Wednesday, December 30, 2009

Pengorbanan dan Kesederhanaan

Janji kami bertemu dengan Susanto Nanda, mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Hyderabad, Senin, 30 November, batal. Sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam kami. Isinya: ”Pak, kami tak bisa ke kota karena jalan ke kota diblokir mahasiswa yang menuntut pemekaran wilayah”.

Unjuk rasa memang sedang terjadi di ibu kota Andhra Pradesh, Hyderabad, India bagian selatan, ketika kami sedang berada di Hyderabad untuk menghadiri Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia, 1-4 Desember 2009. Mahasiswa dari beberapa universitas berunjuk rasa. Salah satu isunya adalah pemekaran wilayah. Pada awalnya, unjuk rasa berjalan damai, tetapi beberapa hari kemudian, setelah kami meninggalkan Hyderabad, terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian.

Demonstrasi dengan kekerasan sering terjadi di India. Kekerasan komunal dan kekerasan politik seakan menjadi sesuatu yang lumrah terjadi di negara dengan populasi penduduk mencapai 1,2 miliar itu. Tayangan televisi internasional seakan menggambarkan betapa seringnya terjadi kekerasan di India.

Pembunuhan politik kerap terjadi. Bahkan, Bapak Bangsa India, Mahatma Gandhi, ditembak oleh Godse, 25 Januari 1948. Sebelumnya, 19 Januari 1948, Madan Lai, seorang pemuda Hindu, mencoba membunuh Mahatma Gandhi dengan bom, tetapi gagal.

Pembunuhan terhadap Mahatma Gandhi tak bisa dilepaskan dari sikap Mahatma Gandhi yang menentang pemisahan India menjadi dua negara. Sikap Gandhi yang menganjurkan orang Hindu dan Muslim saling mencintai dan hidup bersama dalam satu negara disalahmengertikan kedua kelompok sampai akhirnya Gandhi dibunuh.

Kekerasan terhadap elite politik di India masih terus terjadi. Indira Gandhi tewas tahun 1984 oleh para pengawal pribadinya. Tujuh tahun kemudian, mantan Perdana Menteri India Rajiv Gandhi tewas dalam ledakan bom pada saat kampanye pemilihan umum tahun 1991.

Ledakan bom di sejumlah wilayah di India sering terdengar. Aksi kekerasan yang akrab terjadi di negara demokrasi terbesar di dunia itu sering menghadirkan pertanyaan, apakah aksi kekerasan bukan merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita Bapak Bangsa India, Mahatma Gandhi, yang tersohor dengan paham pantang kekerasan (ahimsa).

Kekerasan memang akrab di India, termasuk negara lain di Asia Selatan. Meski demikian, demokrasi tetap diyakini mayoritas penduduk India sebagai suatu pilihan terbaik bagi India. Demokrasi diyakini kelompok kurang beruntung di sana sebagai sarana memperbaiki nasib. Meski kekerasan sering terjadi, kekerasan diyakini tidak akan langgeng. Mahatma Gandhi sendiri menulis, ”Pengalaman sampai sekarang menunjukkan bahwa kekerasan itu hanya membawa sukses jangka pendek”.

Ditemui Kompas di Chennai, ibu kota Tamil Nadu, Konsul Kehormatan Indonesia di Chennai, KJ Kumar, meyakini bahwa kekerasan tidak akan pernah menang di India. Ia pun mencontohkan pemberontak Tamil Eelam yang akhirnya juga menyerah.

Kontradiksi
India adalah sebuah negeri penuh wajah. Ada gemerlap Bollywood, tetapi ada pula wajah kemiskinan akut. Meski kekerasan politik sering berkecamuk, dan kemiskinan menjadi potret nyata India, negeri ini mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi spektakuler!

Bank Dunia mencatat angka pertumbuhan ekonomi di India terus meningkat. Dari angka 4 persen (tahun 2000), kemudian meningkat menjadi 9,4 persen (2005), turun ke 9,1 persen (2007), dan ketika krisis keuangan global terjadi India masih mampu tumbuh dengan angka 7,1 persen pada tahun 2008.

Pada tahun 2008, Bank Dunia memberi catatan positif terhadap India yang meraih kemerdekaan pada tahun 1947 itu. India tercatat sebagai negara yang terus mampu mempertahankan sistem demokrasi elektoral, meningkatkan secara dramatis tingkat baca, perbaikan pada aspek kesehatan publik, dan menjadi pemain dunia dalam bidang teknologi informasi, telekomunikasi, dan farmasi.

