Sunday, September 26, 2010

Kebun Binatang Ragunan

Sabtu pagi cuaca mendung serasa mau hujan, tapi tancap aja terus ke Ragunan, tidak gentar!
Rp 8rb, admission fee untuk 1 orang plus parkir sepeda motor plus asuransi plus sumbangan ke Palang Merah Indonesia. Gerbang masuk sudah dibuka mulai dari jam 7 pagi. Hmm, memang lebih enak pagi-pagi kesini, udaranya masih segar, masih bersih-belum banyak sampah berserakan, dan masih sepi-belum banyak pengunjungnya. Agak siang sedikit suasananya sudah seperti pasar saja rasanya...
Hello guys, I'm coming to framing u again, hehe...














Friday, September 24, 2010

Narsis

Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narcissus, yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.

Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis. (Patologi merupakan cabang bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh.


Legenda Narsisus
Di kota Thebes hiduplah seorang peramal yang amat terkenal. Tiresias namanya. Ramalannya selalu tepat. Banyak orang datang kepadanya minta ramalan, petunjuk, dan nasihat.
Adalah peri, mempunyai anak laki-laki bernama Narsisus. Peri itu bertanya pada Tiresias, apakah anaknya dapat hidup sampai tua. Peramal itu menjawab, “Bisa, asal ia tidak pernah mengenal dirinya sendiri.”

Sampai lama sekali, ramalan itu seakan-akan tidak mempunyai arti apapun.
Ketika Narsisus berumur enam belas tahun, ia disukai oleh banyak anak muda dan dicintai oleh banyak gadis. Tetapi ia terlalu sombong, tidak mau memperhatikan orang lain.

Sekali peristiwa, ketika ia bersama teman-temannya sedang memburu seekor rusa, peri Ekho melihatnya. Ekho tidak dapat bercakap-cakap, tapi juga tidak dapat berdiam diri kalau ada orang sedang bercakap-cakap. Ia hanya dapat mengucapkan kata-kata terakhir kalimat yang diucapkan orang lain. Ini akibat kutukan Yuno. Konon Yuno sangat marah kepada Ekho, karena Ekho mengajak berbicara terlalu lama untuk mengorek keterangan apa yang sedang dilakukan oleh suami Yuno, Yupiter.

Ketika dilihatnya Narsisus berjalan-jalan di dalam rimba, Ekho jatuh cinta. Dengan sembunyi-sembunyi ia mengikuti jejak Narsisus. Betapa besar keinginannya hendak mengajak berbicara dan membisikkan kata-kata yang lembut ke telinga Narsisus. Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya. Ia tidak mampu berbicara terlebih dahulu. Ia hanya dapat menunggu sampai Narsisus berbicara, lalu mengikuti dengan kata-katanya sendiri.

Pada suatu ketika, Narsisus terpisah dari teman-temannya. Ia pun berseru, “Apakah ada orang di sini?”

Ekho menjawab, “Di sini!”
Narsisus melihat ke sekeliling dengan heran. “Datanglah kemari!” teriaknya.
Sahut Ekho, “Datanglah kemari!”

Sekali lagi Narsisus memandang ke sekeliling dan seorang pun tak ada yang muncul. Ia berseru lagi, “Mengapa engkau menghindari aku?” Sekali lagi kata-kata yang sama terdengar olehnya. Ia berdiri tegak dan berdiam diri, bertanya dalam hati, suara siapakah gerangan itu. Lalu ia berseru, “Mari kita bertemu di sini!”

“Bertemu di sini!” jawab Ekho, lalu keluar dari tempat persembunyiannya, menghampiri Narsisus. Ingin sekali ia berdampingan. Tetapi Narsisus lari, sambil berseru, “Jangan sentuh aku! Lebih baik aku mati sebelum engkau menyentuh aku!”
“Sebelum engkau menyentuh aku!” sahut Ekho. Dan Ekho pun tidak dapat berbicara lebih lanjut.

