Wednesday, August 14, 2013

Bisnis dan Wisata ke China

Sebetulnya trip backpacking kami kali ini adalah di akhir tahun lalu Desember 2012 hingga melewati minggu pertama Januari 2013, tapi setelah 8 bulan berlalu akhirnya baru sempat diposting disini..
Sibuk, ya begitulah.. sibuuk sekali..
Berawal sekitar 4 tahun lalu, kami cari-cari gift buat hadiah ulang tahun teman sekelas Lukas di sekolah yang akhirnya menjadi takdir kami seperti sekarang berlanjut menjalankan bisnis online menjual pernak-pernik / fancy yang unik - menarik. Ya, sejak itu sampai sekarang tak disangka bisnis online kami perlahan mulai dikenal dikalangan penggemar / kolektor barang-barang fancy di Indonesia lho..
Papilukas Store mulai menguras waktu dan tenaga sehari-hari. Ternyata bisnis seperti ini butuh mental dan kemauan, visi dan intuisi yang kuat supaya dapat bertahan dan berkembang ke depan.. apa sih..?! hehe..
Waktu habis. Senin-Sabtu badan bekerja hingga sampai jam 12 malam tiap harinya, sering kali hingga larut sampai subuh jam 4 pagi. Setengah tujuh pagi saya harus antar anak-anak ke sekolah dan berangkat kerja kantoran lagi, begitu terus in 5 days a week. Pulang kerja, lanjut kerja rumahan ini.. Maminya anak-anak pun sudah tidak punya waktu untuk memasak di rumah, rumah berantakan seperti kapal pecah, sudah seperti gudang! Ya, sementara ini masih kami handle sendiri, belum ada asisten, hehe..
Tapi kerja keras berbuah hasil. Side job jadi main job, begitu juga tentunya dengan penghasilannya. Iya dong.. Tidak ada satu hari pun yang kosong untuk aktivitas Papilukas Store, paling tidak dalam 1 tahun ini - kecuali di hari Minggu atau kami meliburkan diri karena liburan ceria keluarga ke luar kota.

Dimulai dari mendapat pasokan barang dari sentra-sentra grosir di Jakarta, akhirnya saya memutuskan harus nekat menghadapi segala resikonya untuk mencari items barang dagangan langsung dari sumbernya di China mainland sana. Hasil riset kecil saya menyimpulkan bahwa resikonya sangat besar. Orang China daratan (mainland) sangat tricky, sangat beresiko untuk di tipu. Harus punya channel dulu, harus bisa bahasa lokal / mandarin atau menyewa jasa interpreter bahasa, harus berkantong tebal, harus mengenal medan (paling tidak sudah pernah beberapa kali ke sana), harus tahu dimana sumber barang yang diinginkan / dicari, pembelian harus dalam kuantitas besar per item nya, bagaimana metode pembayaran & shippingnya, dsb..
Waaah, berabe deh.. Jangan mau cari untung malah jadi buntung. Mana modalnya cuma ada dengkul doang lagi.. yang hanya bisa di bawa-bawa jalan kesana-kemari muter-muter, hehe..
Bicara modal, itu relatif ya.. Ada yang bilang kalau sudah bisnis langsung ambil barang ke China berarti paling enggak skalanya sudah besar hingga level milyarder. Nah, saya bisa bilang kalau begitu saya lah salah satunya yang modal dengkul berani ambil barang langsung ke China, hehe..

