Sunday, August 08, 2010

Sepeda Onthel

Seminggu setelah jalan-jalan ke Jawa Tengah (baca postingan sebelumnya), saya balik lagi ke Jogja untuk ambil sepeda onthel lawas yang sudah dicarikan Mas Mendung (tukang becak di Jogja) dikampungnya di desa Sekoharjo-Pundong, Bantul.
Perginya naik bus Rosalia Indah dari terminal Rawamangun dengan tiket 130 rb sudah termasuk makan malam. Tiket kereta api, sekitar 3 hari sebelum keberangkatan katanya sudah habis, tinggal tiket berdiri yang antri langsung mulai 3 jam sebelum keberangkatannya. Wah, enggak deh...saya pilih naik bus aja. Masalahnya, kalau naik bus, berangkatnya sekitar pukul 16:30, sedangkan kereta Senja Utama berangkat pukul 20:00 malam. Jadi, supaya gak terlambat, terpaksa ijin pulang cepat dari kantor 1 jam sebelum bubaran jam 5 sore, kebetulan kantor saya dekat dari Rawamangun.
Bus Rosalia Indah kelas VIP dengan bangku 2-2 plus ada toilet dibelakang, terlambat 1 jam dari waktu yang dijadwalkan keluar dari terminal. Bus mampir sebentar jemput penumpang lagi di Cikarang, baru tancap gas ke peristirahatan bus selanjutnya didaerah Indramayu yang milik Rosalia Indah juga untuk makan malam. Disebelah saya, seorang Bapak, berangkat dari pool Ciledug pukul 10 siang, singgah dan menunggu di 2 tempat lainnya juga sebelum masuk terminal Rawamangun sekitar pukul 5 sore. Jalan macet dimana-mana katanya, kepala saya sudah pening sekali...walah!
Sekitar jam 9:30 malam, bus sampai di peristirahatan untuk makan malam. Menunya, sepotong ayam goreng, tahu goreng, sayur asem, kerupuk, dan sambal. Minumnya disediakan teh manis hangat. Lumayan dari pada gak makan trus jadi masuk angin..
Setelah makan, perut kenyang, tinggal tidur aja di bus sampai masuk wilayah Jogja. Pukul 5:30 pagi bus sudah sampai diterminal Giwangan Jogja, terlambat 1 jam dari yang biasanya, begitu kata bapak di sebelah. Buat saya, untung gak terlalu pagi sampainya...bisa digigitin nyamuk saya diterminal itu menunggu dijemput mas Mendung. Sebetulnya mas Mendung sudah wanti-wanti 2 jam sebelum sampai Jogja sudah menghubungi dia, biar dia bisa siap-siap. Tapi meneketehe 2 jam sebelumnya itu, bapak sebelahpun tertidur pulas kecapaian. Akhirnya setelah turun diterminal, ke toilet dulu cuci muka- gosok gigi, baru saya kontak mas Mendung. Ternyata dari Pundong, Bantul ke terminal Giwangan itu cukup jauh ya, naik sepeda motor sekitar setengah jam-an, itupun sepertinya dia ngebut dijalan. Sambil menunggu, yah ngopi susu dulu diwarung, enak juga...
Pukul 6:15 pagi, kami sudah meluncur naik sepeda motornya mas Mendung langsung menuju rumahnya. Berhenti sebentar di jalan raya Bantul untuk sarapan pagi, makan nasi, sayur lodeh, tempe oreg, telur dadar, dan kerupuk, hangat-hangat cuma 6 rb, itupun sudah termasuk teh manisnya (pesen teh hangat, yang datang teh 'manis' hangat). Sampai di Pundong, masuk ke desanya, suasana desa dengan bukit-bukit dikejauhan yang sedikit berkabut dan persawahan yang siap panen, menguning dikiri-kanan menyambut kami. Seperti berada didunia lain saja rasanya. Pagi-pagi, orang desa sudah keluar naik sepeda onthel menuju sawahnya masing-masing. Udara gunung masih sangat segar dan sejuk. Saya sampai lupa untuk ambil foto, saking asyiknya menikmati itu semua. Gak ada yang begitu kan di Jakarta!
Sampai di rumah mas Mendung, selonjoran dulu diteras rumahnya, eh dia langsung panjat pohon kelapa yang lumayan tinggi, langsung di kupas dan disodori ke saya. Si Mbok, maminya mas Mendung, begitu tahu saya datang, langsung kedapur dan goreng-goreng rempeyek yang rasanya garing dan enak sekali. Tidak seperti rempeyek umumnya, yang ini agak kembung padat hampir seperti bola. Makanan-makanan kecil lainnya dan teh manispun dihidangkan. Jadi tamu istimewa deh..
Rumah mas Mendung sudah berdinding tembok permanen berlantai keramik. Didalamnyapun ada televisi 21 inch, kulkas, dan kompor gas. Sudah sangat lumayan sekali-lah dibandingkan profesinya yang seorang tukang becak di Jogja. Istrinya setiap hari bekerja di toko besi dan bahan bangunan di Pundong di jalan raya Bantul dengan upah harian 15 rb plus makan siang. Setiap hari, termasuk hari Minggu dia berangkat kerja kesitu. Mas Mendung punya 1 putri umur 4 tahun yang sudah sekolah TK, seumuran Timmy. Setiap hari berangkat sekolah sama ibunya, pulang sekolah dijemput ke toko bangunan dan menunggu disitu sampai sore kemudian pulang kerumah. Kemarin itu, saya cetak dan bawa foto bapaknya dengan becaknya. Putrinya kelihatan bangga sekali dengan profesi bapaknya itu, yang bisa menghidupi mereka sekeluarga. Kalau bro/sist main ke Jogja coba aja pakai jasanya. Dia gak suka mengeluh kok, dan CS (customer satisfaction) oriented banget. Dia biasa mangkal di depan mall di jl. Malioboro. Mas Mendung sendiri kalau lagi gak mbecak, dia bekerja di kerajinan furniture dan ukir-ukiran yang produknya diekspor sampai ke Eropa dan Amerika. Sebulan sekali, datang pembelinya wong londo itu untuk mengontrol dan melihat perkembangan pekerjaan mereka. Dia bekerja sebagai tukang ampelas disana. Pemilik bengkel furniture itu dulunya juga tukang becak di Jogja. Sering bawa turis londo, mau belajar, jadinya bisa bahasa Inggris. Mungkin customer kerajinan ukirannya sekarang ini, dulu pernah dia bawa keliling-keliling Jogja naik becak. Mas Mendung sendiri susah belajar bahasa Inggris katanya angel eh!!
Setelah panen, biasanya banyak acara perkawinan yang nanggap wayang kulit. Dia juga kadang berprofesi sebagai pemain gamelan wayang kulit kalau lagi ramai pentas. Walah, bisa aja dia...
Didesa itu, profesi penduduk umumnya adalah buruh tani, buruh bangunan, dan tukang becak! Itu saja katanya. Tapi sebagian saya lihat ada juga yang pelihara ternak sapi (katanya sapi metal!), juga kambing, itik dengan sistem bagi hasil (itu ternak titipan, alias bukan kepunyaan sendiri). Ada juga yang ambil cabai, melinjo, dsb ke gunung, kemudian diolah menjadi emping untuk dijual. Apa ajalah dikerjakan, yang penting hidup! Saya dibujuk untuk membeli sapi kemudian dititipi ke meraka, ke tetangga depan mas Mendung karena mas Mendung sendiri gak pandai pelihara sapi katanya. Harganya sekarang lagi turun pak, sekitar 6 jutaan perekornya. Nanti, kalau beranak, anaknya dibagi dua. Nah lho, maksudnya nanti ditunggu sampai anaknya ada 2 baru kemudian dibagi-bagi. Saya gak terlalu tertarik, jadi gak tanya-tanya terlalu detail. Lagi pengen cari onthel lawas aja disitu...
Habis nge-tea dan makan cemilan, saya mandi dirumahnya. Wuih, airnya dingin dan seger banget...katanya itu air gunung yang ditampung diatas dan didistribusikan melalui selang-selang kerumah penduduk dibawahnya. Saya mandi 3x dirumah itu dan selalu berlama-lama guyur air yang dingin segar bukan main. Setelah mandi, ready for hunting sepeda onthel deh...

Pertama, diajak kerumah temannya yang sesama mbecak, rumahnya sudah dekat ke perbatasan Jogja. Wah, mondar-mandir dong...ya udah, karena itu teman mangkalnya di Jogja, saya mengerti dan ngikut aja. Yang ditawarkan merk Batavus, tapi sebagian besar komponennya sudah gak original lagi. Penawarannya pun cukup tinggi, 2.5 juta. Katanya untuk bayar biaya sekolah anaknya...sayang saya tidak tertarik dengan onthelnya.
Karena mahal, dan banyak yang gak orisinil, saya gak tertarik dan menolak halus. Jadinya ngobrol-ngobrol aja. Ternyata waktu gempa Jogja tempo hari, istrinya meninggal tertimpa tembok rumahnya yang runtuh. Banyak penduduk yang meninggal dikampungnya waktu gempa itu. Rata-rata semua bangunan roboh, hampir tidak ada yang berdiri tegap lagi. Itu karena tembok bangunan disana saat gempa hanya dibuat dari campuran tanah liat tanpa semen sama sekali, sehingga tidak kuat menahan guncangan gempa yang cukup besar saat itu.
Tidak jadi beli, kami kembali ke rumah mas Mendung, cari disekitar rumahnya. Ada beberapa yang sudah dia prospek sebelumnya, termasuk satu onthel cewek (oma fiets/dames) merk Gazelle milik tetangga depan rumah yang juga mau dijual untuk biaya anak sekolah.
Keliling-keliling, akhirnya dapat sepasang onthel merk Ottovus opa fiets/heren (cowok) dan Gazelle oma fiet tadi yang setelah ditawar dikasih seharga 750 rb. Sebelumnya mas Mendung sudah kasih bocoran, tetangganya itu lagi butuh duit, jadi bisa ditawar sampai mentok kalau mau katanya, hehe... Yang opa fiets, karena kondisinya agak bagus dapatnya 1,15 jt. Begitulah, sudah dapat 2 fiets, cukuplah... Sisa waktu yang ada dipakai untuk ngobrol-ngobrol sampai sore, sambil menunggu istri dan anaknya pulang. Eh begitu mereka pulang, ngobrol-ngobrol lagi sampai kesorean. Cek jadwal spoor, wah gak taunya sudah terlambat! Saya pikir kereta Senja Utama dari Jogja berangkat pukul 20:00, gak taunya jam 6 sore. Ada juga katanya kereta ekonomi yang berangkat sekitar jam 9 malam, wah gak tahan deh, pasti berhenti di setiap desa atau kelurahan yang dilewati...bisa berabe! Ya udah, setelah dibujuk mereka, akhirnya saya "ngikut" lagi deh menginap di rumahnya. Oya, sebelumnya tadi juga sudah sempat round-round beli tas kulit untuk onthel disentra kerajinan kulit "Manding". Urusan sepeda beres. Besoknya saya titip sepeda untuk sedikit diperbaiki dan minta tolong untuk dipaketkan ke Jakarta. Saya sebelumnya sudah googling jasa kurir disekitar Bantul, dapat harga pengiriman Rp 125 rb per-onthelnya, sehari bisa sampai.