Cintanya ditolak. Hal itu dirasakannya sebagai penghinaan. Ia bersembunyi di hutan. Ditutupinya wajahnya yang kemerah-merahan karena malu dengan dedaunan. Kemudian ia hidup sendiri di gua-gua. Cintanya tak padam. Bahkan semakin menyala karena ditempa oleh kesedihan. Karena kurang tidur dan dirundung sedih, badannya semakin susut. Ia makin kurus. Semua zat yang mengandung air di dalam tubuhnya menguap ke udara. Hanya tinggal tulang-tulang dan suaranya. Suaranya masih tetap kedengaran. Tulang-tulangnya menurut cerita orang telah berubah menjadi batu. Ia tetap bersembunyi di hutan-hutan dan tidak pernah terlihat lagi di bukit-bukit. Namun semua orang dapat mendengar suaranya. Suaranyalah yang masih hidup.
Bukan Ekho saja yang telah dihina oleh Narsisus. Juga pemuda-pemuda temannya sendiri. Akhirnya salah seorang pemuda yang menderita karena perlakuan Narsisus, berdoa kepada dewa-dewa, “Semoga ia jatuh cinta seperti Ekho, tetapi terhadap dirinya sendiri. Dan semoga ia tidak dapat memperoleh apa yang dicintainya!” Doa itu rupanya didengar juga oleh Dewi Nemesis.

Di tengah-tengah rimba ada sebuah kolam dengan air jernih cemerlang. Tempat itu belum pernah dikunjungi oleh gembala atau ternak yang merumput di bukit-bukit. Tidak pernah ada burung yang datang ke sana. Bahkan ranting patah pun yang jatuh dari pepohonan di sekitarnya tidak pernah mengusik ketenangan permukaan air. Di sekitar kolam itu ada tanah datar berumput yang sejuk.

Datanglah Narsisus ke tempat itu. Ia senang melihat keteduhan di tempat itu, lalu berbaring di tepi kolam. Memandanglah mukanya ke permukaan air yang jernih. Tampak bayangan wajah di dalam air. Dipandangnya dengan penuh keheranan. Ia tertegun memandang mata yang cemerlang, pipi yang lembut, leher yang halus seperti gading, dan wajah yang cantik.
Ia tidak mengetahui bahwa yang dipandangnya itu bayangan wajahnya sendiri. Ia pun jatuh cinta kepada wajahnya yang rupawan itu. Dan wajah di dalam air itu pun memandang kepada Narsisus dengan sepenuh cinta kasih.

Tidak puas-puasnya ia memandang bayangan wajahnya sendiri.
Ia bangkit, merentangkan lengannya lalu berseru kepada pepohonan di sekelilingnya, “O, kalian rimba dan pepohonan! Kalian yang menyaksikan sekian banyak percintaan, adakah orang yang lebih celaka daripada aku? Aku dapat melihat, tetapi tidak dapat menyentuh apa yang aku inginkan. Seakan-akan ada lautan luas yang memisahkan kami berdua. Sebenarnya kami hanya dipisahkan oleh air kolam. Wajahnya selalu memandangku dengan cinta kasih, senantiasa membalas senyumku, bahkan ikut menangis jika aku menangis. Tetapi mengapa ia selalu menghindar dariku?”

Dipandangnya lagi bayangannya sendiri dalam air. Ketika air matanya terjatuh di air, bayangan itu tampak gemetar dan terpecah-pecah.
“Jangan tinggalkan aku!” teriak Narsisus.
Demikianlah ia merana di tepi kolam itu.

Ekho, walaupun marah kepada Narsisus, sangat sedih ketika melihatnya. Kalau Narsisus berseru, “Aduhai!”, Ekho pun mengulangi, “Aduhai!”

Sambil memandang ke permukaan air, Narsisus berkata mesra, “Selamat tinggal, wajah yang aku cintai dengan sia-sia!” Lalu Narsisus meletakkan kepalanya di atas rumput. Maut menutupi matanya yang mengagumi keindahan wajahnya sendiri.

Peri-peri di rimba dan di sungai-sungai berduka cita atas kematiannya, sedang Ekho selalu menjawab tangis peri-peri itu. Mereka menyiapkan penguburannya dengan obor-obor dan timbunan kayu bakar. Tetapi tubuh Narsisus tidak dapat ditemukan, walaupun dicari ke mana-mana. Di tempat tubuhnya terbaring, mereka mendapati sekuntum bunga. Warnanya kuning dikelilingi kelopak-kelopak berwarna putih.

-sumber asli tidak diketahui-

Sunday, September 12, 2010

Minggu Sore di Taman Suropati

Bosan di rumah cuma tidur-tiduran, nonton TLC, dan browsing internet..., Minggu sore di cuaca yang cerah dipenghujung liburan panjang ini, saya keluar bawa Nikkor 50mm f1.4D yang sudah cukup lama terbaring di drybox. Ya, sepertinya sudah waktunya lensa itu untuk dipanaskan. Sayang agak terlambat juga ide ini muncul. Sampai di Taman Suropati sudah pukul 16:30 sore. Beginilah hasilnya...
