Gambaran besar soal India dalam angka dan statistik memang terasa berbeda dengan realitas nyata rakyat. Mengunjungi empat kota di India—Hyderabad, New Delhi, Agra, dan Chennai—kesan kebesaran India seakan tidak tampak. India yang banyak dipuji negara lain karena pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan, 7,1 persen! menurut Bank Dunia—ketika negara lain mengalami pertumbuhan negatif—memberikan gambaran berbeda.

Di Hyderabad, potret kemiskinan hadir dengan nyata. Gubuk tenda tempat sebagian besar warga miskin Hyderabad bisa disaksikan oleh siapa pun yang berkeliling kota yang baru saja menggelar Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia dan Forum Editor Dunia. Sudut kota Hyderabad begitu kumuh. Bau pesing begitu menyengat di sejumlah sudut kota. Infrastruktur jalan tidaklah mulus.

Meskipun terasa lebih baik, dalam sisi penataan kota, situasi serupa pun bisa dilihat di New Delhi, ibu kota India, dan Chennai, ibu kota Tamil Nadu, India bagian selatan. Di New Delhi dan Chennai, gubuk-gubuk tenda masih banyak dijumpai di halaman-halaman kota.

Kesenjangan ekonomi adalah sesuatu yang nyata di India. Jurang antara yang miskin dan kaya begitu besar. Lebih dari 600 juta penduduk India tergolong miskin. ”Ketika musim panas dan dingin, banyak orang miskin yang tak punya rumah meninggal karena suhu yang ekstrem,” ujar seorang mahasiswa Universitas Islam Aligarh di Agra.

Kumar mengakui bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebuah potret nyata di India. Namun, katanya, semuanya itu masih dalam proses. Pemerintah India terus berupaya menciptakan lapangan kerja untuk mengatasi problem itu.

India adalah negara dengan kompleksitas persoalan yang tinggi. Karena keberagaman yang begitu rupa dalam masyarakat India, seperti agama, wilayah, bahasa, kasta, dan ras, mengakibatkan munculnya partai politik dengan agenda yang beragam pula. Dampak negatif dari keberagaman yang ada dalam masyarakat India, serta kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi yang tercipta, karenanya mengarah pada dendam dan kebencian. Ini mungkin sumber utama dari kekerasan yang terjadi selama ini.

Adanya ajaran ahimsa (the avoidance of violence), yang mendasari perjuangan Mahatma Gandhi yang terkenal dengan Satyagraha (the insistence of the truth), dalam masa-masa perjuangan kemerdekaan India sampai sekarang masih dianut dan diyakini betul di India.

”Ini menunjukkan sebenarnya masyarakat India itu cinta akan kedamaian dan setia pada kebenaran. Itu sangat saya rasakan sebagai mahasiswa asing di Hyderabad sejak 2005,” demikian refleksi Susanto yang sudah hampir lima tahun tinggal di Hyderabad.

Setia di demokrasi
Duta Besar Indonesia untuk India AM Ghalib saat berbincang dengan Kompas di New Delhi mengemukakan, India ibarat seekor gajah yang melangkah perlahan namun pasti. Dari sisi jumlah penduduk, pesaing India adalah China. China sering diibaratkan sebagai pelari sprint yang membawa pertumbuhan ekonomi begitu cepat. Bedanya, India adalah negara demokrasi terbesar di dunia, sedangkan China adalah negara besar di dunia yang belum menganut paham demokrasi.

Kemajuan India di bidang ekonomi memang mencengangkan. Keputusan India menjadi tuan rumah Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia dan Forum Editor Dunia adalah juga sebuah keputusan berani. Kepercayaan diri adalah salah satu kata kunci untuk ”memasarkan” negara.

Sistem politik demokrasi amat diyakini oleh mayoritas rakyat India. ”Demokrasi India telah teruji,” ujar seorang diplomat di New Delhi. Politik pemerintahan India menganut parlementer federal multipartai.

Demokrasi diyakini oleh kaum yang kurang beruntung di India sebagai jalan memperbaiki hidup dan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Slogan yang sangat sering didengar ketika mahasiswa berdemonstrasi di kampus adalah: We want justice. Intinya, keadilan adalah hak semua orang.