Dirumah mas Mendung, kami ngobrol-ngobrol lagi sampai malam. Mas Mendung cerita kalau istrinya sehari sebelumnya sudah kalang kabut mau masak apa dirumah menjamu saya. Kami makan malam indomie rebus dengan telor bebek. Mas Mendung punya 7 ekor itik, 1 jantan dan 6 betina. Setiap hari itik itu bertelur 4 sampai 5 butir. Telur itu hanya untuk konsumsi mereka saja setiap harinya. Itik-itik hanya diberi makan kangkung dari ladang dan sisa-sisa nasi saja, tanpa membeli makanan ternak, jadi gak ada biaya khusus untuk itik-itiknya. Asik juga pelihara bebek ya...
Malam itu, tetangga pada berdatangan bawa makanan kecil dan goreng-gorengan. Dengan kopi tubruk panas, nikmat juga jadinya... Mereka bercerita, sewaktu gempa, semua rumah roboh, tidak ada satupun yang berdiri tegak! Istri mas Mendung waktu itu sedang mengandung 9 bulan. Gempa terjadi di pagi buta, masih gelap, dan betul-betul gelap gulita setelah semua bangunan roboh. Karena isu tsunami (desa itu sangat dekat dengan pantai Parangtritis), mereka berbondong-bondong naik ke gunung dan menginap disana. Waduh, bisa dibayangkan kalau lagi hamil 9 bulan... apalagi katanya malam setelah gempa, hujan turun dengan sangat derasnya.
Tetangga mereka ada yang punya anak bayi, meninggal karena terlalu banyak mengirup debu dari reruntungan bangunan. Pasca gempa, kemudian didirikan tenda dilapangan-lapangan. Orang-orang berebut makanan yang dibagikan. Saking gak sabar lagi, nasi setengah matangpun dibagi-bagikan. Serasa makan beras mentah katanya.
Banyak sekali bantuan dari lembaga asing datang dengan cepat. Istri mas Mendung sempat dibawa ambulance bantuan dari Australia, dengan team medicalnya orang bule semua. Tapi setelah diperiksa gak ada masalah, dikembalikan lagi ke tenda penampungan. Disitu panas sekali katanya, tapi gak ada yang berani kembali ke bangunan-bangunan setengah roboh untuk berteduh. Tetangga depan mas Mendung yang saya beli onthel Gazelle damesnya, hampir saja kejadian. Waktu rumahnya roboh, kayu tiang atap rumah yang besar itu hanya sejengkal saja jatuh dari kepalanya saat ia tidur. Begitulah cerita gempa disana waktu itu...

Saya salut juga dengan mas Mendung ini, dia narik becak sambil membiayai keluarganya, juga membiayai adiknya sekolah sampai lulus sekolah kejuruan. Dia sendiri hanya sampai lulus SD, kemudian bekerja membantu orang tuanya yang tukang becak juga. Adiknya itu akhirnya bisa bekerja di pabrik Panasonic di Batam, dan pernah beberapa bulan dikirim training ke Jepang. Tapi sayangnya pabrik Panasonic di Batam tutup. Adiknya itupun pulang kembali ke Bantul bekerja serabutan, gak bisa membiayai adik dibawahnya lagi seperti impian mas Mendung karena sudah bekeluarga juga.
Dapat bantuan dari pemerintah, dan meminjam dari bank (cicilan perbulan Rp 400 rb), mas Mendung kemudian membangun rumahnya itu sampai kondisinya seperti ini, cukup bagus dan rapih. Rumah dibangun dengan gotong royong penduduk disitu secara bergantian. Mereka hanya membayar 1 orang tukang saja yang mengerti mengenai seluk beluk konstruksi bangunan.
Cerita lainnya lagi, ternyata pemilik toko besi dan bahan bangunan tempat istri mas Mendung bekerja itu, suaminya kerja di perusahaan perminyakan offshore di luar negeri, sekarang lagi di laut dekat perbatasan Pakistan - India. Lulusan UPN jogja jurusan perminyakan. Kalau pulang katanya bawa uang segini, sambil menunjukkan tinggi dengan telapak tangan ukuran dari lantai sampai kira-kira 30 cm. Mereka biasanya langsung membeli saham dan surat-surat berharga, nilainya sudah M-M.an katanya...wah, hebat juga ya... Sayang, si suaminya yang kerja di minyak itu pelit, malah masih mending istrinya katanya. Padahal dulu waktu kuliah di UPN, katanya dia juga susah ngonthel sepeda dari Bantul sampai Jogja PP setiap hari. Sepeda onthel saya aja digowes mas Mendung dan tetangga depannya itu dari rumah sampai ke tempat paket kurir kira-kira 2 jam-an. Itu cuma sampai perbatasan Bantul - Jogja lho, tempat kantor kurir itu.
Setelah menginap semalam, besok paginya setelah sarapan pagi dengan nasi, beberapa potong ikan, dan dadar telor bebek lagi, saya diantar mas Mendung ke stasiun Tugu untuk pulang ke Jakarta numpak spoor Fajar Utama jam 8 pagi, tiketnya Rp 120 rb. Malam sebelumnya saya sudah ditawari untuk bawa macam-macam untuk oleh-oleh pulang; ketela, cabai, melinjo, gula merah.. semua saya tolak, karena malas bawanya, kan berat..! Eh, sampai dirumah malah diomelin bini, katanya kenapa gak bawa cabai, sekarang harganya 60 rb sekilo tau! Hehe...