Friday, September 10, 2010

Selamat Idul Fitri 1431 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
Mohon Maaf Lahir & Batin.
Rgrds,
-papilukas-


Pelabuhan Sunda Kelapa, 1 Syawal 1431H (2010)

Tuesday, August 17, 2010

Liburan ke Phuket

Tanggal 12~17 Agustus lalu kami jalan-jalan lagi ke Phuket, Thailand.
Sama seperti Bali, Phuket merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang terkenal didunia. Suasana pantai-pantai disana mirip sekali seperti di Bali. Apalagi yang di Patong beach yang merupakan lokasi paling terkenal dan paling ramai di Phuket, nuansanya gak jauh beda dengan di Kuta atau Legian. Adat istiadat penduduknya yang setiap hari selalu memberikan sesaji, juga sama seperti di Bali. Gak jauh beda lah…Cuma di Bali jauh lebih kental, lebih menyolok. Mulai dari bentuk arsitektur bangunannya, pakaian tradisional yang sering digunakan, sesaji yang ada dimana-mana…
Di Phuket, sepertinya hal itu gak terlalu menyolok. Arsitektur bangunannya tidak seragam seperti di Bali, pakaian tradisional juga gak pernah saya lihat selama disana, dan sesaji tidak bertebaran dimana-mana. Disini penduduk umumnya menganut Buddha dan sebagian juga moslem (banyak di Thailand selatan). Saya kurang tahu, apakah penganut Buddha memang mempunyai budaya yang sama dengan Hindu seperti di Bali dalam memberikan persembahan sesaji itu, ataukah ini hanya budaya lokal saja? Tapi Patong beach sepertinya identik dengan Kuta & Legian. Suasana pantai, kampung turisnya, toko-toko penjual souvenir, detak kehidupan malam, membuat kita seakan-akan sedang berada di Kuta atau Legian. Hanya bahasa dan tulisannya saja yang jelas mengingatkan bahwa kita bukan berada di Bali.