Tiket 5,6 jt untuk 4 orang penerbangan pp Jakarta - KL - Guangzhou, dan Hongkong - KL - Jakarta saya ambil setahun sebelum keberangkatan, tiket promo Air Asia lah..
Saya ada 1 tips untuk masalah tiket ini; kalau bisa ambil flight yang connecting langsung ke tujuan (walaupun ada transit). Seandainya ada jalur yang lebih murah tapi tidak connecting (port to port), sebaiknya jaga jarak waktu terbang berikutnya minimal selama 6 jam. Pengalaman saya saat berangkat kemarin pesawat Jakarta-KL delayed hampir 2 jam. Padahal penerbangan berikutnya dari KL-Guangzhou dalam rentang 3,5 jam kemudian. Tiket KL-Guangzhou saya hangus! Padahal saat mendarat di LCCT-KL, saya cek dan lihat sendiri pesawat yang akan ke Guangzhou itu masih belum berangkat, masih ada di landasan parkiran. Kami tidak diijinkan check in karena waktunya sudah sangat mepet untuk pengurusan boarding, bagasi, juga imigrasi. So, tiketnya hangus. Tidak ada penggantian ke flight berikutnya, hangus begitu saja walaupun sudah setengah mati berdebat.. Jadi kami beli tiket penerbangan berikutnya. Mungkin sudah lebih dari 50 kali saya terbang dengan Air Asia, pertama kalinya dapat pengalaman seperti itu. Ternyata mereka tidak mau bertanggung jawab. So, sebisa mungkin jangan naik Air Asia.. seandainya terpaksa, tips saya tadi mungkin bisa berguna untuk berjaga-jaga..

Biaya pengurusan visa 500rb per paspor single entry, kami urus sendiri di kedutaan China di Jakarta. Saya tidak bisa bahasa mandarin begitupun rombongan lenong yang saya bawa, lets get lost.. ngirit gak usah sewa jasa penunjuk jalan & interpreter segala. Total perjalanan kami menghabiskan waktu 18 hari sejak berangkat hingga sampai dirumah kembali, bisnis sekaligus wisata ke Guangzhou, Shenzhen, dan Hongkong. Tepatnya 5 hari di Guangzhou, 4 hari di Shenzhen, dan 8 hari di Hongkong.

Guangzhou merupakan kota sentra wholesale / grosir dunia yang berada di selatan China, dekat dari Hongkong. Merupakan yang terbesar kedua setelah Shanghai / Yiwu di bagian utara. Semua produk barang-barang yang diproduksi di seantero China di suplai dan diperdagangkan di sini selain juga Yiwu tadi. Jadi sebetulnya kalau kita bisnis kesana, kita tidak mendatangi pabrik pembuatnya langsung, tapi berhubungan dengan agen-agen atau distributor pabriknya yang berada di sentra wholesale itu. Pembeli dari seluruh dunia datang kesini mencari-cari produk yang menarik dan visible untuk dipasarkan di negaranya masing-masing. Prakteknya persis seperti orang-orang afrika yang saya lihat membeli barang di pasar grosir Tanah Abang di Jakarta. Lihat, pilih, tawar, bayar, trus shipping melalui freight forwarder yang dia tunjuk. Kalau sudah biasa dan lancar / sudah berlangganan dengan supplier di grosir itu, selanjutnya repeat order bisa dilakukan lewat email saja. Begitulah prinsipnya..
Dikota-kota seperti Guangzhou, Shanghai, atau Yiwu itu secara berkala, biasanya 2 kali dalam setahun diadakan expo (Canton Fair) produk-produk tertentu dari seluruh daratan China yang dipamerkan di ajang tersebut, seperti textile dan turunannya (pakaian), toys, elektronik, tools, peralatan rumah tangga, barang-barang fancy, dsb. Bisa dikatakan semua barang ada dan diperjual belikan di kota pusat perdagangan China itu, mulai dari jarum jahit sampai traktor!
Jadi pada saat expo, kita bisa melihat bermacam-macam barang yang dipamerkan sesuai thema-nya, misalnya tekstil; semua jenis pakaian dari katun, bahan kaus, retsleting, tas-tas, topi, dsb. Kita bisa berhubungan dengan produsen / pabriknya (untuk transaksi skala super) disitu, atau juga berhubungan dengan agen / distributornya untuk skala reseller grosir. Jadi semua dikumpulkan di arena expo, kita tidak perlu berkeliling kota mencari jarum di dalam tumpukan jerami menjelajahi kota Guangzhou yang besar dan luas itu.. Semua produk dan produsen, atau agen-agennya berada di satu tempat, expo. Kita bisa memilih mau cari kualitas yang level mana; rendah, sedang, atau premium berikut dengan pilihan alternatif para kompetitor produsennya masing-masing (macam-macam merk). Ada harga ada barang, kita yang pilih mana yang cocok untuk dipasarkan di negeri masing-masing. Konon katanya tidak cukup waktu 1 minggu untuk melihat dengan detil semua produk-produk yang dipamerkan di expo, saking besar dan luasnya expo itu. Ajang expo / Canton Fair ini juga banyak dipakai operator biro perjalanan untuk menggaet para peminat bisnis yang ingin langsung mengambil barang ke China tapi masih belum punya pengalaman. Travel agent akan mengguide kunjungan ke sentra-sentra wholesale (pusat grosir) yang lain selain event expo sesuai keinginan customer, misalnya ke pusat grosir sepatu. Oya, banyak juga mahasiswa Indonesia yang belajar disana nyambi menyediakan jasa tour guide ke sentra-sentra grosir sekaligus sebagai intrepeter bahasa dan quality check barang bila ada transaksi. Nanti mereka yang mengurus dan cek barang sebelum dikirim ke gudang pembeli.