Spoor Fajar Utama tepat waktu berangkat jam 8 pagi. Tapi ternyata kereta bisnis itu sudah tidak layak dibilang kereta bisnis. Lebih tepat disebut kereta ekonomi rakyat jelata. Hanya 1 stasiun perhentian selepas stasiun Jogja, pedagang-pedagang pada masuk dan berisik menawarkan dagangannya. Itu berlangsung terus sampai ke Jakarta, pedagang-pedagang itu naik turun silih berganti. Disatu stasiun kecil sebelum Purwokerto, kereta berhenti mengangkut kira-kira 15 karung besar Melinjo. Ditaruh di gang-gang gerbong penumpang. Hehe.., para penumpang dan pedagang bersungut-sungut karena harus melompati karung-karung melinjo itu kalau mau lewat. Bapak disebelah saya bercerita, kereta sekarang memang sudah kayak bus saja. Berhenti menaikan atau menurunkan penumpang dimana saja ada penumpang mau turun atau naik. Bahkan ditengah sawah sekalipun, bukan di stasiun yang selayaknya. Itu terbukti benar, ditengah sawah setelah melewati stasiun Cirebon, kereta tiba-tiba berhenti (sampai berhenti kira-kira 4 atau 5 detik!), dan saya lihat ada bapak-bapak yang meloncat turun. Gak sampai 30 detik kemudian, kereta berhenti lagi. Ternyata si-ibu dan anaknya ketinggalan dikereta, gak berani meloncat karena kereta sudah mulai bergerak lagi.
Oya, 15 karung melinjo tadi, entah ada yang melaporkan atau gimana, tiba-tiba saya lihat ada polisi dikereta yang ribut-ribut dengan pemiliknya. Ketemu stasiun kecil berikutnya, kereta ngerem dan berhenti. Si polisi, dan ibu-ibu pemilik melinjo turun menghadap kepala stasiun. Entah apa yang mereka bicarakan, sekitar 8 menit kemudian, kereta bergerak kembali tanpa ada satupun karung itu yang diturunkan. Belakangan di stasiun Cirebon, karung-karung itu turun. Lucunya, beberapa ratus meter sebelum masuk stasiun Cirebon, kereta berhenti dan semua pedagang yang ada dikereta serentak turun kemudian keluar menuju ke jalan raya melalui gang-gang sempit disitu. Memang beberapa ratus meter sebelum stasiun, jalan agak membelok tajam kekanan, jadi orang-orang di stasiun tidak akan bisa melihat pergerakan kereta sebelum masuk stasiun, apakah kereta sempat berhenti atau jalan terus.
Bapak disebelah saya yang rutin bolak-balik Jakarta - Jogja (karena keluarganya tinggal di Jogja, sedangkan dia sendiri bekerja di Jakarta dan tinggal di Bekasi) menjelaskan memang selalu seperti itu. Jadi para pedagang itu ada yang mengkoordinir. Masing-masing bayar Rp 1000,- untuk diserahkan ke masinisnya, sehingga mereka bisa naik turun dimana saja. Karena di stasiun Cirebon pemeriksaan lebih ketat, mereka jadinya turun ditikungan itu... hidup PT. Kereta Api!