Ke Phuket dari Jakarta ditempuh dengan waktu 2,5 jam penerbangan langsung. Seperti biasa, kami dapat tiket murah Air Asia yang dibeli 9 bulan sebelumnya. Ber-4 (4 seat), kami dapat Rp 920 rb untuk return ticket Jakarta-Phuket-Jakarta, sudah termasuk 1 bagasi 15 kg PP. Ya, Air Asia betul-betul sangat membantu sekali dalam menyokong hobi kami ini, travelling kemana aja kaki mau melangkah, terutama ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
Sampai di Phuket international airport, kejutan pertama saya temui disini. Sebelum menunggu bagasi, saya ke toilet dulu. Baru menurunkan retsleting, eh pegawai cleaning servicenya masuk, satu cowok satu cewek. Mereka asik berdiskusi berdua mengenai urinoir (tempat pipis) yang mampet. Bagaimana perbaikannya. Mencatat ini itu, mondar mandir di ruang toilet melihat semua urinoir satu persatu. Lha, iki piye...?! Mereka cuek aja betul-betul gak mempedulikan kita. Sebagian yang masuk toilet juga cuek aja tembak segera dari pada ditahan-tahan. Ada yang sambil melihat ke petugas cewek, ada yang sebodo amat, hehe...
Suasana bandara Phuket juga gak jauh beda dengan bandara di Ngurah Rai, Bali, kecil dan sederhana. Dari airport, kita harus melanjutkan perjalanan lagi menuju lokasi pantainya yang berjarak 41 km (ke Patong beach). Kalau ke Karon atau Kata beach, tambah kira-kira 10~15 km lagi. Lama perjalanan kira-kira 1 jam. Begitu keluar dari airport, calo-calo sudah menawarkan jasa transfer ke hotel tujuan. Saya sudah googling sebelumnya, jadi yang seperti itu kami skip aja. Dari pintu keluar, belok kekanan, ada jasa transport resmi dengan mini bus 150 Baht perorangnya, juga ada taksi meter seperti yang kami tumpangi. Untuk naik taksi meter, maksimum penumpang yang diperbolehkan adalah 3 orang. Kalau lebih 3 orang juga boleh aja, semuatnya, tapi tidak pakai meter/argo. Harga berdasarkan penawaran dari mereka. Kemarin itu kami kena charge 600 Baht ke Kata beach untuk 5 orang (kami ketemu 1 orang kawan yang sama-sama berlibur kesana), 3 dewasa dan 2 anak-anak. Menurut saya, rate transfer airport ke Patong beach sepertinya sudah standar dipatok 150 Baht per orangnya. Jadi kemarin itu 2 anak-anak mungkin dihitung 1 dewasa, 4 dewasa berarti 600 Baht. Cuma added valuenya kalau naik taksi meter ya gak lama menunggu dan gak lama diperjalanan. Mini bus bisa diisi 10 orang dewasa, jadi menunggu dan mengatur sampai penuh dulu, kemudian mengantar ke tujuannya masing-masing satu persatu. Kalau kebetulan tujuan kita adalah yang terjauh, maka kita ikut putar-putar dulu menurunkan penumpang mini bus tersebut dari yang terdekat sampai akhirnya ke tujuan kita, persis seperti jemputan anak sekolah. Juga kalau naik minibus, tujuan ke Karon atau Kata beach dicharge lebih mahal, 180 Baht. Bandingkan dengan kami naik taksi meter, 600 Baht, ber-5 ke Kata beach yang nyaris terujung dari deretan pantai-pantai di Phuket. Kelebihannya lagi, kalau naik taksi meter kita bisa ngobrol-ngobrol cari tahu kondisi Phuket terkini dengan supirnya. Kalau naik mini bus kan susah, kecuali kita duduk didepan. Saya aja lumayan banyak dapat informasi dari pak supir taksi seputar cuaca terkini disana, apa sering hujan?, ramai apa enggak?, juga berapa harga durian sekarang? (mereka ngerti kok kalau dibilang "durian"), pantai mana yang menurut dia paling bagus (menurut dia Kata beach), sampai ke informasi politik segala macam; PM Abhisit idola gak di Phuket?, mengenai ulang tahun ratu (kebetulan 12 Agustus adalah ultah ratu Thailand, jadi banyak fotonya dimana-mana), seputar keluarga kerajaan, penduduk Phuket, apa bahasa Thai.nya terima kasih? (Khap Kun Khah utk cewek, dan Khap Kun Khap diucapkan oleh cowok). Juga informasi mengenai harga tanah disana, hehe…
Oya, gak terlalu jauh keluar dari airport, taksi berhenti sebentar di Taxi office katanya, gak tahunya itu berhenti di agen travel yang menawarkan jasa trip wisata ataupun hotel disana. Saya memang sudah tahu mengenai hal ini, kalau naik mini bus konon juga akan demikian adanya. Jadi, biar gak terlalu lama bilang aja kalau kita sudah booking hotel, dan untuk penawaran paket perjalanannya akan kita pikirkan dan hubungi lagi nanti sambil minta aja kartu nama beserta best price yang bisa diberikan. Beres, gak lama, taksi jalan lagi.

