Friday, May 29, 2015

Ke Bromo

18 April 2014 kami ke Bromo..
Sudah lama pengen bawa anak-anak ke gunung Bromo, wisata yang sedikit adventure gitu lah..
Saya sendiri sudah pernah sekali kesana sebelumnya, jadi kira-kira tahu bagaimana dan persiapan apa yang harus dilakukan. Pertanyaannya apakah anak-anak sudah cukup umur untuk enjoy wisata petualangan seperti ini?
Dari hotel Harris di Malang, kami berangkat sekitar jam 3 sore dengan kendaraan sewaan menuju bromo melewati jalur pasuruan. Sekitar jam 7 malam sudah sampai di Tosari, base camp sebelum ke bromo. Hunting penginapan dan sewa jip ke bromo on the spot aja. Harga penginapan disini bervariasi antara 100rb~350rb, umumnya adalah rumah-rumah penduduk lokal yang disewakan. Waktu itu kami dapat seharga 250rb, dengan fasilitas kamar mandi air panas. Harga sewa jip 450rb dengan layanan 3 spot; pananjakan (view bromo), savana/pasir berbisik, dan bukit teletubbies.
Ngobrol ngalor ngidul dengan penduduk lokal, jam 9 malam kami istirahat untuk esok paginya akan dibangunkan sekitar jam 3 pagi!

Penduduk Tosari umumnya adalah petani. Tapi makin hari semakin sulit mencari tenaga buruh tani disana kata bapak teman ngobrol saya malam itu. Anak-anak muda sekarang tidak mau dibayar murah lagi sebagai buruh tani dengan upah 40rb sehari (saat itu). Padahal harga jual sayuran atau kentang juga tidak bisa semena-mena.. jadi marginnya tipis setelah dihitung pengeluaran pupuk dan anti hama lainnya keluhnya. Anak muda sekarang lebih memilih pekerjaan instan untuk cari uang seperti jadi penjual souvenir, calo-calo penginapan dan jip, ataupun jadi supir jip.. jarang yang mau bekerja keras banting tulang lagi di ladang katanya. Saya sendiri bisa merasakan secara instan keluhan si bapak saat itu juga. Saat kami asik mengobrol diteras rumah, beberapa anak muda datang menjajakan souvenir bromo, mereka menawarkan barang-barang yang sebenarnya sudah kami persiapkan dari rumah; kupluk (tutup kepala sampai telinga), syal, sarung tangan, jaket, kaca mata, dan pernak-pernik lainnya. Mereka sangat memaksa kita untuk membeli dagangannya, setidaknya saya merasa seperti itu.. beberapa kali kami menolak secara halus, tapi mereka tidak ada yang beranjak dari hadapan kami. Saya coba keras kepala, tapi ternyata kepala mereka mungkin malah terbuat dari granit! Bahkan sampai kami masuk dan menutup pintu pun, mereka tidak beranjak. Menunggu sampai jam 3 pagi nanti kami keluar dari rumah itu ber-adventure dengan jip yang sudah dibooking sebelumnya.. So, terserah anda, tetap berkepala batu atau menyerah saja. Kalau saya memilih menyerah aja lah, beli 2 kupluk untuk anak-anak seharga @25rb or something..

Penduduk sekitar bromo adalah suku Tengger (baca "e" pepet, bukan "e" taling), seperti baca rujak "bebek", bukan telur "bebek".. :-) Mereka beragama hindu. Jadi banyak pura dan sesajen disini, mirip seperti di bali.. Mereka tinggal secara turun temurun sebagai petani ladang di sekitar gunung bromo, yang sekarang mencakup 3 kabupaten; Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang.
Dulu, si bapak bercerita banyak anak-anak berambut gimbal disini. Tapi sekarang sudah jarang atau malah tidak ada lagi. Itu ciri khas anak petani disana. Waktu terbaik mengunjungi bromo adalah pada waktu perayaan adat suku Tengger; Yadnya Kasada, dibulan Agustus pada saat bulan purnama (malam hari), yaitu perayaan syukuran tahunan pada hasil panen, dimana segala aktifitas dilakukan disekitar kawah bromo dan pura agung poten. Tapi sepanjang tahun, bulan Agustus adalah yang paling dingiiiin di bromo! Bahkan akan ada salju tipis yang menutupi daun-daun maupun lautan pasir disekitar kawah bromo. Suhu saat itu bisa mencapai antara 0~5 derajat celcius! Itu betul-betul sangat dingiiin lho..
Silahkan berlibur ke Bromo ya..

Sunrise di Pananjakan view point



Gunung Bromo jam 6 pagi.
Gunung Bromo yang mana? Yang mengeluarkan kepulan asap..



Pananjakan view point

 Ada yang foto prewedding di pananjakan view point..



National geographic reporter..


Terminal jip (umumnya Toyota hardtop), dilapangan dekat gunung Bromo. Kendaraan hanya diperbolehkan sampai disini saja, selanjutnya wisatawan jalan kaki kira-kira 1km sampai ke atas kawah bromo melewati 250 anak tangga. Populasi jip dikawasan sekitar bromo mungkin lebih dari 1500 unit, menurut pak supir kami. Saat kesana, pagi itu di terminal jip Pura Agung Puton, kira-kira ada sekitar 300~400 jip yang parkir membawa para wisatawan..


Ada juga jasa penyewaan kuda, tarifnya Rp 50rb perorang kalau gak salah..



250 anak tangga..










Narsis dot com..
Di lokasi savana "pasir berbisik.."
Dikatakan pasir berbisik karena saat angin bertiup, akan terdengar suara "magis" seperti di padang gurun gitu lho..

Gudang Garam..
Pria punya selera..!!



Di "Bukit Teletubbies.."
Narsis lagiii..

Ladang sayuran dan kentang di bromo..

No comments: