Monday, October 12, 2009

Jak-Japan Matsuri 2009

Tanggal 11 Oktober 2009 ada penutupan acara Jak-Japan Matsuri 2009 di Monas, Jakarta. Jam 3 sore siap-siap gak mandi langsung jalan, hehe...
Sampai di Monas sudah ramai, bayar tiket masuk ke acara Matsuri (perayaan/festival) Rp 20.000,- per orang, dapat kipas plastik, lumayan...
Didalam sudah dimulai acara tari-tarian dari serangkaian acara penutupan matsuri hari itu, antara lain; genderang Jepang Ooedo Sukeroku Taiko, pertunjukan cosplay (harajuku-harajukuan), pembuatan mochi, arak-arakan Mikoshi (a portable Shinto shrine), tarian Yosakoi Soran, tarian Okinawa Eisa, band Galaxy, Singout Asia, dan tarian Jepang Bon-odori. Sayang yang disebutkan terakhir ini gak kita tonton karena acaranya terlalu malam, sekitar pk. 21:30-an.
Ada juga stand-stand yang jual makanan & minuman khas Jepang, juga cendera mata asli dari Jepang, rame lah...
Seperti biasa, sambil jalan-jalan papilukas langsung aksi hunting foto...jepret sana-jepret sini...
Dari Monas, masih mampir lagi ke Mal Taman Anggrek, cari makan malem; Gokana Teppan, masakan Jepang, hehe...
Sampai rumah, duh pegel...!!



Mau berangkat ke Monas, eh ada toge goreng, makan dulu aa..h...


Umbul-umbul Jak-Japan Matsuri 2009





Tari-tarian Okinawa Eisa

















Arak-arakan Mikoshi (a portable Shinto shrine)


Lampion dan bendera dua negara



Diantara penonton...


Foto sama robot...


Ultraman Gaia



Lampion...


Tugu Monas

Group Singout Asia



Lampion lagi...


Panggung


Pasta de Waraku, restoran Jepang di Mal Taman Anggrek

Sunday, October 11, 2009

Dokter Lo Siaw Ging

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.
Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998
Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.

”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan. ”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.

Anugerah
Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.

”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”



DATA DIRI
• Nama: Lo Siaw Ging
• Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934
• Istri: Maria Gan May Kwee (62)
• Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962
- S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995
• Profesi: -Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo)
- Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo


- KOMPAS, Sonya Hellen Sinombor -

Seperti artikel aslinya:

Saturday, October 10, 2009

Visi Seekor Siput

Di suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri. Beberapa ekor burung di sekitar pohon itu melihat sang siput dengan pandangan aneh.
"Hei, siput tolol," salah seekor dari mereka mencibir, "pikirmu kemana kamu akan pergi?".
"Mengapa kamu memanjat pohon itu?" berkata yang lain, "Di atas sana tidak ada buah ceri."
"Pada saat saya tiba di atas," kata si siput, "Pohon cerinya akan berbuah..."

Renungan: Hanya mereka yang berpandangan jauhlah yang melihat keabadian di balik kekosongan. Sedangkan mereka yang awam melihat kekosongan sebagai kesia-siaan.

Dari: Pocket of Sower's Seeds - Brian Cavanaugh

Saturday, October 03, 2009

Paragliding di Puncak

Iseng-iseng jalan ke Puncak cari udara sejuk dan makan siang, eh lihat paraglider yang sedang berputar-putar diangkasa dengan anggunnya. Terbang pelan, santai, kelihatannya asyik sekali..!
Turun setelah makan, mampir lihat-lihat ke lokasi peluncurannya ah...
Letaknya kalo dari Jakarta menuju Puncak Pass, melewati masjid besar dikebun teh, tidak berapa jauh belok kanan sebelum restoran Rindu Alam Puncak. Ada plang petunjuknya kok, jalan masuk ke lokasi Paragliding & Gantole (plangnya kecil, harus agak teliti lihatnya!). Jalan masuknya kecil dan berbatu-batu. Untuk masuk ke lokasi dipungut retribusi; mobil Rp 2000, dan per orang Rp 2000.
Sampai di lokasi peluncuran paragliding, lihat-lihat orang yang meluncur deh...wow asyik bener...! Sepertinya (buat saya) gak ada rasa takut meluncur dengan paragliding disitu. Adventure yang patut dicoba dan sepertinya asyik sekali, terbang berputar-putar dilangit sambil menikmati udara pegunungan yang sejuk dan pemandangan alam yang aduhai saat kita terbang, wah...
Saya lebih dagdigdug meluncur di roller coaster taman ria senayan dulu, atau melihat bungee jumping di Bali, ih ngerii...
Tapi toh saya gak meluncur juga dengan paragliding ini, hehe...maybe next occasion lah...
Tanya-tanya biayanya, dapat informasi begini; untuk pemula harus terbang tandem dengan pilotnya. Biayanya Rp 300rb sekali terbang, berat badan masksimum 85 kg. Sekali terbang kira-kira 10 menit sampai mendarat kembali dibawah. Kalau sudah biasa terbang, boleh bawa parasut sendiri, atau sewa disitu, sayang saya gak tanya lebih lanjut mengenai biayanya kalo terbang single. Cuma syaratnya berat badan harus minimal 45 kg ! Ada juga kursus singkat paragliding, bisa terbang sampai 40 kali, hitungannya bisa jauh lebih murah dari biaya normal. Silahkan googling aja untuk informasinya... :-)
Kesana jadinya cuma foto-foto aja deh sambil mengamati yang terbang bebas dengan paragliding (paralayang) dari Gunung Mas, Puncak. Sayang sekali saya gak bawa Nikon DSLR saya, dengan kamera pocket seperti dibawah inilah kira-kira hasilnya...

Persiapan

Tempat peluncuran


Bersiap...

Ya...a...

Terbang deh...
















Tuesday, September 29, 2009

Angka Tuhan

Angka Tuhan? Mungkin Anda bertanya-tanya tentang “Angka Tuhan”, apa sih maksudnya?
Sebenarnya itu hanya istilah saja untuk menyebut suatu “angka misteri” (baca:sangat menakjubkan) yang banyak ditemukan pada kejadian-kejadian di alam ini.
Angka ini sejatinya telah banyak diteliti oleh peneliti luar negeri, mereka umumnya menyebut angka ini dengan golden ratio atau golden number.

Nah, mungkin sebagian dari Anda sudah tidak asing lagi dengan 2 istilah yang terakhir. Ya, bagi Anda yang sudah membaca mengenai hal ini pasti Anda mengetahui bahwa angka ini ada kaitannya dengan deret Fibonacci atau Fibonacci sequence.

Tahukah Anda mengapa para peneliti menyebutnya golden number? Karena banyak sekali kejadian-kejadian di alam ini yang berkaitan dengan angka tersebut. Bahkan, sebelum Obama terpilih menjadi presiden, ada yang meramalkan bahwa Obama akan menjadi presiden Amerika ke-44 dengan dasar dari analisa deret Fibonacci. Wow? Benarkah?

Sekilas Mengenai Deret Fibonacci
Bagi Anda yang sudah lulus SMU pasti pernah mendengar bilangan Fibonacci di pelajaran Matematika. Apa sih angka fibonacci? Angka fibonacci adalah urutan angka (deret angka) yang disusun oleh Leoanardo Fibonacci pada tahun 1175 - 1245 M. Bilangan fibonacci dikenal juga dengan sebutan
the golden number of human life.
Penemuan itu berawal ketika fibonacci melakukan penelitian terhadap perkembangbiakan populasi kelinci. Pada saat itu Fibonacci menemukan pola angka yang cukup menarik dari perkembangbiakan populasi kelinci itu.

Percaya atau tidak, menurut kepercayaan para ilmuwan di zaman dahulu kala, angka Fibonacci adalah salah satu bukti adanya Tuhan. Wah kok bisa?

Apa sih sebenarnya bilangan Fibonacci itu?
Bilangan Fibonacci adalah urutan angka yang diperoleh dari penjumlahan dua angka didepannya, misalnya seperti ini :

0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, dst

Penjelasan :
Misal Angka 5, diperoleh dari penjumlahan 2 angka didepannya yaitu 2+3.