Tadinya kami berencana untuk cari penginapan di sekitar Karon beach yang menurut reviewnya lebih cocok untuk wisatawan keluarga. Sebelumnya, saya sudah email beberapa guesthouse di Patong, Karon, Kata, ataupun Kata Noi, tanya-tanya berapa best price yang bisa mereka berikan? Seperti nge-bid aja, karena saya tahu kami datang di waktu low season, jadi bargaining power kita lebih baik. Namun belakangan, saya putuskan go show saja, tanpa ada satupun penginapan yang kami booking dari Jakarta. Langsung datang aja, cari disana, kan lagi low season, pasti hotel kosong karena lagi sepi..Tapi teman bareng tadi mengajak kami untuk ke Kata saja, coba lihat dulu hotel yang sudah dibookingnya di Sugar Palm Hotel. Ya sudah, kami ngikut aja. Ternyata ratenya 1.200 Baht, itupun sudah diskon dari normalnya 1.600 Baht permalamnya, memang hotelnya sendiri sepertinya sekelas 4 star. Ah, buat kami no value mengeluarkan dana segitu, lebih baik digunakan untuk keperluan yang lain, lagi pula itu baru hari pertama kami disana dari rencana 6 hari 5 malam, belum tahu situasinya, jadi kami cuma titip tas sebentar dan cari guesthouse aja. Eh, gak jauh dari Sugar Palm, ada guesthouse yang cukup lumayan, namanya T-guesthouse, ratenya 600 Baht setelah ditawar dari pembukaan 800 Baht, tanpa breakfast. Didalamnya ada king size bed, sofa dan mejanya, mini freezer, AC, TV, bath room shower yang luas, dan ada balcony.nya. Kalau dirupiahkan kira-kira 175 rb, cukup murah menurut saya dengan fasilitasnya yang ada, juga lebih dekat ke pantai, kira-kira 5 menit jalan kaki. Didekat T-guesthouse juga ada restoran yang relatif murah dibandingkan yang lainnya didekat pantai. Tom Yam disini 60 Baht, atau sekitar Rp 17.500,-.
T-guesthouse sendiri sepertinya cuma punya sekitar 10 kamar saja, ada juga kamar yang termurah ditawarkan 500 Baht, tetapi lebih kecil. Pengelolanya Ms. Jenny, cukup ramah dan sabar meladeni berbagai pertanyaan kami yang bertubi-tubi saat tawar menawar kamar guesthouse dan juga jasa trip ke Phi Phi island (Ms. Jenny juga menjaga stand kecil jasa trip wisata ke Phi Phi island dsb). Over all, tempat ini menurut saya cukup recommended untuk penginapan budget di sekitar Kata beach. Patokannya pas simpang masuk ke Sugar Palm hotel di grand hillside, jangan masuk ke arah Sugar Palm, tapi terus aja jalan ke arah 7-11 (Seven Eleven), persis setelah seven eleven, belok kiri. Disudut kiri pas belokan gang itu ada stand jasa travel yang ditongkrongi si Jenny. Guesthousenya sendiri masuk ke gang itu sekitar 25 meter saja.
2 Hari pertama di Phuket, cuaca selalu mendung dan turun hujan. Bahkan waktu check out dari Kata mau menuju ke Patong, hujan turun dengan derasnya (terpaksa kami order taksi ke si Jenny, 400 Baht sampai Patong. Taksinya yang datang Toyota Avanza. Kalau naik tuk tuk pasti lebih murah lagi, tapi hujan turun deras sekali, gak bisa panggil tuk tuk!).

Walau begitu, kami puas juga nongkrong di Kata beach, dan sempat juga jalan kaki PP ke Kata Noi beach yang tidak terlalu jauh, kira-kira 10~15 menit jalan mendaki dan menuruni bukit. Kata Noi, pantainya lebih eksklusif karena dikuasai oleh Kata Thani Hotel yang bangunannya berdiri hampir sepanjang pantai. Tapi kita tetap bisa masuk kepantainya. Ada jalan potong berupa tangga yang curam lumayan tinggi turun menuju pantai. Letaknya di sebelah kanan, setelah berjalan kaki menyusuri jalan raya sampai kebahu bukit kemudian jalan akan menurun dan menikung, nah dibahu bukit sebelah kanan itulah tangga curam itu letaknya. Disitu cuma ada tanda panah kecil dengan tulisan “to the beach”. Lumayan dari pada jalan kaki memutar lagi. Pantai Kata Noi lebih sepi. Bentuknya kira-kira hampir sama seperti Kata, cuma pantai Kata sedikit lebih panjang, dan tentunya jauh lebih ramai.

Kamar di T-guesthouse.

Lukas di Kata Noi beach.




