangunan-bangunan apa saja yang ada disana. Ternyata pemukiman penduduk disana yang sebagian besar adalah para abdi dalem keraton dan keturunannya rencananya akan dibongkar, dan Tamansari akan dipugar mendekati kondisi awalnya dulu. Yang sudah berjalan adalah sudah dibongkarnya pasar burung Ngasem yang berada dikawasan itu.
Kami dibawa keliling oleh guide itu kesemua situs di Tamansari kecuali ke bagunan utamanya yang ada kolam, karena itu harus masuk dari depan dan bayar karcis. Belakangan saya ijin ke dia masuk sebentar untuk sedikit ambil foto saja didalam, hehe...masuk dari pintu belakang gak bayar. Bukan apa-apa, kalau dari pintu depan harus jalan lagi memutar dan kami sudah gak punya waktu lagi karena harus balik kehotel dan pulang ke Jakarta.

Bangunan tempat semedi sultan.

Ini tempat tidur sultan dulu saat beristirahat sejenak dari semedinya.




Rumah penduduk di kawasan Tamansari.



Istana air Tamansari

Lukas dan emaknya naik becak.







Selesai dari Tamansari, naik becak lanjut ke jl. Wijilan, beli gudeg. Disitu memang tempatnya para gudegers dan para penjual gudeg. Langganan kami adalah gudeg "Yu Jum". Dia yang termurah dan rasanya cukup enak, paket gudeg besekan 1/2 ayam dan telur 10 butir, Rp 130 rb sementara di toko lain yang kami tanya harganya 160 rb-an malah ada yang 175 rb. Ada juga paket yang dipacking pakai kendil tanah liat, harganya sama saja. Waktu itu kendilnya lagi habis, jadi apa boleh buat pakai besek lah..
Selesai beli gudeg, kami mbecak lagi cari batik disekitar hotel, lurusan jalan Prawirotaman, yaitu jl. Tirtodipuran, belok gangnya sedikit, di jl. Mantrijeron ada Batik Seno. Kami kalau ke Jogja biasa kesitu karena tempatnya lebih sepi, dan bisa ditawar habis gak pakai malu... pokoknya bikin malu aja (30 % dari harga penawaran). Jadi-jadinya paling sekitar 50~60 % dari harga bukanya tadi. Hehe...
Oya, sebelum ke batik Seno, sight seeing aja dulu ke toko batik yang lebih besar di jalan Tirtodipuran untuk cek harga dan hunting foto di pabriknya (biasanya ada di belakang toko). Di batik Seno juga ada para pembatiknya yang lagi bekerja, dan boleh difoto, tapi kebanyakan disini untuk pembuatan lukisan-lukisan batik.



Selesai beli batik, langsung balik ke Wisma gajah, packing, dan check out. Sebelumnya pesen taksi di resepsionis, karena mobil sewaan sudah dibalikin malam sebelumnya supaya menghindari over charge kelebihan jamnya, karena kita memang sudah gak berniat pakai lagi, pengen naik becak aja...
Ternyata taksinya sudah dipatok Rp 60 rb sampai ke bandara, padahal kalau pakai argo mungkin gak sampai 40 rb-an. Yah, berkomplot dengan resepsionisnya lah, bagi-bagi rejeki. Sebetulnya gak perlu pesen sih, karena diluar Wisma Gajah banyak taksi berseliweran. Waktu itu saya nggee aja karena malas ribut, dan taksinya udah nungguin cukup lama sementara kami beres-beres...
Oya, selama naik becak round-round itu, saya ngobrol dengan tukang becaknya, Mas Mendung. Saya minta dicariken sepeda/onthel lawas dikampungnya didaerah bantul. Kami tuker-tukeran no. telepon dan SMS-SMSan selama seminggu. Seminggu kemudian, saya berangkat lagi sendirian ke Jogja numpak bus dan spoor jemput onthel lawas itu. Dapet 2, yang cewek 1, yang cowok 1. Nanti deh saya ceritain dan pasangin foto-fotonya di upload-an berikutnya aja ya...

Saturday, June 26, 2010

Sebuah Koin Penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran.

Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

---

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

-sumber asli tidak diketahui-

Thursday, June 10, 2010

Dilambatkan

Dahulu pada tahun 1970-an, Tom Watson merupakan pegolf yang mulai naik daun di kejuaraan PGA. Namun dari waktu ke waktu, ketika Tom memimpin turnamen dan sampai ke ronde terakhir, ia akan menjadi gugup, kalah dalam beberapa holes dan berakhir di pertengahan permainan. Segera media massa menyebut Tom sebagai "Si Gugup". Kritikan semacam itu hanya membuatnya semakin tertekan dan makin cenderung gugup.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah golf, Watson berkata, "Setiap orang bisa saja gugup. Dalam kejuaraan US Open pada tahun 1974, saya selalu salah memukul. Syaraf saya tidak bisa menyesuaikan diri dalam pertandingan itu. Itulah kegugupan saya, sehingga saya tidak dapat menemukan pukulan atau ayunan stik golf yang pas."

Bagaimana Watson dapat mengatasi kegugupannya? "Byron memberikan nasihat yang terbaik kepada saya." Watson ingat apa yang pernah dikatakan oleh Byron Nelson, pemain golf profesional legendaris di tahun 1930-an dan 1940-an. Byron pernah berkata, "Jalanlah dengan perlahan-lahan, berbicaralah lambat-lambat, lakukanlah segala hal dengan sengaja dilambatkan dari biasanya. Hal itu akan menenangkan engkau". Nasihat itu membantu Tom Watson mengatasi kegugupannya. Ia kemudian memenangkan banyak turnamen golf, termasuk kejuaran Inggris Terbuka sebanyak lima kali.

---

Setiap orang bisa saja gagal. Kegagalan merupakan bagian dari proses yang membawa kita pada kedewasaan dan keberhasilan. Kebanyakan para pengusaha yang sukses telah melalui berbagai kegagalan dalam kehidupan ini, namun mereka biasanya tidak menganggap kegagalan mereka sebagai kekalahan. Mereka menganggap kegagalan sebagai pelajaran. Jika anda ingin berhasil, belajarlah banyak dari kegagalan anda sendiri.

Thursday, May 27, 2010

Seni Menjual

Seorang pemilik toko di kota kecil di daerah Kudus di undang pergi ke kota Surabaya untuk mendengarkan ceramah sales manager yang termasyur tentang Seni Menjual.

Si Pembicara menceritakan kisah yang terkenal tentang seorang wanita di toko gula-gula yang punya pembeli lebih banyak dari pada karyawan toko lainnya.

"Dia memperhatikan bahwa kalau orang membeli satu pon permen dari gadis lainnya," ahli penjualan ini menjelaskan, " mereka akan menaruh permen lebih dari satu pon di atas timbangan, kemudian mengambil permen satu demi satu sampai mendapatkan timbangan tepat satu pon. Tetapi gadis ini menggunakan psikologi. Dia menaruh permen kurang dari satu pon, lalu menambah satu demi satu sampai pas satu pon. Bobot permen itu sama, tetapi besar sekali bedanya bagi pembeli."

Pemilik toko dari kota kecil ini mencamkan pelajaran tersebut dalam hati dan setelah kembali ke tokonya di Salatiga dia berkata kepada isterinya : "Sejak sekarang kalau orang membeli selusin telur, aku ingin kau yang menghitungkan, sebab telur akan kelihatan lebih besar dalam tanganmu yang kecil."

-sumber asli tidak diketahui-

Monday, May 03, 2010

SMP Negeri 139 Jakarta

Tanggal 2 Mei lalu ada kumpul-kumpul bareng alumni dan siswa SMP Negeri 139 Jakarta. Undangan di Facebook berkali-kali datang dan saya kok cuek aja sampai ada temen yang SMS kalau ternyata gedung sekolah kami itu akan dibongkar total dalam waktu dekat ini. Wah, jadi inilah kesempatan terakhir kalau mau melihat gedung sekolah yang lama yang masih terpatri dalam ingatan. Ya, masih banyak memori indah yang tertinggal disitu bahkan dibandingkan masa-masa kuliah ataupun SMA. Jadi, saya batalkan semua rencana lain dihari minggu 2 Mei itu, and datang bawa pasukan rumah menyerbu sekolah SMP 139.
Dari rumah Slipi menuju rumah Bokap-Nyokap di jalan Red Rose atau Mawar Merah, Perumnas Klender dan parkir kendaraan disana. Trus jalan kaki menyusuri jalan yang dulu selama 3 tahun saya lalui sehari-hari menuju sekolah. Wah, ternyata sudah banyak sekali yang berubah. Saya memang sudah lama sekali gak keliling daerah sana, hmm...