Saya datang bukan pada saat ada expo, karena saat musim expo katanya harga hotel-hotel bisa naik melambung 2 kali lipat dari tarif normal. Saya datang di bulan Desember saat musim dingin untuk tujuan wisata, eh bisnis.. eh wisata.. hmm bisnis juga kali ya.. hehe..
Yah, dengan kocek modal dengkul, dana sudah disiapkan untuk cari barang bisnis online Papilukas Store. Kalau tidak memungkinkan, gak mau dipaksakan juga lah.. tinggal isi waktu jalan-jalan aja bersama grup lenong bocah, backpacking di China..
Tapi kami diberikan kesempatan, jalan diberikan, barang datang (sea freight) sampai rumah persis seperti saat dealing. Bisnis lancar, puji Tuhan..

Guangzhou berada di provinsi Guangdong, merupakan kota terbesar ke-3 di China setelah Shanghai dan Beijing. Juga merupakan yang terdekat jaraknya dari rumah kami di banding yang 2 disebutkan tadi. Jadi urutannya kalau terbang dari Jakarta terus ke arah utara China, setelah 4 jam ketemu Guangzhou dulu, trus terbang sekitar 2 jam lagi baru ketemu Shanghai, trus terbang sekitar 2 jam lagi baru deh sampai Beijing. China daratan itu sangat luas sekali ya..
Saya sebetulnya bermimpi bisa bawa anak-anak untuk bermain salju di Beijing, menjelajahi wisata kuno-nya, dan pergi ke great wall of China. Saya juga ingin sekali berkunjung ke Shanghai, kota terbesar di China (tidak ada saljunya ya..). Sempat terpikir untuk mencoba high speed train dari Guangzhou ke Shanghai, tapi tiketnya lumayan mahal.. tiket promo penerbangan ke Shanghai juga tidak bisa saya dapat. Alih-alih mau berbisnis, nanti uang malah habis di jalan, bisa gak jadi deh cari barang.. Ya, mudah-mudahan bisnis lancar terus ya.. next time janji mau bawa-anak-anak ke negeri yang ada saljunya, hehe..

Suhu musim dingin di Guangzhou-Shenzen-Hongkong paling minim adalah 7° Celcius di malam hari dan paling hangat adalah 21° C pada siang hari. So, sebelum berangkat perlu disiapkan jaket atau sweater minimal untuk anak-anak saja karena sesampainya disana kita bisa pilih sepuas hati bermacam-macam model pakaian musim dingin yang harganya jauh lebih murah dibandingkan harga di Jakarta (Indonesia). Jangan menghabiskan banyak dana yang tidak perlu untuk cari-cari pakaian musim dingin di mal-mal di Jakarta!