Setelah 1 malam di Kata, kami pindah ke Patong beach. Akhirnya kawan seperjalanan kami itu menawarkan voucher gratis menginap di Ibis Hotel Patong, walaupun awalnya kami menolak karena sebenarnya bukan style kami bepergian menginap di star hotel, bukan berarti gak mampu ya, hehe…
Rate Ibis Patong kemaren 1.288 Baht, itu sudah diskon dari rate normalnya yang 1.900 Baht per malam. Ya sudah, tak kuasa menolak, kami akhirnya bermalam di Ibis, sebelum esoknya menuju Phi Phi island.
Hari ke-2 disana masih tetap mendung dan hujan. Memang resikonya datang ke Phuket di low season (May~October) ya musimnya hujan! Tapi hujan gak turun sepanjang hari. Saat hujan reda, kami jalan sepanjang jalan Patong beach dari Bangla road sampai ke hotel, setelah sebelumnya naik tuk tuk dari hotel ke Bangla road, 100 Baht. Lumayan lihat-lihat suasana Legian, eh Patong!
Sorenya jalan lagi lewat belakang, sepanjang jalan Rat U-Thit, cari biro perjalanan untuk ke Phi Phi island dan Maya Bay. Setelah tawar menawar, dapat best price untuk kawan saya itu one day tour ke Maya Bay dengan speed boat, 1.100 Baht, sudah termasuk jemput dan antar ke hotel, tour ke beberapa pulau, snorkeling dengan peralatannya, dan makan siang. Sepertinya itu sudah harga standar di low season. Kalau di high season, harganya bisa 2 x lipat! Dijemput jam 7 pagi, pulangnya sekitar jam 6 sore sampai hotel.
Saya sendiri dapat jasa transfer dari hotel ke Phi Phi island naik big boat (kemudian akhirnya kami menginap 2 malam di Phi Phi island - biaya tidak termasuk hotel), dan a day after 2morrownya kembali lagi dan diantar ke Patong beach sesuai lokasi hotel permintaan kita. Kami dicharge 1.500 Baht untuk 4 orang, 2 dewasa 2 anak-anak. Cukup murah dari pada jalan sendiri. Setahu saya harga tiket big boat ke Phi Phi island 500 Baht per orang dewasa pulang pergi, gak tahu untuk anak-anak. Belum lagi ongkos dari hotel di Patong ke Rasada Pier (dermaga) di Phuket town yang ditempuh dengan waktu antara ± 20 menit.
Kalau jalan sendiri pasti biayanya lebih besar. Penjaga travel tempat kami beli itu, si Nen, bilang kalau pergi sendiri, biayanya akan berkisar 2.900 Baht untuk kami ber-4! Tapi betul, saran saya kalau mau trip ke Phi Phi island atau Maya Bay, lebih baik pakai jasa travel, lebih murah, tawar aja sampai mentok gak usah pakai malu, bilang aja kita orang Indonesia kere bukan western people, gak punya duit, hehe…Kmaren itu si Nen buka harga ke kami 2.700 Baht yang langsung saya tawar 900 Baht untuk ber-4. Dealnya ya 1.500 Baht. Bargaining memang salah satu hobi saya, bukan emaknya anak-anak lho…Enaknya pakai jasa travel juga kita tinggal duduk tenang, sudah sampai tinggal turun gak pakai bingung.

Malam harinya kami dinner di restoran sea food yang banyak berjejer di sepanjang jalan Rat U-Thit. Tawar aja sampai mentok, gak usah ragu! Kami berhenti di satu restoran menawar udang yang besar-besar dan ikan, harga gak cocok, lewatkan saja, ngeloyor ke restoran disebelahnya. Begitu sampai 2 atau 3 restoran terlewati. Restoran disebelahnya lagi pasti sudah memperhatikan kita yang sangat alot menawar harga. Jadi dia gak buka harga terlalu tinggi lagi, tapi tetap aja kami tawar, hehe…Akhirnya dapat di restoran Andaman seafood, 5 ekor udang besar total berat 7 ons dimasak 2 jenis, 1 ikan ukuran sedang dimasak steam, dan 1 cumi-cumi digoreng tepung, totalnya kena 650 Baht. Ditambah menu tambahan nasi plus telur dadar buat anak-anak beserta minuman, juga buah-buahan untuk penutupnya, total jadi 800 Baht, sekitar Rp 240 rb untuk makan malam seafood ber-5. Cukup murah, mungkin lebih murah dibandingkan seafood pinggir jalan di Jakarta dengan menu yang sama, saya kira. Masakannya pun enak, bumbu-bumbunya banyak, dan waiternya perhatian sekali. Saat kita menikmati hidangan, beberapa kali ditanya apa ada yang kurang? Beberapa variasi bumbu kemudian dikeluarkan untuk coba-coba, dan ditanya mengenai kepuasan kami makan disitu. CS.nya (customer satisfaction oriented) bolehlah…oya, tukang masaknya disitu ada juga cowok yang ada teteknya lho…pakai bra dia!
Selesai makan malam, kami ke Bangla road lihat-lihat suasana disitu dengan gemerlap pub dan bar juga agogo dancernya yang lagi show gratis meliuk-liuk di tiang. Dari sana naik tuk tuk 100 Baht kembali ke hotel Ibis.

Hari ketiga, pagi-pagi hujan masih turun juga, kira-kira jam 8:30 baru reda. Kami isi waktu jalan santai ke pantai sebelum check out jam 12 siang untuk dijemput sama orang travel menuju Phi Phi island. Syukurlah, sejak hujan pagi-pagi dihari ke-3 itu, sisa hari selanjutnya, kami gak ketemu hujan lagi. Hari-hari cas terang selama di Phi Phi island dan di pantai Patong sehari sebelum pulang.