Sampai didepan gedung sekolah, suasananya terasa sudah berubah. Saya memang hanya dua atau tiga kali saja masuk kesana kembali setelah lulus dari sekolah itu ditahun 1987. Kembali lagi masuk dihalaman sekolah kok kesannya sempit ya...dulu sepertinya luas sekali untuk kami bermain-main disana. Sekilas melihat halaman sekolah yang sudah ramai dengan para alumni hari itu, saya langsung menuju ruang kelas saya yang terakhir dulu, kelas 3A yang letaknya diujung sebelum ruang serba guna tempat saya juga ikut latihan Karate Lemkari dojo SMP 139 dengan guru karate bapak Bilal Daulay yang juga guru Bahasa Inggris kami.
Saya dan pasukan rumah beringsut-ingsut kearah kelas melawan kepadatan pengunjung hari itu. Sampai dipintu kelas, saya terhenyak memandang kedalam melihat situasinya...
Ya, sekolah kami itu memang sudah sangat tidak layak. Sangat menyedihkan!
Saya sangat terluka membayangkan kami sedang belajar atau bermain-main diruangan kelas itu, betapa gembiranya...
Saya meraba-raba dinding kelas, bangku atau kursi yang berdebu, menatap langit-langitnya yang sudah jebol sebagian sehingga terlihat genteng dan kayu-kayunya yang sudah dimakan rayap.
Disitulah dulu kami sama-sama menyanyi satu lagu dipelajaran seni musik dengan ketukan tangan, kaki dilantai, pulpen dikaca, buku ke-meja, dsb menyatu dengan suara nyanyian anak-anak sekelas sehingga menjadi lagu terindah yang pernah saya dengar sepanjang hidup sampai kini.
Saya tidak menyangka kalau saya pernah belajar dikelas yang sudah sedemikian bobrok itu!
Dari kelas 3A, kemudian saya beringsut ke kelas sebelah 3B dan ke kelas-kelas lainnya juga yang kondisinya ternyata tidak jauh berbeda...
Akhirnya ketemu deh dengan sesama alumni angkatan 87 lainnya. Saling bersalaman dan bertegur sapa walaupun sudah tidak tahu lagi nama masing-masing, hehe...
Tapi diantaranya ada yang masih saya kenal. Tidak berapa lama, datang bapak-bapak dengan rambut sudah banyak yang memutih dengan gaya nyentrik yang langsung akrab dengan para alumni. Saya pikir sesama alumni juga, eh ternyata itu adalah bapak Bilal Daulay guru Bahasa Inggris kami dulu dan juga guru karate pemegang sabuk Dan 2 di kegiatan ekstra kurikuler.
Kami langsung akrab dan bercerita memori masing-masing, juga kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan sekarang. Ternyata pak Bilal sudah tidak mengajar disitu lagi, beliau sekarang mengajar film disalah satu sekolah film di Jakarta. Wah, kok banting setir begitu jauh pak?
Saya kerja untuk cari duit, dimana yang bisa kasih lebih, saya pilih itu! Begitu seloroh beliau...
Tapi kan di film adalah sesuatu yang lain...harus berjiwa seni?!
Saya tidak suka seni! Film is industry! Mulai deh kita berdebat...
Menurut beliau, sekarang ini mencari uang bisa dari bidang apa saja. Jangan jadi pekerja keras, tetapi jadilah pekerja cerdas!
Pekerja keras hanya dibayar UMR (Upah Minimum Regional), tapi pekerja cerdas bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak. Beliau kasih contoh ditempatnya mengajar film, juga dipelajari fotografi (sambil melihat kamera DSLR saya). Yang dipelajari adalah teknologi fotografi terkini dan kegunaannya. Dengan pengetahuan teknologi fotografi bisa dihasilkan output yang diminta klien dan menghasilkan uang. Menurut beliau muridnya belajar fotografi 6 bulan saja sudah banyak yang bisa menghasilkan uang. Coba jadi sarjana, belajar susah payah, setelah lulus juga bekerja susah payah, eh hanya dibayar UMR!
Luar biasa memang bapak guru yang satu ini, kami semua kembali seperti muridnya dulu yang menyimak sambil manggut-manggut terkagum-kagum.
Pak Bilal pengetahuannya memang relatif lebih luas, setelah saya pancing bahwa dulu beliau pernah belajar di Kanada, langsung disambar bahwa beliau 2 tahun di Kanada, kemudian setelah resign dari SMP 139 beliau pernah berkesempatan belajar dan tinggal di Inggris selama 2 tahun, juga selama 4 tahun di Australia. Ya, Beliaulah guru Bahasa Inggris kami dulu...
Setelah pak Bilal pamit, saya melanjutkan diskusi kecil dengan teman-teman disitu mengenai apa yang dikatakan pak Bilal tadi. Ternyata disitu ada dua orang para pekerja seni, Lidya Hakim dan si Yuli.
Yuli bercerita bahwa dia juga pernah melanglang buana ke negara-negara Eropa Timur selama 3 bulan, juga ke Mesir dan lainnya dari pekerjaan menari atau teater seni mewakili Indonesia di dunia internasional. Ya, saya tahu memang cewek yang satu ini menyukai seni teater dari dulu (Yuli dan saya satu sekolah kembali di SMA), dan dia betul-betul terjun kebidang yang disukainya itu.
Saya bilang, kamu beruntung Yul, kesukaanmu - hobi kamu bisa menghasilkan uang dan kepuasan batin, kamu pasti happy...
Saya juga sebetulnya sangat menyukai seni atau design. Tapi saya tidak punya keberanian seperti Yuli, dan memaksakan cita-cita sebagai insinyur yang ternyata betul seperti pak Bilal katakan "harus bekerja keras dan cuma dapat UMR!".
O ya, sebetulnya juga saya sangat senang kalau mengajar lho... jadi dosen dan berinteraksi dengan para mahasiswa.
Seandainya waktu bisa diputar kembali...

