Tuesday, September 15, 2009

Jakarta Today

Jakarta (also known as DKI Jakarta) is the capital and largest city of Indonesia. It also has a greater population than any other city in Southeast Asia. It was formerly known as Sunda Kelapa (397–1527), Jayakarta (1527–1619), Batavia(1619–1942), and Djakarta (1942–1972). Located on the northwest coast of Java, it has an area of 661.52 square kilometres (255.41 sq mi) and a population of 8,489,910 (Jan 2008). Jakarta is the country's economic, cultural and political center. Jakarta is the twelfth-largest city in the world; the metropolitan area, called Jabodetabek, is the sixth-largest in the world.


-Wikipedia-



Whether you love it or hate it, there is no escaping Jakarta, Indonesia’s overweight capital. This ‘Big Durian’ is filled with all the good and bad of Indonesian life.
At first glance, this hot, smoggy city, which sprawls for miles over a featureless plain, feels like nothing more than a waiting lounge for the millions queuing up to make their fortune.
Jakarta’s infamous macet (stuck) chokes its freeways, town planning is anathema and all attempts to forge a central focal point for the city have stuttered and ultimately failed. The first – or only – thought on most travellers’ minds is how quickly the city and its polluted streets can be left behind.
Beneath the veneer of glass fascias, concrete slabs and shabby slums, however, this is a city of surprises and a city of many faces. From the steamy, richly scented streets of Chinatown to the city’s thumping, decadent nightlife, Jakarta is a Pandora’s box, filled with unexpected gems. Here it’s possible to rub shoulders with Indonesia’s future leaders, artists, thinkers, movers and shakers, and to see first hand the deep-seated desire so many Indonesians have to rise above the poverty they were born into.
Jakarta certainly isn’t a primary tourist destination, but parts of the old city (Kota) offer an interesting insight into the capital’s long history, and there are a handful of good museums scattered about. But if you want to get under the skin of Indonesia, a visit to this mammoth city is an absolute must.

-Lonely Planet-


Enjoy Jakarta..??

Casement.

Settee.

Afternoon sun.

Old Portuguese cannon - Meriam si Jagur.
That written; "Ex Me Ipsa Renata Sum"
(Outside of me I was born).

Afterglow.

Hermes.

Old architectural.

Vertical.

Taxi.

Panhandler.

Busway corridor.

Short message check.

Trapped.


Jakarta traffics today.

# All images taken by papilukas.

Friday, September 11, 2009

Kisah Seorang Opa

Suatu hari seorang teman saya pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha bersama dengan teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-orang yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong. Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan tentang kisah hidupnya.
Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang. Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus. Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi.
Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga. Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami.
Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar.
Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya. Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon.
Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak efisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.
Tapi apa yang saya dapatkan? Setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada dirumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi.
Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan. Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita didalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka.
Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka? Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua.
Tapi apa yang saya dapatkan? Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.
Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.
Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat-sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.
Sejak itu teman saya selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara dengan sang Opa. Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta anak-anaknya untuk berkunjung.
Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita. Bukankah pada suatu hari nanti-pun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian?

Sumber dari sebuah buku tua. Amanda Steven.

Sunday, September 06, 2009

Pelabuhan Sunda Kelapa

Hari Minggu cuaca cerah, enaknya jalan-jalan sore hunting foto seputaran Jakarta nih...
Bawa geng ijo, kemon...!
Keluar dari rumah jam 4 sore, sinar matahari miring dicuaca yang cerah...hmm, muantaap buat jepret sana-jepret sini...tujuannya langsung to the point ke pelabuhan Sunda Kelapa di daerah kota tua Jakarta.
Si Lukas dan Timmy baru kali ini dibawa ke pelabuhan perahu kayu ini lho...ternyata perahunya besar-besar juga ya...
Perahu-perahu disini walaupun masih terbuat dari kayu, tapi berlayarnya ke arah Indonesia bagian timur, Sulawesi, Borneo, Ambon, dan mungkin juga ke Papua. Hebat..!
Baru beberapa shot jepret sana-jepret sini, ada tukang perahu kecil nawarin naik perahunya sampai ujung pelabuhan trus balik lagi ke tempat semula.
Berapa bang? Ya, biasanya Rp 50rb satu orang...
Hohoho...gak lah!! Tawar aja pak..! Gak ah, gak berani nawarnya! Tawar aja, gak apa-apa kok. Gak ah... :-)
Ya udah, 30rb deh berdua...
(Kebetulan gw cuma sama si Lukas doang berdua...Mami sama si Timmy nongkrong di warung minum teh botol...).
20rb deh kalo mau..! (sambil jalan menjauh...)
Ya udah lah, ayo pak!
Eh, ntar dulu ya, saya panggil emaknya anak-anak dulu...
(Begitu kembali ketempat semula dengan geng ijo lengkap...)
Pak tadi kan 20rb cuma berdua, sekarang berempat, jadinya 40rb aja deh...
Ah enggak lah, gak jadi deh..! Sambil jalan menjauh lagi... :-)
Kalo mau saya tambah 5rb, jadi 25rb deh...! (apa bedanya cuma tambah 2 orang kuya-kuya begini, pikir gw!)
Ah, iyalah pak, jadi...! Kata tukang perahunya dengan dialek Bugis yang kental.
Jadi deh keliling pelabuhan Sunda Kelapa naik perahu...hehe...


Sekitar jam 5 sore, masih cerah...


Sederetan perahu tambat.


Naik perahu keliling pelabuhan.

Perahu yang tambat lagi...

Perahu ini baru tiba di Sunda Kelapa.


Dari perahu kecil, foto-foto perahu besar dari belakang.