Lansekap kota Guangzhou kira-kira sama dengan kebanyakan kota-kota besar lainnya, rata tidak berbukit-bukit. Ada sisi kota modern dan ada juga sisi kota tuanya. Menurut saya kota ini sebetulnya bukan untuk tujuan turis wisata. Tidak banyak obyek-obyek wisata disana. Ada beberapa temple, wisata malam sepanjang pearl river, taman Yuexiu (Yuexiu Park), Sun Yat Sen memorial hall, zoo, beberapa museum, yah sepertinya itu saja..
Kota ini adalah kota bisnis! Dimana-mana, hampir di setiap district ada pusat grosirnya. Biasanya dalam 1 gedung grosir menjual produk yang hampir sama, misalnya pakaian dalam. 1 gedung grosir pakaian dalam di setiap lantai ya hanya menjual produk sejenis itu saja; bra, cd, lingerie, kutang, baju tidur, dan pernak-pernik sekitaran itu. Rata-rata toko di pusat grosir itu adalah factory outlet. Jadi bisa dibayangkan 1 gedung dengan ratusan toko (bahkan mungkin ribuan) hanya menjual produk pakaian dalam dari lantai dasar hingga lantai paling atas (bisa di atas 10 lantai).. Berarti produsennya (pabriknya) banyak sekali ya.. Ratusan bahkan ribuan merk! China gitu lho..
Oya, kalau mau, kita juga bisa bikin merk sendiri.. Kita ambil produk dengan template yang sudah ada (bisa juga divariasi disain sendiri), kemudian kita tempel merk kita sendiri. Everything about copy right is easy there.. Pabrik-pabrik disana juga kan macam-macam. Ada yang skala besar, tapi ada juga yang skala home industry. Semua bisa diatur asal harga cocok.. Di dekat-dekat pusat grosir itu banyak outlet khusus yang membuka usaha disain merk, membuatnya, dan menempelkan ke produk yang kita beli. Apa mau kita hayoo.. cling.. jadi deh..!!
Tapi tetap harus hati-hati ya bisnis disini, banyak juga yang tricky. Misal kita mau order 5 warna, bagaimana kalau yang datang hanya 1 warna saja padahal dalam kuantitas besar sebutlah 5000 potong. Bisa saja itu stok sisa mereka yang tidak laku. Mau dikemanakan barang dengan komposisi begitu..?! O.. itu masih mending, banyak juga yang kirim barang reject. Reject dari pabriknya, ditampung oleh agent nakal yang buka toko di pusat grosir itu.. Barang yang di display tentu adalah yang normal. Harga yang di tawarkan lebih miring dibanding outlet lainnya. Kita bayar dimuka, barang tetap dikirim. Tambah kerjaan lagi baru bisa kita jual kembali, iya kalau masih bisa di repair.. kalau enggak gimana? Mau komplain? Komplain kemana..?! Telan aja mentah-mentah..
Disana memang surganya produk murah. Apa saja ada; you say it.. cling.. ini dia... :-))
Tapi tidak semudah itu ternyata.. Perlu intuisi / insting bisnis yang kuat. Puji Tuhan, saya lancar-lancar saja.. belum pernah kejadian parah, semua masih bisa dihandle hehe..

