Wednesday, January 02, 2008

Nara

Kota ini terletak di bagian utara Prefektur Nara, dan berbatasan dengan Prefectur Kyoto. Nara merupakan salah satu kota wisata yang ramai di Jepang. Nara adalah kota taman nan indah, nyaman dan jauh dari ingar bingar kota besar.
Kalau dari kota Osaka kita bisa berangkat ke Nara dari stasiun Tennoji (chikatetsu) kemudian dilanjutkan dengan densha (KA) JR Line menuju Nara (450 yen). Atau bisa juga dari Namba eki (stasiun Namba) dilanjutkan dengan Kintetsu Line menuju Nara (540 yen).
Kalau naik JR line, setelah turun di Nara eki, kita menuju Nara park dengan berjalan kaki kira-kira 20 menit melewati toko-toko penjual souvenir dan restoran-restoran khas makanan Jepang.
Daerah-daerah tujuan wisata di Jepang biasanya (dilokasi wisata) disediakan stempel/cap yang menunjukkan bahwa kita pernah mengunjungi tempat tersebut. Di Nara, mulai turun stasiun sudah ada stempel itu, jadi jangan lupa bawa buku kecil dengan beberapa halaman kosong untuk cap tempat yang kita kunjungi tersebut sebagai kenang-kenangan. Di Todaiji Temple (tempat the Great of Buddha juga ada stempel itu, jangan lupa ya...! Stempel itu bebas kok alias gratis !
Daya tarik Nara bukan hanya Kuil Todaiji semata, penduduknya yang ramah dan suka menolong juga hal lain yang bakal ditemui setiap pengunjung yang datang. Anehnya, para pelancong asing lebih memilih tinggal di Kyoto meski untuk menikmati keindahan Nara tidak cukup dalam waktu sehari.

Di Nara Park banyak rusa-rusa liar tapi jinak. Kalau ada makanan kita pegang, mereka langsung nyerbu kita. Gak berbahaya sih, tapi gak enak aja makan ditungguin rusa !

Penjual ubi rebus.
Rasanya persis seperti ubi cileumbu (banyak dijual di puncak pass).

Kalau mau melihat keindahan Nara yang sesungguhnya, jangan lewatkan kehidupan malam dengan warung sake dan kelab malam di Nara. Toh di kota ini ada cukup banyak hotel dan ryokan alias kamar ala Jepang yang berlantai tatami, dan restoran atau rumah makan.
Saya sekilas baca tarif hotel yang ada persis didepan stasiun Nara yaitu sekitar 5500 yen permalan. Agar wisata di Nara lebih nyaman tak ada salahnya memesan akomodasi dari Agen Perjalanan Kyoto atau kota kota lain yang bisa ditemukan di stasiun kereta api. Untuk sekedar menginap, dianjurkan ke Nara-ken Seishonen-Kaikan Youth Hostel yang tempatnya tidak jauh dari stasiun Kintensu.
Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah, jangan segan-segan bertanya. Soalnya informasi dalam bahasa Inggris atau tulisan romawi tak selalu tersedia. Jadi nasihat bijak "Malu bertanya sesat di jalan" ada baiknya diperhatikan kalau tak mau benar-benar tersesat. Bila tak paham bahasa Jepang, seorang pendatang bisa mendadak bisu, tuli, sekaligus buta huruf.
Lokasi Nara Tourism information center ada persis di ujung jalan sebelah kiri sebelum perempatan jalan besar menuju Nara Park (ada patung spt bentuk kubik - lihat photo).



Todai-ji Temple
Didalamnya ada patung Buddha terbesar di Jepang yang terbuat dari perunggu (no.2 terbesar didunia - setelah 'The Sleeping Buddha'), dibangun di abad ke 8.

Selepas Todaiji Temple menuju Nigatsu-do & Sangatsu-do Hall
Kita akan ketemu "Great Bell"

Jalan bertangga menuju Nigatsu-do Hall dan Sangatsu-do Hall

Nigatsu-do Hall dan Sangatsu-do Hall

Pancuran air (untuk minum atau cuci muka)

Osake.

Ketemu bule nyentrik di Nigatsu-do Hall
(Pink Hair)

Menuju Nara Park, ketemu bangunan ini.