Melewati lorong diantara perahu besar.



Deretan perahu kayu.



Kira-kira sebesar ini perahu yang kami naiki.

Sleepy on the boat

A man in silhoutte.

A Boat Silhoutte.

Buruh ngangkat barang ke perahu.

Timmy lihat ikan-ikan kecil didekat perahu besar.



Mirror.

Pelabuhan Sunda Kelapa.

Saturday, September 05, 2009

Home Photography










Wednesday, September 02, 2009

Investasi Dinar

-article by Alina-
Pasti sudah banyak pembaca blog yang mendengar tentang Investasi ‘Dinar’. Beberapa hari yang lalu saya ditanyai oleh seseorang mengenai prospek berinvestasi ‘Dinar’. Saya jadi teringat ada hal yang menarik dalam kata-kata ‘Dinar’ ini. Ketika ada orang yang bertanya kepada saya bagaimana prospek berinvestasi di ‘Dinar’, saya selalu tanyakan kembali ‘Dinar’ apakah yang dimaksud. Saya menemukan setidaknya ada 4 ‘Dinar’ yang berkaitan dengan ‘investasi’. Apa saja keempat ‘Dinar’ tersebut ?

1. Dinar Irak

Dinar Irak (DI) disebut-sebut sebagai investasi yang sangat menjanjikan dengan tingkat imbal hasil yang diharapkan terbilang wah. Sebelum perang, Dinar Irak merupakan mata uang terkuat di Timur Tengah pada saat itu. Nilai 1 DI setara dengan US$ 3.30 atau bisa dibilang nilai Dinar Irak lebih tinggi nilainya dari pada Dollar Amerika. Akibat jatuhnya sanksi PBB yang disusul invasi Amerika Serikat membuat Dinar Irak terjungkal ke titik terendah dalam sejarah Irak. Saat ini 1US$ setara dengan 1,170 DI atau 1 DI setara dengan US$ 0,00086.
Sebagian orang termakan akan berita ’seandainya’ nilai Dinar Irak kembali ke posisi sebelum perang. Hasil perhitungan saya, jika saat ini saya menukarkan 1 juta rupiah dengan Dinar Irak saya akan memperoleh Dinar Irak sebanyak 855 DI. Seandainya Dinar Irak kembali ke sebelum perang maka Dinar Irak saya tersebut akan menjadi 29 juta rupiah (855 DI x US$ 3.3 X Rp 10300). Pertanyaannya apakah bisa Dinar Irak kembali ke nilai tersebut? Perlu diketahui juga Dinar Irak yang ada saat ini merupakan mata uang baru New Dinar Irak yang diterbitkan mulai 2003.
Membeli Dinar Irak lebih tepat jika disebut berspekulasi, karena adanya ketidakjelasan di dalamnya dan imbal hasil yang ditawarkan juga terlalu tinggi melebihi nilai wajar.

2. Dinar Emas

Dinar Emas adalah mata uang yang dipergunakan di masa Rasulullah SAW. Uang Dinar berupa koin emas 4,25 gram (22 karat). Dinar Islam di cetak oleh Islamic Mint di seluruh dunia dan mengikuti standar international yang dibuat oleh WITO (World Islamic Trading Organization).
Di Indonesia, dinar emas di cetak oleh Antam melalui anak perusahaanya yaitu PP Logam Mulia Indonesia ( www.logammulia.com ). Untuk mendapatkan dinar ini, bisa didapatkan di tempat penjualan dan pembelian dinar yang disebut dengan wakala. Harga beli dan harga jual dinar sebagaimana harga emas, ditentukan oleh fluktuasi nilai emas dunia dalam satuan USD per troy ounce di mana 1 troy ounce itu sama dengan sebesar 31,1035 gram. Selain Dinar Emas ada juga Dirham, yaitu koin perak murni seberat 2.975 gram.
Berinvestasi di Dinar Emas bisa jadi alternatif selain berinvestasi di Emas batangan. Hanya saja untuk menjual kembali Dinar Emas sebaiknya jangan di toko emas biasa, karena nilainya akan turun di bawah harga pasar. Jika ingin menjual Dinar Emas lebih baik jual kembali ke agen tempat membeli Dinar Emas.

3. DINAR (Dana Reksa Indeks Syariah)

Dinar yang satu ini merupakan Reksa Dana Indeks yang dikeluarkan oleh PT Danareksa. Reksa Dana indeks ini berisi 30 saham yang ada di dalam Jakarta Islamic Index (JII). Dinar merupakan Reksa Dana indeks pertama di Indonesia. Saat ini selain Dinar ada lagi Kresna Indeks LQ-45 yang mengacu pada indeks LQ-45. Benjamin Graham menyarankan investor untuk lebih memilih Reksadana Indeks daripada Reksa Dana biasa dalam berinvestasi. Karena hanya sedikit sekali RD yang kinerjanya bisa melebihi kinerja Reksadana Indeks.

4. PT Dinar Sekuritas

Mungkin lebih tepatnya bukan berinvestasi Dinar tetapi berinvestasi melalui Dinar. PT Dinar Sekuritas merupakan salah satu broker aktif yang menjadi Anggota Bursa dan melayani transaksi saham di Indonesia. Saat ini ada 117 Anggota Bursa yang tercatat di BEI dan boleh melakukan transaksi efek (sumber : www.idx.co.id ). Tentunya melalui Dinar yang satu ini kita bisa memilih berbagai saham yang ada untuk berinvestasi. Ingat lho berinvestasi bukan berspekluasi.
Apakah ada pembaca blog yang menemukan ‘Dinar” yang lain? ‘Dinar’ manakah yang Anda pilih?