Puas mengobrol dengan teman-teman lama, saya lihat dikejauhan ada Mang Karna.
Menghampiri dan ambil fotonya. Mang Karna tidak seperti dulu lagi, minimal sudah berkurang lah, hehe... mungkin karena sudah berumur juga?!
Saya wawancara sedikit ke Mang Karna mengenai nasib sekolah itu nantinya. Menurut beliau, sekolah itu akan dirobohkan tidak lama lagi dan akan dibangun 4 lantai (belakangan dari ibu Fauziah guru bahasa Indonesia kami dulu, saya tahu bahwa sekolah itu harus sudah kosong per tanggal 10 Mei 2010 ini dan dibongkar untuk dibangun kembali).
Mang Karna bercerita bahwa sekolah itu dibangun pada tahun 1977 sampai dengan 1978, dan angkatan pertama yang lulus adalah di tahun 1980. Beliau sendiri mulai bergabung disekolah itu sebagai penjaga sekolah (sampai sekarang) sejak tahun 1978. Minggu depan akan datang alat-alat berat, buldozer dan semacamnya untuk merobohkan semua bangunan disekolah ini katanya. Rencananya selama 1 tahun sekolah ini dalam masa pembangunan gedung baru, dan para murid diungsikan kebeberapa sekolah sekitar untuk belajar.
Selamat tinggal kenangan lama disekolah SMP-ku dulu...

Memasuki halaman sekolah.

Spanduk dari alumni angkatan 87.


Kelas terakhir saya dulu, 3A.

Dinding penyekat kelas itu pernah roboh setelah saya dibanting Agus Setiawan saat bermain-main, dimana saat yang bersamaan di kelas sebelah bapak Saripin Simanjuntak (SS) sedang mengajar dikelas sebelah. Saya jatuh tepat dihadapan pak SS yang angker itu... (baca "Reuni SMP 139 Jakarta" diposting saya terdahulu).




Kondisi kelas sangat menyedihkan, seperti topi sekolah yang sudah berdebu ini...




Diruangan ini dulu pak Bilal mengajar Karate.










Pak Bilal didepan no. 2 dari kiri dan teman-teman lainnya yang saya sendiri sudah tidak hafal nama-namanya semua.

Dian - Pak Bilal Daulay - Lidya Hakim


Ada acara band dan bazaar.


Pameran foto. Yang menjaga stand adalah para ibu guru, tapi saya sudah gak tahu lagi namanya...Saya beli foto dibawah ini yang ada foto pak Saripin Simanjuntak guru matematika kami yang terkenal itu... (pak SS paling kanan yang berkumis tebal).




Ibu Fauziah, guru Bahasa Indonesia (paling kanan berkerudung) memanggil-manggil saya minta untuk difoto (karena saya bawa kamera DSLR). Saya tadinya tidak tahu kalau itu ibu Fauziah, bahkan setelah beliau mengenalkan diri bahwa beliau guru; ibu Fauziah.
Setelah sejenak merenung diam, perlahan-lahan memori saya kembali ke ibu guru Bahasa Indonesia kami itu. Sori bu, saya juga sudah tua, hehe...


Mang Karna dan ekspresinya...
SMP Negeri 139 berada di jalan Bunga Rampai Raya. Gang-gang ini sering saya lalui saat berangkat dan pulang sekolah sehari-hari.