Jalan menuju Kasuga Wakamiya Shrine

Pilar-pilar di Kasuga Taisha Shrine

Ini di Kasuga Wakamiya Shrine
(banyak makam-makam kuno disini)

Deretan makam-makam kuno

Tuesday, December 11, 2007

Tiba di Osaka

Tak terasa dua minggu sudah saya berada di negeri sakura Jepang. Suhu udara disini berkisar antara 10~12 derajat celcius saat ini (11 Des, 2007).
Ini pertama kalinya saya ke negeri sakura. Masih teringat saat keberangkatan dari bandara Soekarno Hatta dua minggu lalu (26 Nop, 2007), banjir dijalan tol bandara akibat pasang air laut mencapai setinggi lutut menghambat lalu lintas dari dan menuju bandara saat itu.
Saya berangkat dari rumah (Kemanggisan-Slipi, Jakarta Barat) sekitar pukul 16:30 untuk keberangkatan pesawat pukul 20:15 (SQ0967, JKT-SIN). Sekitar setengah jam perjalanan dengan taxi selepas keluar pintu tol Kapuk Kamal, macet panjang sudah terlihat sepanjang mata memandang. Menurut supir taxi hal tersebut sudah biasa di jam pulang seperti itu, tapi setelah merambat jalan setengah jam perasaan saya mengatakan hal yang luar biasa terjadi. Satu jam kami mencapai pintu tol Kapuk Kamal, saya memutuskan untuk mencari jalan alternatif keluar pintu tol Kapuk Kamal melalui jalan biasa menuju bandara.
Ternyata benar, sesampai di bandara suasana terminal keberangkatan luar negeri relatif terlihat sepi. Banjir setinggi lutut itu telah membuat ‘stuck’ arus lalu lintas di tol.
Saya sendiri dua setengah jam waktu habis di jalan. Dari 4 orang rekan (Mitsubishi Jidosha kenshu sei) yang rencananya akan berangkat ke Jepang malam itu, hanya saya yang sampai dibandara dalam time range yang diperbolehkan masuk ke dalam pesawat.
Satu teman tiba 15 menit sebelum pesawat diberangkatkan, tetapi tidak diizinkan masuk. Salut untuk Singapore Airline yang tetap on time schedule take off walaupun hanya sekitar 20% bangku yang terisi saat itu.


















Membandingkan Jakarta dengan Osaka adalah sangat tidak relevan. Saya tidak tahu apakah Jakarta satu saat dapat keluar dari problema lalu lintas yang ada ataukah akan semakin menjadi jadi dan semakin membuat frustasi penduduknya.
Jaringan subway (chikatetsu) dan bis sudah sangat teratur disini. Saya sendiri begitu sampai di asrama KKC (Kansai Kenshu Center), langsung keluar mencoba jaringan chikatetsu menuju downtown (Namba) di tengah kota Osaka, sightseeing sekitar denden town.
Luar biasa, bagaimana mereka bisa membuat dan mengaturnya seperti itu? Hanya beberapa menit menunggu (mungkin tidak sampai lima menit) sudah ada kereta yang datang menjemput kita menuju tujuan. Mungkin ada ratusan kereta yang ada di jaringan subway Osaka saat ini.

Suasana Shin-Osaka Eki.

Pembelian tiket dilakukan secara otomatis di mesin pembelian tiket. Kita hanya mengkonfirm di peta subway yang ada di dekat mesin penjualan tiket otomatis itu, berapa ongkos yang harus dibayar? Kemudian memasukan sejumlah yen ke mesin (baik uang kertas maupun koin) dan memencet tombol ongkos tujuan kita. Sejumlah uang kembalian akan keluar secara otomatis apabila uang yang kita masukan lebih besar dari ongkos yang harus dibayar.
















Kereta walaupun padat di jam-jam sibuk, tetapi terkesan teratur, bersih dan tidak semrawut. Dikereta selalu disebutkan stasiun pemberhentian berikutnya. Juga didalam kereta selalu ada peta jalur subway tersebut disetiap gerbongnya. Saya tidak pernah khawatir akan tersesat naik chikatetsu di Osaka. Apabila stasiun yang kita tuju terlewat, kita bisa turun dan naik kereta ke arah sebaliknya tanpa harus membeli karcis kembali. Prinsipnya, selama belum keluar eki (stasiun) karcis terhitung belum digunakan, jadi kalau mau bisa keliling-keliling subway dengan membayar ongkos stasiun terdekat saja. Tapi untuk apa? Karena di subway tidak ada yang bisa dilihat kecuali orang-orang yang naik chikatetsu. Bagusnya lagi, kalau kita berubah pikiran dan turun di stasiun yang lebih dekat dari ongkos yang kita bayar, kita bisa merembus sisa ongkos yang tidak dipakai!


