Saya cerita ke bapak sebelah, kalau saya pernah naik kereta Shinkansen di Jepang dari Osaka-Tokyo yang jaraknya 515 km, ditempuh dengan waktu 2 jam 25 menit dan relatif presisi alias gak melenceng 1 menitpun waktu tempuhnya. Disana tidak ada satupun pedagang didalam kereta, begitu juga di kereta kampungnya (densha). Bentuk kabin Shinkansen, mirip sekali seperti kabin pesawat terbang. Sedangkan kereta biasa (densha) persis seperti kereta bisnis Jakarta-Bogor (Pakuan), yang memang bekas densha dari sana. Tapi kondisi semua kereta di Jepang bersih dan rapih, gak ada kaca yang pecah atau jendelanya gak berfungsi kalau ingin dinaikkan ke atas seperti jendela di kereta Senja Utama itu.
Spoor Fajar Utama yang saya naiki waktu itu menempuh jarak yang gak jauh berbeda, 517 km. Berangkat jam 8 pagi, sampai di stasiun Senen Jakarta pukul 5:40 sore, artinya lama perjalanan adalah 9,5 jam. Bedanya 7 jam lebih dibandingkan jarak yang sama kalau dengan Shinkansen... Kapan ya kita bisa punya Shinkansen?
Saya juga memperhatikan tingkah polah para pedagang itu. Ada yang jual makanan, ada yang menawarkan barang, diletakkan saja di pangkuan kita, maksudnya supaya kita bisa memperhatikan barang yang ditawarkan dan kalau tertarik akhirnya membeli. Dari Jogja sampai Jakarta banyak sekali barang-barang yang ditawarkan mulai dari makanan-minuman, sarung dan kopiah, buku-buku, alat pijit, sampai mainan anak-anak, juga amplop minta sumbangan. Lama-lama bete juga, ingin rasanya melempar barang-barang itu keluar dari jendela kereta. Ada juga tukang pijet yang menawarkan jasa disitu, dipijet dari lengan, tangan, bahu, kepala, dan kaki. Ada yang menyapu sampah dari ujung ke ujung. Setiap 2 meter dia berhenti meminta sumbangan ke para penumpang. Ada yang jual buah-buahan hasil alam, seperti sirsak, nanas, nangka utuh, pisang tanduk, pepaya, ubi /singkong, dan sebagainya. Ada juga yang ngamen menghibur para penumpang :-(
Para pedagang beradu keras suara menawarkan dagangannya. Yang lucu lagi, ada yang bawa penyemprot ruangan rasa norak dengan bau yang sangat tajam. Tiap 3 meter diisemprotkan ke penumpang, dan dia meminta duit sumbangan. Luar biasa kreatifnya orang Indonesia cari uang ya...
Huh.., akhirnya kereta terlambat 1,5 jam dari waktu yang sudah dijadwalkan tiba distasiun Senen, Jakarta. Sangat menyenangkan sekali naik kereta bisnis, eh kereta rakyat. Banyak pengalaman yang didapat! Hehe...

Keluarga mas Mendung.
Nama sebetulnya Riyadi, tapi orang dikampungnya panggil dia Mendung.

Membuat emping melinjo.

Katanya merk Ottovus heren buatan Belanda.
Dipasangin tas kulit dari sentra kerajinan kulit Manding, Bantul.






Gazelle dames buatan Belanda th 1940-an sudah melintasi jalan Thamrin juga.






1 comment:

balog said...

wah, cerita perjalanan yang asyik-habis,keren sepeda onthel jadul nya ngak ada habisnya,selamat beronthel ria
salam sama keluarga,
balog