Di Guangzhou kami menginap di Guangzhou Yingshang Hotel (railway station branch), rate-nya Rp 2.035.000,- untuk 5 malam, booking via Agoda. Jadi per malamnya kira-kira 400rb ya.. tanpa sarapan pagi. Kamarnya cukup besar dengan 2 bed ukuran queen. Ada komputer dan sambungan LAN internet (sepertinya selama di China mainland saya tidak pernah bisa akses ke account Facebook saya..), juga TV dan kulkas. Air panas untuk mandi tersedia begitu juga dengan heater udara. Saat musim dingin heater lebih digunakan dibanding AC.. Menurut saya dengan kondisi begitu, harga kamar hotel di China relatif murah dibanding di Indonesia sekalipun. Oya, kasurnya rata-rata keras, sepertinya umum disana tidak menggunakan spring bed, tapi dipan / papan yang dilapisi latex saja. Sekilas bentuknya sih mirip dengan kasur spring bed lho..
Dari Baiyun Airport kami naik taksi sampai hotel dengan tarif argo 102 Yuan (sekitar Rp 130rb). Saya sodorkan 2 lembar pecahan 100 Yuan, eh yang selembar lagi dikembalikan karena si supir gak mau repot cari-cari kembaliannya, hehe.. Ya, kami belum punya recehan Yuan karena baru saja mendarat. 
Jarak antara airport ke hotel kira-kira sama dengan jarak dari Bekasi ke bandara Soekarno Hatta di Jakarta, kira-kira 1 jam perjalanan tanpa ada macet sama sekali melewati jalur tol dan jalan kota Guangzhou.
Lokasi hotel dekat dengan pusat grosir pakaian dalam, tekstil dan apparel (pakaian), jam tangan, dan sepatu. Mungkin masih banyak lagi disekitaran situ grosir untuk produk yang lainnya.. Hotel juga dekat dengan stasiun kereta api Guangzhou East untuk naik subway juga kereta cepat luar kota. Saya naik kereta cepat dari stasiun itu menuju kota Shenzhen, ticket fare-nya 80 Yuan untuk anak-anak dan 100 Yuan untuk dewasa.
Harga makanan di Guangzhou dan Shenzhen kira-kira sama, kalau bisa dikatakan Guangzhou lebih murah sedikit.. 1 porsi makan dengan lauk dan sayuran sekitar 10 Yuan. Cukup murah, tidak sampai Rp 15rb. Saat saya berangkat harga Renminbi (Yuan) saat itu adalah 1 Yuan = Rp 1.355,-
Kebanyakan restoran menjual daging babi sebagai lauknya. Tapi makanan halal banyak kok, seperti daging bebek, ayam, dan daging kambing (lamb). Banyak juga pedagang asongan muslim dari etnis perbatasan rusia yang menjual sate domba dan rusa di jalan-jalan. Untuk harga makanan, minuman, maupun buah-buahan di China relatif tidak mahal lah.. mungkin sama atau bahkan lebih murah dari harga warteg di Jakarta.
Orang China daratan sebetulnya relatif ramah dan cenderung lugu. Mereka exited bila bertemu orang asing. Mencoba berkomunikasi. Kira-kira sama lah situasinya saat saya sekolah tahun 80an - 90an ketemu turis bule di jakarta. Masih norak lah, hehe.. Saya cuma bisa ngomong hao (ya), chao (ambil, angkat, bawa pulang), dan sie sie (makasih), oya dan juga meifan (nasi).. Berasa deh kita jadi turis beneran di negeri orang. Saya pernah masuk pasar tradisional di wilayah perkampungan (apartemen) orang sana untuk cari-cari makan siang di bawa pulang. Semua mata mengarah ke kami. Saya antri beli makanan dan coba-coba chit chat dengan sesama pengantri, eh malah dia orang yang seakan-akan jadi penterjemah saya ke si pedagangnya. Dia juga jadinya ikut bungkusin apa yang saya tunjuk untuk dibeli, masukan ke kantong plastik dan disodorkan ke saya dengan senyumnya yang lebar, hehe..
Dilain sisi, ada juga kebiasaan jelek orang China daratan pada umumnya.. Hoeks, cuiih.. meludah, buang dahak sembarangan dimana-mana. Di jalan, di mal, bahkan di dalam restoran, walah..
Ada cerita dari relasi bisnis saya disini; papanya punya teman bisnis di china daratan sana. Satu saat si teman bisnis itu diundang papanya untuk jalan-jalan ke Indonesia. Mereka masuk satu mall elit di kawasan senayan, Jakarta. Keliling-keliling dari lantai 1 sampai ke lantai-lantai diatasnya. Sampai di lantai yang cukup tinggi di mall itu, tiba-tiba si tamu China daratan hoeeekss..cuiiihh... buang ludah dari lantai atas itu ke bawah, hehe..
Oya, mereka juga gak mau antri! Kalau bisa serobot, kenapa tidak.. kalau tidak kita palang, mereka akan nyerobot. Di palang, mereka freeze, eh lengah sedikit, mereka langsung nyerobot sambil nyengir, haha... Emangnya main game petak umpet apa..?!


Barang-barang pesanan yang baru diambil dari gudang.
Awalnya saya bingung, kenapa lorinya bisa jalan sendiri dan bisa di arahkan.. padahal jalannya bukan menurun, bahkan ada jalan yang menanjak tapi lori-lori pengangkut barang itu bisa tetap naik. Eh, ternyata itu dipasangi battery jadi seperti motor listrik aja kerjanya..

Ini juga bukan di tarik dengan tenaga manusia ya.. mana kuat dia tarik beban sebegitu banyak..


Parkiran truk-truk yang menurunkan barang masuk ke pusat grosir.

Panda di Guangzhou zoo.
Tiket masuk zoo 20 Yuan, anak-anak dan dewasa sama saja. Mami Lukas tanya ke petugas loket; berapa saya harus bayar tiket untuk saya dan 3 orang lagi yang berdiri disitu..? Petugas bilang, bayar untuk 3 orang saja. Hehe.. China beda dengan Jepang, Hongkong, atau Singapore yang lebih strict..
Luas zoo-nya mungkin hanya setengah luas bonbin Ragunan. Tapi binatang penghuni zoo sangat terawat jauh dibandingkan kondisi binatang di bonbin Ragunan. Hal yang membedakan dengan zoo di negara lain adalah Panda-nya. Ya, kami memang mau melihat panda secara langsung. Seperti apa sih sebetulnya, seberapa besar dia..

Kebab ala China.. kalau gak salah harganya 5 Yuan.

Air tebu, 1 botol ukuran 330ml seperti botol aqua paling kecil harganya 5 Yuan.

Pearl River



Didepan Shishi Sacred Heart Cathedral Guangzhou.

Ini dia titik pusat kota Guangzhou..
Guangzhou zero point, berada di tengah-tengah People's Park di Yuexiu district.
Di taman ini kalau malam banyak sekali aktivitas penduduk kota seperti bermain mahjong, catur, kartu, dan juga dansa-dansi. Kaum tua opa-opa dan oma-oma menari dansa, tango, ataupun cha-cha diiringi musik yang lumayan menggema ke seluruh taman (irama lagu mandarin). Ada beberapa kumpulan yang membuka arena masing-masing. Beberapa saya lihat berdandan lengkap dengan jas tuxedo dan dasi kupu-kupunya. Bersepatu licin mengkilap terpantul sinar lampu taman. Yang oma-oma gak kalah, berdandan dengan gaun atau pakaian yang cocok untuk berdansa. Asik sekali rasanya.. mereka sangat enjoy menggerakan kaki, putar-putar di arena dansa mengikuti irama. Bisa sampai 20 pasangan sekali turun di arena. Yang lebih muda juga membuka arena sendiri dengan gerakan lincah dan musik yang lebih cepat. Gak ada yang malu-malu.. sepertinya mereka malah tambah semangat bila ada yang menonton di pinggir arena. Selesai 1 lagu, pedansa dan penonton sama-sama tepuk tangan tak terkecuali saya. Putar lagu yang lain lagi, beberapa pasangan minggir, pasangan yang lain masuk arena langsung tune in menari ria, hehe..
Yang seperti ini saya temui tidak hanya di taman ini saja. Di semua taman-taman / lapangan kosong, dekat mal-mal di Guangzhou maupun Shenzhen sama saja seperti itu. Sekitar jam 7 malam biasanya aktivitas ini sudah dimulai. Satu kali pernah kami diajak bergabung masuk arena cha-cha. Mereka sangat ramah, bicara apa ke kami mengajak ikut menari saja dari pada hanya menonton dipinggir situ, ya mungkin begitu katanya..
Hebat ya budaya China sekarang ini.. sepertinya mereka lebih liberal dari yang kedengarannya.

Pasar malam dekat Beijing Lu (Beijing street). 
Merupakan pusat keramaian pasar malam paling terkenal di Guangzhou.
Coba perhatikan busnya..
Pakai energi listrik seperti kereta api komuter Jakarta - Bogor.


Perjalanan kereta cepat dari Guangzhou ke Shenzhen di tempuh dalam waktu 2 jam. Memasuki peron, saat pemeriksaan tiket, ibu-ibu penjaga disitu bicara yang saya gak mengerti sambil sekilas menunjuk ke arah anak-anak. Saya menebak-nebak, mungkin maksudnya buat apa kalian beli 4 tiket? Anak-anak gak perlu lah di belikan tiket duduk.. Ya, begitulah mungkin.. 
Sebetulnya kereta cepat itu masuk kategori bullet train, kecepatannya bisa hingga 300km/jam. Keretanya cukup bersih dan nyaman. Toilet, koridor, dan kursi-kursinya cukup bersih dan rapih. Tapi saya bingung, ada beberapa penumpang yang mencari-cari seat kosong untuk duduk. Lho, bukan kah sudah ada tertera di tiket? Hmm, sepertinya ya seperti itu.. keluarga yang membawa anak-anak hanya membeli tiket dewasanya saja. Anak-anak didudukan di tiket itu, dan yang dewasanya cari-cari seat kosong sampai ke gerbong-gerbong lain. Ya, begitulah..

Shenzhen adalah kota modern yang benar-benar baru dibangun hanya dalam waktu 3 dekade saja (30 tahun-an)! Berbatasan langsung dengan Hongkong. Shenzhen merupakan tempat dari industri high tech telekomunikasi di China. Orang-orang Hongkong banyak yang rutin berbelanja kesini walaupun sekedar untuk membeli susu bayi saja. Harga barang-barang jauh lebih murah dibanding di Hongkong. Dari Hongkong hanya menempuh waktu setengah jam saja sudah sampai. Orang Hongkong lebih bebas keluar masuk Shenzhen, sebaliknya orang China mainland sangat ketat diperiksa bila ingin memasuki Hongkong (tetap menggunakan paspor masing-masing, walaupun Hongkong sudah resmi masuk wilayah China).
Banyak properti, usaha, atau toko di Shenzhen yang dimiliki oleh orang Hongkong. Mirip seperti orang Singapore berinvestasi di Johor Bahru (Malaysia). Hanya selangkah jarak saja..
Untuk wisata, di Shenzhen ada Windows of the World (WOW), tempat miniatur bangunan-bangunan terkenal di dunia seperti menara eiffel, gedung opera sydney, piramid mesir, taj mahal, colloseum, dsb.
Ada juga Shenzhen Happy Valley, modern theme park seperti dunia fantasy (dufan). Ada lagi Splendid China, mirip dengan WOW tetapi hanya menampilkan bangunan-bangunan terkenal dari wilayah China saja. Terakhir, ada Shenzhen China Folk Culture Village, menampilkan budaya-budaya China, pertunjukan tari-tarian kolosal, dsb.
Tapi kami tak satupun berkunjung kesitu. Kami hanya jalan-jalan rileks menikmati suasana kota, pasar-pasar, kuliner.. ya begitulah, keliling-keliling saja. Oya, kami juga pergi ke Dafen, painting village. Satu tempat dimana para pelukis-pelukis dikumpulkan di satu wilayah. Ubud di Bali sangat terkenal sebagai tempat untuk mencari / membeli atau sekedar menikmati karya lukisan-lukisan yang menarik dan unik. Tapi disini, Dafen mungkin luasnya lebih dari 3 kali Ubud, penuh dengan galeri-galeri dan para pelukis memainkan kuas di atas kanvas. Hmm, lumayan buat pertunjukkan gratis dan pembelajaran buat anak-anak mengenali seni secara langsung. Bermacam-macam karya aliran seni lukis ada disitu, mulai dari naturalis, surrealis, kubisme, ekspresionis, abstrak, dsb. Semua ada! Banyak juga yang menjual replika lukisan-lukisan terkenal. Lukisan para pelukis terkenal seperti Picasso yang dicontek semirip mungkin dengan aslinya menggunakan cat minyak di atas kanvas, jadi seakan-akan bernilai tinggi.. Banyak juga lho penggemarnya, karena yang seperti itu sering saya lihat di beberapa galeri atau toko lukis dengan gambar lukisan yang sama.

Kami juga cari-cari barang yang bisa dibawa hand carry dari sini yang bisa untuk di jual online nantinya. Ternyata harga-harga di Shenzhen sudah terkontaminasi orang-orang Hongkong, juga para turis yang sekedar menyeberang ke China dari Hongkong. Umumnya hampir untuk turis semua negara bisa masuk Shenzhen dengan menggunakan visa on arrival, jadi gak perlu ada stiker visa China dari negara asal di paspor, langsung datang aja ke Shenzhen, bayar visa, dicap imigrasi, boleh masuk deh..
So, harga-harga barang di Shenzhen kira-kira 20-40% lebih mahal dari harga di Guangzhou. Untung kami sudah banyak bawa barang hand carry dari Guangzhou. Ya, jadi nikmati suasana kota, udara, dan makanannya saja lah, enjoy sebelum menyeberang ke Hongkong..

Lukas di depan Shanshui Trends Luohu Hotel, Shenzhen.


Suasana Dongmen shopping street di Shenzhen.
Tempat belanja paling ramai dan murah di Shenzhen.

Japanese special twin room, Shanshui Trends Luohu Hotel - Shenzhen.
Ratenya Rp 1.170.000,- untuk 3 malam (sekitar 400rb semalam) sudah termasuk sarapan pagi untuk 2 orang, booking hotel via Agoda juga. Keluar dari Shenzhen railway station, sebetulnya tinggal jalan kaki gak terlalu jauh kesini. Paling jaraknya hanya sekitar 400 m saja. Hotelnya bagus, sarapannya lumayan. Dekat ke Luohu (orang Hongkong bilangnya Lo Wu), shopping plaza dan perbatasan / border point kalau mau ke Hongkong. Jalan kaki saja.. ya di sebelah Shenzhen railway station itu.. Kalau gak mau jalan kaki, dari hotel ada kok shuttle bus ke Luohu shopping plaza-nya, gratis. Tanya aja ke resepsionisnya..

2 b kontinyu...

4 comments:

Anonymous said...

Hello there, There's no doubt that your website could be having browser compatibility problems.
When I take a look aat your site in Safari, iit looks fine however,
if opening in Internet Explorer, it has some overlapping issues.
I just wanted to give you a quick heads up! Aside from that, excellent site!


my webpage - Tech Support Greenville

muhammad sigit aliudin said...

nice info gan, kalau mau ada yg murah ke cina saya udah coba pakai fiesta indonesia coba cek www.facebook.com/fiestaindonesia/

BAMSCAHYO said...

sangat menginspirasi.. jadi pengen kesana..
Jualan batik di cina laku gak ya ? http://tokobatikkeren.blogspot.com/

EXO addict said...

Hello sista, saya rencana mau grosie sepatu" china.
Bole minta alamat pusat" grosir yang ada di china?
Thanks