Orang Jepang tidak mengenal tip, jadi kalau kita belanja apa saja apabila ada uang kembaliannya, maka jumlahnya pasti sesuai sisanya sampai ke nilai paling kecil sekalipun (1 yen), kalau di Jakarta paling-paling dikasih kembalian permen ! :)
Kapan ya Jakarta kayak begini???

Ada juga one day tiket chikatetsu (hanya bisa dipakai untuk subway saja, bukan railway-diatas tanah) ataupun one day tiket chikatetsu dan bis (bisa digunakan untuk chikatetsu dan jaringan bis). Bagi orang-orang yang ingin melancong ke Osaka, one day tiket ini sangat membantu sekali apabila maksimum kita gunakan. Kita dapat turun naik dengan bebas selama satu hari penuh dengan one day tiket tersebut.
One day tiket untuk chikatetsu adalah 850 yen, dan 2000 yen untuk chikatetsu dan bis.
Ongkos termurah antar eki (stasiun) – dan juga bis adalah sekitar 200 yen untuk satu kali jalan. Untuk PP kita harus siapkan ongkos minimum 400 yen, dengan catatan itu adalah jarak terdekat!
Untuk pembelian one day tiket chikatetsu dan bis (2000 yen), itu sudah termasuk free entrance fee beberapa paket-paket wisata didalamnya, seperti Osaka jo / Osaka castle(ongkos masuk umum 600 yen), Osaka jo Aqua Liner Cruise (naik boat keliling Osaka Castle sekitar 40 menit, bila tidak mempunyai one day tiket – kita harus bayar 1600 yen per orang!), Osaka jo park trem (ongkos umum 200 yen), Floating garden (700 yen) & HEP Five Wheel (seperti bianglala di Dufan, dapat diskon 100 yen dari 500 yen ongkos normal), Osaka Museum of History, Osaka Aquarium “Kaiyukan” (aquarium terbesar didunia-diskon entrance fee), Osaka Bay Cruise “Santa Maria”, dan banyak lagi obyek-obyek wisata lainnya. Kalau mau lebih murah lagi, ambil yang paket two days tiket seharga 2700 yen. Ayo ke Osaka…

Tuesday, November 13, 2007

Bola Untuk Anak

25 tahun yang lalu,Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak "Horeee, Iya bisa terbang". Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. dan Kania tak jarang berteriak, "Iya sayaaang," jika sudah terdengar suara "Prang". Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang "Kenapa semua kaca dirumah ini selalu pecah, Ma?"

18 tahun yang lalu,Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. "Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!" tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. "Horee, Iya jadi pemain bola."

17 Tahun yang laluIya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa". Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata "Coba kalau kamu tak belikan ia bola!"

15 tahun yang lalu,Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu,Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya. "Biar cantik kalo kere ya kelaut aje." Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga."Sabar ya, Nak!" hiburku."Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!" pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu,Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu, Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa
apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku. Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku. "Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya. "Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?" "Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!" Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu, Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass" Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
"Kania?""Mas Har, kau ... !""Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!""Iya? Dia..dia . Iya?" serunya getir menunjuk jenazah anakku."Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.""Tidak ... tidaaak ... " Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya "Terima kasih Mama." Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu, Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak." Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku.

Rrgds,
Vanny - Mama Velicia & Viola

Friday, November 09, 2007

Pelajaran buat para suami...

Umar lagi asik-asiknye nonton bola depan tipi, tau-tau bininye nyelonong: "Bang, lampu teras putus, tolong gantiin ame yang baru dong!" "Masang lampu ?!!!, lu kire gue PLN apah...!!!" saut Umar enteng.
"Ya udeh kalo kaga mau, benerin aje keran kamar mandi, itu tuh aernya ampe luber-luber" "Benerin keran ?!!!, lu kire gue PAM kali...!!!" "Ya udeh, kalo lu pegi beli rokok ke warung aje gue nitip minyak" "Lu kagak bisa liat orang lagi enak nonton kali ye,lu kire gue PERTAMINEEE. ..!!!" Umar sewot.
Lantaran berasa digangguin terus, Umar ngeloyor ke rumah tetangge, balik- balik jem 2. Tapinye Umar kaget lantaran terasnye udah terang. Terus Umar ke kamar mandi, aer udah kaga luber-luber; ke dapur jerigen minyak juga udah full tenk.
Paginye Umar nanya ame bininye: "Lu minta tulung ame siape...?" "Gini bang, abis abang minggat, gue nangis di teras. Terus ade cowok ganteng lewat nanyain gue. Gue cerite ape adenye,juga soal abang nyang sewot. Terus die nawarin buat ngebantuin, tapi ada syaratnye."
"Ape syaratnye... ?" Umar pingin tau. "Syaratnye bisa pilih, gue bikinin die roti atawa tidur ame die" "Terus yg pasti elu bikinin die roti kan ...?" Umar ngedesek.
"Bikinin roti ?!!! .. Lu pikir gue DUNKIN' DONUTS apee...?!!!"

Berawal dari Sebuah Sapaan ...

"Ga usah" jawaban bersahabat dari seorang kenek bis kota kampus itu terus terang menghadirkan tanda tanya dalam hatiku "kenapa dia tidak mau menerima ongkos itu ?". Turun di terminal, sobatku yang talkactive itu memulai aksi yang baru, menghampiri gerobak pedagang air tebu. Bapak itu buru-buru menyodorkan segelas air tebu es kepadanya, padahal dia belum meminta. Rupanya si bapak sudah melihat kedatangannya dari jauh.
Bukan hari ini saja, seakan-akan setiap hari selalu ada orang baik untuknya. Kemaren, ketika dia asyik berceloteh dengan teman-teman sewaktu jam istirahat, seorang ibu yang biasa mengusung dagangannya dari blok ke blok kelas kuliah memanggilnya. Dengan gembira dia kembali, "nih satu buat kamu" sambil membawa dua bungkus tahu isi, "dikasih si Ibu" lanjutnya sambil tersenyum kepada si Ibu yang juga tersenyum dengan bahagia.
Belum lagi, minggu yang lalu dia sukses memindahkan sepiring sate dosen ke tangannya. Aku berusaha sekuat tenaga menyibak kekuatan yang dimilikinya. Sobatku itu seorang yang sederhana, tidak kaya, tidak cantik, tidak terlalu berprestasi. Hanya satu kelebihannya yang tidak dimiliki orang lain. Ya.. aku mulai menyadari. Kelebihan itu juga tidak ada padaku. Dia sangat hobby menyapa orang lain yang berlanjut dengan obrolan.
Anehnya, dia tidak pernah kehabisan bahan. Dari terminal sampai kampus, sang kenek seakan mendapat tambahan semangat ketika dia ajak ngobrol. Begitu juga wajah pedagang tebu ketika dia bertanya tentang keadaan isteri dan anak-anaknya.
Aha ! aku juga baru tahu kenapa si ibu rela memberikan tahu cuma-cuma untuknya. Karena sifatnya yang ramah, dia tidak saja punya teman sesama fakultas, tapi juga dari fakultas lainnya. Merekalah yang "dipaksa"nya untuk membeli dagangan si ibu. Masih dengan rasa penasaran, kucoba bertanya kepada kenek bis yang selalu memberi gratisan kepadanya "ga rugi tuh ?". Sungguh terperanjat aku mendengar jawaban kenek itu "Wah, ga sebanding mba dengan jajan yang selalu diberinya untukku".
Aku tidak mencoba bertanya lebih jauh kepada pedagang air tebu, karena aku sudah menemukan jawabannya. Seperti kata seorang guru "Orang mendapatkan bukan dari apa yang dimintanya tapi dari apa yang diberikannya." Yah, sobatku melakukannya dengan tulus dan suka cita. Keramahtamahan dan kemuliaan budinya langsung dibalas Allah lewat kasih sayang hamba-hamba-Nya yang lain. Semuanya berawal dari sebuah sapaan.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)