Mungkin Anda kemudian bertanya, lalu apa kaitannya angka-angka itu dengan bukti adanya Tuhan?
Bilangan Fibonacci ini menunjukkan beberapa fakta aneh, tetapi sebelumnya kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai angka
Phi? Apa itu angka Phi?
Pasti Anda tahu, angka Phi adalah angka 1.618. Apa hubungannya dengan fibonacci? Phi merupakan hasil pembagian angka dalam deret Fibonacci dengan angka didepannya.

3:2, 34:21, 89:55

Semakin besar angka Fibonacci yang dilibatkan dalam pembagian, hasilnya akan semakin mendekati Phi.

Fakta-Fakta “Angka Tuhan” Bilangan Fibonacci
Seperti yang sekilas disebut sebelumnya, angka ini merupakan bukti yang menunjukkan adanya Tuhan dan dianggap keramat oleh ilmuwan zaman dulu.
Hampir semua ciptaan Tuhan dianggap mempunyai angka Fibonacci dalam hidupnya, baik itu tumbuhan, hewan, maupun manusia.

Berikut beberapa fakta yang ditemukan di alam ini.

1. Jumlah Daun pada Bunga (petals)


Mungkin sebagian besar dari anda tidak terlalu memperhatikan jumlah daun pada sebuah bunga. Dan bila diamati, ternyata jumlah daun pada bunga itu menganut deret fibonacci. contohnya:

- jumlah daun bunga 3 : bunga lili, iris

- jumlah daun bunga 5 : buttercup (sejenis bunga mangkok)

- jumlah daun bunga 13 : ragwort, corn marigold, cineraria

- jumlah daun bunga 21 : aster, black-eyed susan, chicory

- jumlah daun bunga 34 : plantain, pyrethrum

- jumlah daun bunga 55,89 : michaelmas daisies, the asteraceae family



2. Pola Bunga

Dari titik tengah menuju ke lingkaran yang lebih luar, polanya mengikuti deret fibonacci.

3. Tubuh Manusia

- Tangan


Bila Anda ukur panjang jari tangan Anda, kemudian Anda bandingkan dengan panjang lekuk jari, maka akan ketemu 1.618.


- Ukuran Tubuh Manusia

- Coba bagi tinggi badan Anda dengan jarak pusar ke telapak kaki, maka hasilnya adalah 1.618.
- Bandingkan panjang dari pundak ke ujung jari dengan panjang siku ke ujung jari, maka hasilnya adalah 1.618.
- Bandingkan panjang dari pinggang ke kaki, dengan panjang lutut ke kaki, maka hasilnya adalah 1.618.
- Semua perbandingan ukuran tubuh manusia adalah 1.618. Benarkah? Silahkan membuktikannya.


Fakta-Fakta Lain
1. Jumlah lebah betina pasti lebih banyak dibandingkan lebah jantan bukan? Kalau dibandingkan antara jumlah lebah betina dengan jumlah lebah jantan, maka hasilnya adalah 1.618.
2. Kerang Laut
Kerang laut memiliki cangkang keras yang berbentu spiral. Kalau dibandingkan antara panjang garis spiral paling depan dengan berikutnya, maka hasilnya adalah 1.618.




3. Daun, tangkai, serangga, dan semua yang berbentuk spiral, bila dibandingkan antara panjang spiral terakhir dengan sebelumnya, maka hasilnya akan selalu 1.618.

4. Khabarnya Stradivarius, pencipta bola, juga menggunakan angka ini dalam peletakan lubang di bola.

5. Parthenon


Bangunan yang diarsiteki oleh Phidias ini juga menggunakan perbandingan yang berdasarkan angka Phi (1.618)

Nah, demikianlah sedikit ulasan mengenai angka Fibonacci atau Angka Tuhan yang banyak ditemui pada kejadian di alam.
Apakah hal ini kebetulan?
Atau memang ini sebenarnya adalah segala sesuatu yang telah dirancang oleh-Nya untuk menunjukkan kebesaran-Nya?

Catatan:
Bedakan antara Pi: Π π (3.14) dengan Phi: Φ φ (1.618)

-dari berbagai sumber-