Pulang dari Phi Phi island, saya minta diantar ke Soi (jalan) Dr. Wattana, di Patong. Timmy dan emaknya nunggu aja dipantai, saya dan si Lukas cari penginapan. Di jalan Wattana itu ada beberapa guesthouse, dan rata-rata tidak full terisi. Saya tertarik di Phuttasa guesthouse yang tampilannya paling cozy disana. Penjaganya, seorang wanita jadi-jadian berpakaian seksi dengan dada montok sekali. Tapi dia cukup ramah, bener!. Dua kali; saya pertama dan kedua kali saya dan emaknya anak-anak lihat kamar guesthousenya. Walaupun gak jadi, dia tetap ramah. Kamarnya pun bagus, cozy, dan murah, 500 Baht untuk kami ber-4 tanpa breakfast.
Saya sebetulnya lebih suka Phuttasa guesthouse ini, tapi emaknya anak-anak lebih memilih Narry’s hotel, dengan harga yang sama dapat yang family room dengan kamar 2x lebih luas dari Phuttasa, 2 bed; 1 king size bed dan 1 single bed, yang kalau disatukan tempat tidurnya jadi luas banget. Ada mini freezer, TV, meja kursi tamu, dan AC 2 PK sepertinya karena gede banget. Tapi nuansanya jauh lebih cozy yang di Phuttasa. Ya sudah, sama aja lah…karena cuma dipakai 1 malam aja. Besok paginya, subuh-subuh kami harus segera ke airport karena flight pulang ke Jakarta pukul 7:55 pagi. Jadi di Narry’s hotel itu kami tawar-menawar paket kamar 1 malam dan sekaligus transfer ke airport untuk besok subuhnya. Dapat harga total 1.050 Baht, cukup murah! Biasanya rate normal walaupun low season untuk transfer ke airport dari Patong adalah 600~700 Baht, apalagi ini pagi-pagi. Jam 5 subuh, kami sudah meluncur ke airport diantar dengan Honda CRV model lama. Narry’s hotel adalah hotel India, pemiliknya keturunan India. Hampir semua pegawainya orang keturunan India, kecuali resepsionisnya.
Overall, hotel ini lumayan sih, bersih, murah, besar; banyak kamarnya, dan dekat ke pantai, hanya 100 meter aja jalan kaki. Sebetulnya pintu depannya ada di Soi Sea Beach yang satu ruas jalan disebelahnya Soi Dr. Wattana. Pintu belakangnya yang berada di Soi Dr.Wattana. Keluar dari pintu depan langsung disuguhi sederetan penjual souvenir Phuket mulai dari pakaian, pernak-pernik dan asesoris, sampai ornamen-ornamen hiasan ruangan. Oya, disebelah Narry’s hotel, ada connecting door ke Narry’s Tailor. Butik dan penjahit setelan jas buat pria dan wanita. Sepertinya, harganya cukup reasonable, dan bisa jadi dalam waktu 24 jam!

Begitulah, 1 hari sebelum pulang itu, kami eksplor kembali Patong beach, juga mampir ke Jungceylon, mall yang ada Carrefournya, sampai malamnya kami kembali ke Bangla road lihat-lihat keramaian nightlife disana yang dipenuhi aneka pub & bar dengan show agogo dance.nya. Anak-anak matanya melek lagi walaupun sudah pegel jalan kaki terus. Sampai di Narry’s hotel, sudah sekitar pukul 11:15 malam, masih ada penjual souvenir yang sedang beres-beres tokonya mau tutup. Kami membeli beberapa souvenir disitu dengan harga “lucky price” katanya, yang memang jauh lebih murah dari toko-toko yang sudah kami masuki sebelumnya di sepanjang jalan Rat U-Thit. Toko-toko souvenir di depan Narry’s hotel, kebanyakan penjualnya adalah keturunan India. Kami cuma tanya harga barang, tapi dia sendiri yang langsung kasih best “lucky price” setiap barang yang kami tunjuk malam itu. Ya, itu untuk wishing lucknya hari besok, karena kami pelanggan terakhir pada saat dia mau tutup toko. Semoga demikian lah…



Kolam renang Ibis Patong.
Malam-malam berenang disini sama si Lukas.





Sunset di Patong beach.


Long live the queen.
12 Agustus, ulang tahun ratu Thailand.


Anak-anak minta makan di Mc D, karena tadi kelihatan di jalan menuju hotel.
1 cheese burger large + coke large 138 Baht.
1 chicken large (sudah termasuk kentang) + coke large 163 Baht.
Harga kira-kira sama dengan Mc D di Indonesia.
Tapi gak worth it lah makan di Mc D, mendingan makan seafood!

Ini Mami Lukas lagi naik parasailing, 1.000 Baht.
Lebih mahal dari di Bali. Tapi ya mumpung dia mau, itu pertama kali dia naik parasut.
Sampai dibawah, bocah yang tadi bantuin masang "jaket terbangnya" minta tips buat si 'monkey' katanya. Mintanya 100 Baht, what...?!! Di kasi deh 40 Baht. Mami Lukas lagi hepi baru landing habis naik parasut. Saya bilang kasih aja 2.000 perak, eh bener, ada lagi yang lain nyamperin minta souvenir duit Indonesia. Di kasih goceng, 5 rb perak. Matanya melotot, dikasih tunjuk ke semua teman-temannya disitu. Sebelumnya dia sudah kasih tahu kalau dia senang mengoleksi uang dari berbagai negara pemberian turis yang naik parasailing, dan dia menunjukkan sebagian koleksinya yang ada di dalam tas kecil. Ada 1 Rupee, 1 US$, 1 SGD, 1 Euro, 1 Pound, 10 Ringgit, dsb. Lha ini dikasi 5.000 sama orang Indonesia yang baek ini pikirnya, hepi bener dia, hehe... Sepertinya cuma emaknya si Lukas aja orang Indonesia yang naik parasailing itu selama ini.
Hidup Rupiah...!!



Kalau naik parasailing, ada 'monkey'nya yang mengarahkan dan menjaga kita selama terbang dan landing kembali. Jadi kita betul-betul cuma menggelantung saja menikmati angin laut dan pemandangan dari atas. Monkey.nya itu sama sekali tidak diikat ke tali parasut lho, tapi dia cuma mengandalkan kekuatan tangannya saja. Ada sekali saya lihat si monkey terlepas sebelum parasutnya naik. Jadi cuma wisatawan itu aja yang tertarik terbang dengan parasutnya. Eh, kemudian disusulin ke tengah laut dengan jetski. Jadi parasut diturunin di tengah laut, lalu monkey.nya yang menyusul dengan jetski tadi naik ke parasut dan terbang lagi ditarik boat sampai landing kembali. Kalau di Bali, kita harus terbang sendiri dan dikomandoi dari bawah sewaktu mau landing; tarik kanan...tarik kiri...



Agogo dancer show gratis dipinggir jalan Bangla road.
Bangla road, setiap malam selalu ditutup untuk memberikan kebebasan kepada wisatawan menikmati suasana kehidupan malam di Phuket.

Mineral water dengan kemasan seperti ini yang termurah disana. Rasanya fine-fine aja, gak berbau atau yang sejenisnya. Di Phi Phi island saja saya lihat harganya ada yang 35 Baht untuk 6 botol seperti ini (950 ml). Kalau merk Nestle 1 botol 600 ml.nya berkisar 7 ~ 10 Baht. Direstoran, yang standar (merk Nestle atau sejenisnya) bisa dimark up jadi 20~30 Baht. So, kalau makan di restoran, bawa aja mineral water yang masih terisi penuh. Biasa kok disana...oya, mineral water bahasa Thai.nya "Namplau", dikasih tau si Lola, cewek Perancis ketemu di view point di Phi Phi island.

Ini makanan Thai, gak tahu apa namanya.
Beli di Carrefour Jungceylon, 45 Baht satu kemasan, ada 10 nangka ketan.


Mall Jungceylon.
Masuk ke dalam mall, petugas security.nya hormat tegap sempurna (seperti di upacara bendera) ke pengunjung yang masuk. Saran saya, beli oleh-oleh sambal Thailand di Carrefour sini. Ada beberapa macam sambal. Kami cuma beli 2 jenis masing-masing 100 gram (yang ada udangnya dan satu lagi yang mirip dengan itu), sampai di Jakarta menyesal bukan main cuma beli 2 karena sambalnya maknyuuus, beary good sekali! Per 100 gram, 27 Baht (sekitar Rp 8rb).

Catatan: huruf yang tercetak biru adalah link, klik disitu untuk informasi lebih lanjut.