India sering disebut sebagai sovereign socialist secular democratic republic atau sering diterjemahkan republik sosialis demokrasi sekuler. Kebijakan ekonomi ala sosialisme ketat diterapkan di India pada era 1947-1991. Model ekonomi India kala itu sering disebut sebagai sistem ekonomi Nehru, menempatkan perusahaan negara sebagai pendorong utama pembangunan ekonomi.

Sistem ekonomi sosialistis Nehru ini mengalokasikan anggaran negara dalam jumlah besar untuk sektor pelayanan publik, apakah itu kesehatan, pendidikan, ataupun kontrol terhadap harga kebutuhan pokok. Meski tingkat pertumbuhan ekonomi tidak terlalu besar, sekitar 4 persen, sistem ekonomi Nehru telah melahirkan kelas menengah India dalam tataran intelektual dan pengusaha yang mampu bersaing.

Manmohan Singh, doktor ekonomi Universitas Oxford, berperan besar dalam melakukan reformasi ekonomi di India. Singh pernah menjabat menteri keuangan pada masa Perdana Menteri Narasimha Rao. Singh melakukan reformasi birokrasi secara radikal dengan memangkas hambatan di birokrasi India dan pada akhirnya menjadikan India lebih terbuka.

Singh kemudian diangkat sebagai perdana menteri setelah Sonia Gandhi memutuskan menolak jabatan perdana menteri pada tahun 1994. ”Dia pemimpin saya. Dia tidak tergantikan,” kata Singh saat memberikan sambutan pada pelantikan dirinya sebagai PM India. Singh, keturunan Sikh pertama yang menjadi PM, mengaku kagum kepada Sonia.

Kebijakan ekonomi India telah menempatkan kelas menengah bisnis maupun kelas menengah intelektual siap menghadapi India yang lebih terbuka. Kesiapan sumber daya manusia adalah buah dari investasi besar India dalam sektor pendidikan. Cara hidup orang India yang simpel dan sederhana diyakini juga memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan India.

Faktor lain yang menjadi perekat harmoni sosial adalah keteladanan pemimpin India. Para pemimpin India tetap menggunakan mobil Ambassador buatan dalam negeri kendati negaranya mampu membeli mobil yang lebih mewah. Mereka, termasuk Presiden India Pratibha Devisingh Patil, menggunakan pakaian tradisional sari. Tak ada kemegahan kantor-kantor pemerintahan karena India lebih mementingkan fungsi.

Pengorbanan dari pemimpin India juga telah ditunjukkan oleh Sonia Gandhi saat dia menolak jabatan PM dan menyerahkannya kepada Manmohan Singh ketika latar belakang dirinya dipersoalkan oleh lawan politiknya. Sebagai Ketua Partai Kongres, Sonia mendukung secara politik kebijakan ekonomi PM Singh yang terbukti mampu membawa India ke jajaran bangsa-bangsa dunia.

Sikap Sonia yang menolak jabatan PM sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi bahwa kekuasaan politik bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya salah satu sarana yang memungkinkan rakyat memperbaiki nasib mereka dalam segala bidang kehidupan.

India yang majemuk berupaya mengatasi semua perbedaan yang ada padanya. Jender, bahasa, agama, kelas, kasta, telah dimasukkan dalam sebuah mesin politik dan muncul dengan identitas tunggal: India. Demokrasi membutuhkan sebuah partisipasi dan komitmen dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pemimpinnya. Ketika pemimpin memahami derita rakyatnya, India telah membuktikan bahwa kemiskinan sebagian besar rakyatnya menjadi penghalang terwujudnya demokrasi.
Bagaimana India di masa mendatang? Masih harus kita saksikan bersama, termasuk siapa yang akan menggantikan PM Manmohan Singh. India telah memberikan kesempatan kepada siapa pun, asal mempunyai kapasitas, untuk memimpin India. Seperti dikatakan Rahul Gandhi—yang disebut-sebut sebagai pemimpin masa depan India—dalam diskusi dengan mahasiswa Universitas Islam Aligarh, 8 Desember 2009, sebagaimana dikutip Deccan Cronicle, ”Manmohan Singh menjadi perdana menteri bukan karena ia orang Sikh, melainkan karena ia mampu mengatasi berbagai masalah di India.”

Sumber: KOMPAS, 29 Desember 2009

1 comment:

irma ardani said...

Lalu, bagaimana gambaran Hyderabad terkini? Adakah foto2 natural/ apa adanya wajah2 PendudukHyderabad? Masihkah kemiskinan menyelimuti mereka di tahun 2014 ini?